LESINDO.COM – Di tengah semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat, nama ketela yacon mulai banyak diperbincangkan. Umbi yang memiliki rasa manis alami dan tekstur renyah ini sering disebut sebagai salah satu pangan fungsional karena mengandung berbagai zat yang bermanfaat bagi kesehatan. Meski di Indonesia keberadaannya belum sepopuler singkong, ubi jalar, atau kentang, yacon memiliki sejarah panjang yang berawal dari peradaban kuno di Amerika Selatan.
Yacon memiliki nama ilmiah Smallanthus sonchifolius dan berasal dari kawasan Pegunungan Andes, meliputi wilayah Peru, Bolivia, Ekuador, hingga Kolombia. Tanaman ini telah dibudidayakan oleh masyarakat suku Inca sejak lebih dari seribu tahun lalu. Bagi masyarakat Andes, yacon bukan sekadar bahan pangan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dikonsumsi untuk menjaga stamina dan memenuhi kebutuhan cairan tubuh karena kandungan airnya yang sangat tinggi.
Nama yacon diyakini berasal dari bahasa masyarakat Andes yang berarti “umbi yang berair”. Sebutan tersebut sangat sesuai dengan karakter umbinya yang mengandung sekitar 70–90 persen air. Ketika dipotong, daging umbi tampak bening, renyah, dan memiliki rasa manis yang menyegarkan, sehingga lebih menyerupai buah daripada umbi pada umumnya. Banyak orang membandingkan teksturnya dengan bengkuang atau buah pir.
Setelah masa kejayaan Kerajaan Inca berakhir akibat kolonialisasi Spanyol, popularitas yacon sempat meredup. Masyarakat lebih banyak membudidayakan tanaman pangan lain seperti kentang dan jagung. Namun, tanaman ini tetap dipertahankan oleh petani di daerah pegunungan sebagai bagian dari warisan pertanian tradisional.
Memasuki akhir abad ke-20, perhatian para ilmuwan kembali tertuju pada yacon setelah berbagai penelitian menemukan kandungan fruktooligosakarida (FOS) dan inulin, yaitu jenis karbohidrat yang berfungsi sebagai prebiotik. Senyawa tersebut tidak dicerna seperti gula biasa, melainkan menjadi makanan bagi bakteri baik di dalam usus. Karena karakteristik itulah, yacon kemudian dikenal sebagai salah satu umbi yang memiliki indeks glikemik relatif rendah dibandingkan banyak umbi lainnya.
Selain mengandung FOS dan inulin, yacon juga kaya akan serat pangan, kalium, vitamin, serta senyawa antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi yacon secara proporsional dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, mendukung keseimbangan mikrobiota usus, serta menjadi bagian dari pola makan sehat. Meski demikian, yacon bukanlah obat untuk diabetes ataupun penyakit tertentu. Penderita diabetes tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pola konsumsi yang sesuai.
Keunggulan inilah yang membuat yacon mulai dibudidayakan di berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Brasil, Selandia Baru, Australia, Tiongkok, hingga Indonesia. Di Indonesia, tanaman ini diperkirakan mulai diperkenalkan pada awal tahun 2000-an melalui penelitian pertanian dan pertukaran plasma nutfah. Karena berasal dari daerah pegunungan, yacon tumbuh optimal pada dataran tinggi dengan suhu sejuk, sekitar 800 hingga 2.500 meter di atas permukaan laut.

Beberapa daerah yang mulai mengembangkan budidaya yacon antara lain kawasan Dieng dan Wonosobo di Jawa Tengah, Batu di Jawa Timur, Pangalengan di Jawa Barat, serta sejumlah wilayah pegunungan lainnya. Tanaman ini memiliki batang tegak dengan tinggi mencapai dua meter lebih, daun lebar menyerupai bunga matahari, serta bunga kecil berwarna kuning. Umbinya berbentuk lonjong dengan kulit berwarna cokelat muda hingga keunguan, sedangkan dagingnya berwarna putih krem atau kekuningan.
Menariknya, meskipun di Indonesia sering disebut ketela yacon, secara ilmiah tanaman ini bukanlah kerabat dekat singkong maupun ubi jalar. Yacon termasuk keluarga Asteraceae, satu keluarga dengan bunga matahari dan artichoke. Sebutan “ketela” lebih muncul karena bentuk umbinya yang menyerupai tanaman umbi-umbian yang telah lama dikenal masyarakat.
Di tengah meningkatnya minat terhadap pangan alami dan gaya hidup sehat, yacon menawarkan alternatif yang menarik. Rasanya yang segar membuatnya dapat dikonsumsi langsung, diolah menjadi jus, salad, keripik, sirup, hingga teh dari daunnya. Nilai tambah inilah yang menjadikan yacon tidak hanya memiliki potensi sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai bahan pangan fungsional yang bernilai ekonomi.
Ke depan, pengembangan budidaya yacon di Indonesia memiliki prospek yang cukup baik, terutama di wilayah dataran tinggi yang sesuai dengan habitat asalnya. Dengan semakin banyaknya penelitian dan edukasi kepada masyarakat, bukan tidak mungkin umbi yang dahulu hanya dikenal di Pegunungan Andes ini akan menjadi salah satu komoditas unggulan yang mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkaya pilihan pangan sehat bagi masyarakat Indonesia.(Vea)

