spot_img
BerandaBudayaDieng: Negeri Para Dewa, Tempat Kabut Menjaga Ingatan

Dieng: Negeri Para Dewa, Tempat Kabut Menjaga Ingatan

Menjelang sore, matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyapu dinding Candi Arjuna, memantulkan warna hangat pada batu-batu andesit yang telah berusia lebih dari satu milenium.

Oleh : Adreena A

LESINDO.COM – Pagi di Dieng selalu datang dengan cara yang berbeda. Matahari tidak terburu-buru menampakkan wajahnya. Ia seolah harus meminta izin terlebih dahulu kepada kabut yang sejak dini hari telah menyelimuti dataran tinggi itu. Dari sela-sela embun yang menggantung di pucuk ilalang, siluet candi-candi batu perlahan muncul, seperti kepingan masa lalu yang enggan benar-benar hilang.

Di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, udara Dieng bukan hanya terasa dingin. Ia membawa aroma tanah vulkanik, kisah para leluhur, dan jejak sebuah peradaban yang telah bertahan lebih dari seribu tahun.

Nama Dieng dipercaya berasal dari bahasa Jawa Kuno, Di Hyang, yang berarti “tempat bersemayam para hyang” atau para leluhur yang dimuliakan. Sejak dahulu kawasan ini dipandang bukan sekadar dataran tinggi, melainkan ruang suci tempat manusia mendekatkan diri kepada Yang Mahatinggi.

Di sinilah Kompleks Candi Dieng dibangun pada akhir abad ke-7 hingga abad ke-8 Masehi, ketika Kerajaan Mataram Kuno di bawah Dinasti Sanjaya sedang meneguhkan identitasnya sebagai kerajaan bercorak Hindu-Siwa. Candi-candi kecil yang kini berdiri tenang itu dahulu bukan monumen wisata. Ia merupakan bagian dari kawasan pertapaan, tempat para resi menjalani tapa, mempelajari kitab suci, sekaligus memanjatkan doa untuk keselamatan kerajaan.

Setiap batu disusun dengan kesadaran bahwa gunung adalah poros alam semesta.

Dalam kosmologi Hindu yang berkembang di Mataram Kuno, gunung dipandang sebagai representasi Gunung Mahameru, pusat jagat raya tempat para dewa bersemayam. Karena itu, membangun tempat suci di dataran tinggi bukanlah pilihan geografis semata, melainkan sebuah pernyataan spiritual. Semakin dekat manusia dengan puncak gunung, semakin dekat pula ia kepada alam ilahi.

Tak heran apabila kawasan Dieng dirancang sebagai mandala suci. Candi-candi ditempatkan mengikuti bentang alam pegunungan, dihubungkan jalan batu, sumber mata air, dan telaga-telaga alami yang memiliki makna penyucian. Ritual keagamaan pada masa itu bukan hanya berlangsung di dalam bangunan candi, melainkan menyatu dengan lanskap alam di sekitarnya. Gunung, air, kabut, dan batu menjadi satu kesatuan yang menghadirkan pengalaman religius.

Namun Dieng tidak hanya menyimpan kisah kerajaan.

Di balik dinginnya udara, masyarakat masih menjaga sebuah legenda yang hidup dari generasi ke generasi: kisah anak-anak berambut gimbal.

Konon, rambut gimbal itu merupakan titipan leluhur, terutama yang dikaitkan dengan sosok Kiai Kolodete, tokoh bijak yang dipercaya pernah menjaga kawasan Dieng. Rambut tersebut tidak boleh dipotong sembarangan. Bila dipaksa, masyarakat percaya sang anak akan jatuh sakit, rewel, atau mengalami berbagai gangguan.

Karena itulah, ketika seorang anak yang berambut gimbal telah menyatakan keinginannya untuk dipotong rambutnya, keluarga akan menggelar sebuah upacara adat yang dikenal sebagai Ruwatan Anak Rambut Gimbal.

Menariknya, permintaan sang anak dipercaya harus dipenuhi terlebih dahulu. Ada yang meminta sepeda, kambing, alat musik, bahkan benda-benda sederhana yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri. Masyarakat meyakini permintaan itu bukan sekadar keinginan anak, melainkan bagian dari pesan yang harus dihormati.

Setelah seluruh permintaan dipenuhi, prosesi ruwatan dimulai. Doa-doa dipanjatkan, sesaji disiapkan, gamelan mengalun pelan, lalu rambut gimbal dipotong dengan penuh penghormatan. Potongan rambut itu kemudian dilarung ke sungai atau telaga sebagai simbol mengembalikan titipan leluhur kepada alam.

Bagi wisatawan, prosesi ini mungkin tampak sebagai atraksi budaya. Namun bagi masyarakat Dieng, ruwatan adalah cara menjaga keseimbangan antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Di sinilah Dieng terasa berbeda.

Di banyak tempat, legenda hanya hidup di dalam buku. Di Dieng, legenda masih berjalan bersama kehidupan sehari-hari. Anak-anak berambut gimbal masih lahir. Ritual masih dilaksanakan. Kabut masih dipercaya membawa pesan alam. Sementara candi-candi batu tetap berdiri menjadi saksi bahwa peradaban besar pernah tumbuh di negeri awan ini.

Menjelang sore, matahari mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyapu dinding Candi Arjuna, memantulkan warna hangat pada batu-batu andesit yang telah berusia lebih dari satu milenium. Wisatawan berlalu-lalang mengabadikan momen, sementara di kejauhan kepulan uap dari kawah vulkanik perlahan naik ke langit, mengingatkan bahwa bumi di bawah kaki ini masih hidup.

Mungkin itulah daya tarik sejati Dieng.

Ia bukan hanya menawarkan panorama pegunungan, telaga berwarna, atau udara yang menggigit. Dieng mengajak setiap orang menyadari bahwa perjalanan terbaik bukan sekadar berpindah tempat, melainkan memasuki ruang di mana sejarah, mitos, alam, dan spiritualitas bertemu dalam satu lanskap yang nyaris tak berubah selama lebih dari seribu tahun.

Ketika kabut kembali turun menutup pelataran candi, Dieng seolah berbisik pelan kepada setiap pengunjung: ada kisah-kisah yang tidak pernah selesai diceritakan. Ia hanya menunggu seseorang datang, berjalan perlahan, lalu mendengarkannya dengan hati yang tenang.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments