Oleh : Adreena AM
LESINDO.COM – Ada satu generasi yang tumbuh tanpa internet, tanpa telepon pintar, bahkan tanpa aliran listrik yang menerangi setiap sudut rumah. Mereka lahir pada dekade 1970-an hingga awal 1980-an, ketika malam masih benar-benar menjadi malam, gelap, sunyi, sekaligus indah.
Di kampung-kampung, ketika matahari tenggelam, cahaya bukan berasal dari lampu LED atau layar gawai. Yang menerangi ruang keluarga hanyalah lampu minyak tanah yang berkedip pelan, sementara halaman rumah diselimuti remang-remang. Jalan-jalan desa belum beraspal mulus, apalagi dipenuhi lampu penerangan. Namun, anehnya, orang-orang tak pernah benar-benar merasa kehilangan arah.
Langit menjadi penunjuk jalan. Hamparan bintang yang bertaburan seolah menjadi lentera alam yang tak pernah padam. Di sela rerumputan dan pematang sawah, kunang-kunang menari membawa cahaya kecilnya. Mereka bukan sekadar serangga, melainkan bagian dari kenangan yang kini semakin sulit ditemukan. Dalam gelap, mata belajar mengenali jalan, telinga belajar mendengar suara malam, dan hati belajar akrab dengan sunyi.
Rumah-rumah saat itu belum banyak memiliki televisi. Kalaupun ada, televisi tabung hitam putih menjadi barang mewah yang sering kali hidup berkat aki (accu). Tayangan hanya dinyalakan beberapa jam pada sore hingga petang. Begitu televisi menyala, anak-anak dari berbagai rumah berdatangan. Tak ada undangan, tak ada kursi yang cukup, tetapi semua rela duduk berdesakan di lantai demi menyaksikan film kartun atau acara favorit mereka.
Kebersamaan menjadi hiburan yang sesungguhnya.
Menjelang azan Magrib, tak perlu ada perintah dari orang tua. Seolah sudah menjadi kesepakatan yang tak pernah ditulis, anak-anak segera berlari pulang mengambil sarung, lalu bergegas menuju surau. Selepas salat Magrib, kampung berubah menjadi ruang belajar yang penuh kehidupan. Dari berbagai sudut terdengar suara anak-anak melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Lantunan itu terbawa angin malam, berpadu dengan suara jangkrik dan desir pepohonan, menciptakan harmoni yang sulit dicari pada masa kini.
Malam belum berakhir setelah itu.
Radio menjadi jendela dunia. Dari benda sederhana itulah masyarakat mengenal berita, mendengarkan lagu-lagu, hingga mengikuti sandiwara radio yang legendaris seperti Saur Sepuh. Tanpa gambar, tanpa efek visual, imajinasi bekerja sepenuhnya. Setiap tokoh memiliki wajah yang dibentuk oleh pikiran pendengarnya sendiri. Setiap adegan terasa hidup hanya melalui suara. Barangkali, di sanalah kreativitas dan daya khayal tumbuh tanpa disadari.
Generasi itu belajar langsung dari alam.
Sawah menjadi taman bermain. Pematang menjadi lintasan petualangan. Sungai kecil adalah kolam renang sekaligus sekolah pertama untuk belajar berenang. Airnya masih jernih, ikan-ikan kecil berenang bebas, dan anak-anak berlarian tanpa rasa takut akan pencemaran. Mereka menangkap ikan dengan tangan kosong, mencari kecebong, berburu katak kecil, memanjat pohon, atau sekadar duduk memandangi awan yang bergerak perlahan.
Tak ada permainan daring. Tak ada notifikasi yang mengalihkan perhatian. Yang ada hanyalah tawa yang lahir dari pertemuan, bukan dari layar.
Musim panen juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar hasil bumi. Ketika kebun menghasilkan singkong, jagung, pisang, atau buah-buahan, hasilnya bukan hanya untuk keluarga sendiri. Tetangga ikut merasakan. Berbagi adalah kebiasaan yang berlangsung alami, tanpa perlu dipublikasikan, tanpa kamera, tanpa unggahan media sosial. Kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya “suka”, melainkan dari senyum orang-orang yang menerima.
Di dalam rumah, keluarga besar menjadi dunia yang lengkap. Delapan bersaudara makan bersama di atas tikar bukanlah pemandangan yang luar biasa, melainkan rutinitas sehari-hari. Suara bercanda, rebutan lauk, hingga tawa yang memenuhi ruang makan menjadi kekayaan yang tak pernah tercatat dalam angka. Tanpa mengundang tetangga pun, rumah sudah terasa ramai.
Kini, waktu telah berjalan jauh.
Lampu minyak telah berganti cahaya listrik. Radio tergeser oleh layanan digital. Surau tak lagi seramai dahulu. Sungai-sungai banyak yang kehilangan kejernihannya, dan langit malam perlahan memudar karena cahaya kota yang tak pernah tidur. Anak-anak lebih mengenal layar daripada pematang sawah, lebih akrab dengan gim daring daripada permainan bersama teman sebaya.
Kemajuan memang membawa banyak kemudahan. Namun, di balik segala kecanggihan itu, ada sesuatu yang perlahan ikut hilang: kesabaran menunggu, kegembiraan berbagi, kedekatan dengan alam, dan hangatnya kebersamaan yang lahir tanpa rekayasa.
Generasi 1970–1980 mungkin tumbuh dengan keterbatasan fasilitas, tetapi mereka dibesarkan oleh kekayaan pengalaman. Mereka belajar membaca arah dari bintang, belajar keberanian dari sungai, belajar persaudaraan dari meja makan, belajar berbagi dari hasil panen, dan belajar mengenal Tuhan melalui suara-suara mengaji yang memenuhi kampung setiap malam.
Barangkali itulah sebabnya, ketika usia terus bertambah dan rambut mulai memutih, yang paling sering dirindukan bukanlah benda-benda yang dimiliki pada masa kecil, melainkan suasana yang tak lagi mudah ditemukan.
Sebab kenangan terbaik ternyata bukan tentang apa yang kita punya, melainkan tentang bagaimana kita pernah hidup—ketika malam masih diterangi bintang, lampu minyak menyala sederhana, dan dunia terasa begitu luas meski hanya sejauh kampung halaman.

