Oleh : Faicha Adilla M
Potret Retaknya Wibawa Guru di Hadapan Generasi yang Kehilangan Batas
LESINDO.COM – Di halaman sekolah, seorang guru masih dihormati. Namun di luar pagar sekolah, penghormatan itu perlahan memudar. Yang tersisa sering kali hanyalah seragam, tanpa kesadaran bahwa orang yang berdiri di hadapan mereka adalah pendidik yang tengah menjalankan tanggung jawab moral.
Peristiwa yang menimpa Muhammad Afdal (31), guru SDN 017 Balikpapan Timur, bukan sekadar perkara penganiayaan. Kasus ini membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam: lunturnya otoritas moral guru, melemahnya pendidikan karakter, dan munculnya budaya kekerasan sebagai jalan pintas menyelesaikan persoalan.
Teguran yang Berubah Menjadi Pengeroyokan
Siang itu, Selasa, 21 Juli 2026, Muhammad Afdal melihat seorang pelajar berseragam SMA mengendarai sepeda motor sambil merokok di Jalan Lapangan Tembak Lambada, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur.
Sebagai seorang guru, nalurinya bekerja lebih dulu daripada rasa takut.
Ia tidak memukul. Ia tidak merampas rokok. Ia hanya menyampaikan teguran lisan agar siswa tersebut tidak merokok saat masih mengenakan seragam sekolah.
Namun teguran sederhana itu justru dianggap sebagai penghinaan.
Menurut keterangan Kepolisian Sektor Balikpapan Timur, siswa tersebut membalas dengan nada menantang. Situasi sempat memanas sehingga Afdal memilih meninggalkan lokasi untuk menghindari konflik.
Masalah ternyata tidak selesai.
Siswa itu mendatangi keluarganya dan mengaku telah dipukul. Informasi yang kemudian masih didalami polisi itu memicu kemarahan sejumlah anggota keluarga dan teman-temannya.
Di lokasi lain, Afdal yang berniat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan justru menjadi korban pengeroyokan.
Ironisnya, semua bermula dari sebuah kalimat yang seharusnya menjadi bagian paling biasa dalam dunia pendidikan:
“Jangan merokok saat memakai seragam sekolah.”
Ketika Seragam Tinggal Simbol
Seragam sekolah selama ini dimaksudkan sebagai simbol disiplin, kesetaraan, dan identitas pelajar.
Namun dalam sejumlah kasus, seragam hanya menjadi pakaian luar.
Nilai yang seharusnya melekat di baliknya perlahan menghilang.
Fenomena pelajar merokok di tempat umum, berkendara tanpa aturan, tawuran, hingga melawan guru menunjukkan bahwa sebagian remaja tidak lagi memandang sekolah sebagai ruang pembentukan karakter, melainkan sekadar tempat memenuhi kewajiban administratif.
Mereka hadir secara fisik.
Namun secara mental, sebagian telah hidup dalam kultur yang berbeda.
Kultur jalanan.
Budaya yang mengajarkan bahwa harga diri harus dibela dengan kekuatan fisik, bahwa teguran dianggap penghinaan, dan bahwa masalah harus diselesaikan melalui intimidasi.
Dalam kultur semacam itu, guru tidak lagi dipandang sebagai pendidik.
Ia hanya dianggap orang asing yang “ikut campur”.
Pendidikan Karakter yang Tertinggal
Selama bertahun-tahun, sekolah dibebani target akademik.
Nilai rapor.
Kelulusan.
Prestasi.
Kompetisi.
Namun pendidikan karakter sering kali berhenti sebagai slogan di dinding sekolah.
Padahal karakter tidak lahir dari ceramah semata.
Ia tumbuh dari kebiasaan menerima koreksi.
Belajar meminta maaf.
Belajar mengendalikan emosi.
Belajar menghormati orang lain meski berbeda pendapat.
Jika seorang siswa tidak mampu menerima teguran sederhana, sesungguhnya yang gagal bukan hanya individu tersebut.
Ada mata rantai pendidikan karakter yang terputus.
Di rumah.
Di lingkungan.
Di media sosial.
Bahkan di sekolah.

