Oleh : Adreena AM
Di Negeri yang Masih Mencari Budaya Literasi, Mereka Menulis untuk Merawat Ingatan
LESINDO.COM – Pagi belum sepenuhnya terang ketika secangkir kopi mulai kehilangan uapnya di atas meja kerja. Layar komputer menyala, sementara jemari perlahan mengetuk papan ketik. Di luar, kehidupan beranjak sibuk. Kendaraan berlalu-lalang, pasar mulai ramai, dan orang-orang bergegas mengejar rutinitas.
Di dalam ruangan kecil itu, seorang penulis justru sedang mengejar sesuatu yang tak kasatmata: makna.
Barangkali hanya sedikit orang yang menyadari bahwa setiap artikel, feature, opini, atau catatan perjalanan yang mereka baca lahir dari proses yang panjang. Ada waktu yang dikorbankan, ada perjalanan yang ditempuh, ada percakapan yang direkam, ada perenungan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam.
Menulis bukan sekadar menyusun kata-kata. Ia adalah pekerjaan merawat ingatan.
Begitulah kehidupan seorang kuli tinta.
Istilah itu terdengar sederhana, bahkan sedikit kuno. Namun di baliknya tersimpan kisah tentang orang-orang yang memilih hidup berdampingan dengan pena, buku catatan, kamera, dan rasa ingin tahu yang tak pernah selesai. Mereka mendatangi tempat-tempat yang mungkin tak pernah dikunjungi banyak orang. Mereka mendengar cerita yang tak semua orang sempat mendengarnya. Dari sanalah lahir tulisan yang kemudian menjadi jejak sebuah zaman.
Ada satu hal yang membuat profesi ini sulit ditinggalkan.
Kebebasan.
Seorang penulis dapat berbincang dengan petani di pematang sawah pada pagi hari, lalu sore harinya berdiskusi dengan akademisi di ruang seminar. Besoknya ia bisa berada di lereng gunung, di pasar tradisional, di ruang sidang pengadilan, atau di sebuah desa yang bahkan belum banyak dikenal.
Profesi ini nyaris tanpa sekat.
Setiap perjumpaan adalah pelajaran.
Setiap perjalanan adalah ruang belajar.
Setiap manusia adalah buku yang sedang dibaca.
Tak heran bila banyak penulis mengaku, sejak awal mereka tidak benar-benar mengejar kekayaan. Menulis telah menjadi klangenan—kesenangan yang tumbuh menjadi kebutuhan batin. Ada kegelisahan yang terasa belum selesai sebelum dituangkan dalam tulisan.
Mungkin karena itulah mereka tetap bertahan.
Namun idealisme sering kali berhadapan dengan kenyataan.
Penghargaan terhadap profesi penulis di Indonesia masih jauh dari memadai. Honor tulisan acap kali tidak sebanding dengan waktu yang dihabiskan untuk riset, wawancara, perjalanan, penyuntingan, hingga penyelesaian naskah. Tak sedikit penulis yang harus memiliki pekerjaan lain agar roda kehidupan tetap berputar.
Di sejumlah negara, penulis diposisikan sebagai bagian penting dalam pembangunan peradaban. Buku, karya jurnalistik, dan tulisan ilmiah menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang kritis.
Di negeri ini, profesi itu masih sering dipandang sebagai pekerjaan sampingan.
Akibatnya, satu per satu kuli tinta mulai meletakkan penanya.
Sebagian beralih menjadi pelaku usaha, pegawai, konsultan, atau profesi lain yang menawarkan kepastian ekonomi. Pilihan itu bukan bentuk menyerah, melainkan ikhtiar untuk menyambung kehidupan.
Yang tersisa adalah mereka yang masih percaya bahwa tulisan memiliki umur lebih panjang daripada penulisnya.
Di sisi lain, tantangan terbesar justru datang dari budaya membaca yang belum tumbuh kuat.
Setiap tahun ajaran baru, jutaan buku pelajaran dibagikan kepada siswa. Sampulnya masih licin, halaman-halamannya bersih, bahkan aroma kertas baru masih terasa hingga akhir semester. Namun tidak sedikit buku yang nyaris tak pernah benar-benar dibaca dari halaman pertama hingga terakhir.
Membaca masih sering dianggap kewajiban, belum menjadi kebutuhan.
Padahal, literasi tidak berhenti pada kemampuan mengeja huruf. Literasi adalah kemampuan memahami, mempertanyakan, lalu melahirkan gagasan. Dari budaya membaca lahir masyarakat yang kritis. Dari masyarakat yang kritis lahir penulis-penulis yang menjaga akal sehat bangsa.
Ketika minat membaca melemah, penulis kehilangan ruang dialog. Tulisan yang lahir dari pengamatan mendalam kerap tenggelam oleh banjir informasi yang serba singkat, cepat, dan mudah dilupakan.
Meski demikian, sejarah selalu berpihak kepada mereka yang tekun mencatat.
Banyak gagasan besar lahir dari lembaran-lembaran sederhana yang pada mulanya dianggap biasa. Sebuah artikel, catatan perjalanan, atau feature yang hari ini dibaca oleh segelintir orang bisa saja menjadi sumber pengetahuan bagi generasi yang akan datang.
Karena itu, menjadi penulis sesungguhnya adalah pekerjaan menanam.
Menanam gagasan.
Menanam ingatan.
Menanam harapan.
Seorang penulis mungkin tidak pernah mengetahui siapa yang kelak membaca tulisannya. Ia juga tak selalu tahu apakah tulisannya akan mengubah seseorang. Namun setiap kata yang ditulis dengan kejujuran akan menemukan jalannya sendiri.
Tetaplah menulis, meskipun penghargaan materi belum sepadan.
Tetaplah setia pada jalan yang telah dipilih, meskipun dunia lebih sering menghitung keberhasilan dengan angka-angka.
Sebab yang diwariskan seorang kuli tinta bukanlah kemewahan, melainkan jejak pemikiran. Bukan bangunan megah, melainkan ingatan kolektif tentang sebuah zaman.
Dan ketika suatu hari nama penulis itu mungkin telah dilupakan, tulisan-tulisannya masih akan berbicara kepada orang-orang yang belum pernah ia kenal.
Itulah keistimewaan seorang kuli tinta.
Ia boleh hilang dari panggung kehidupan, tetapi kata-katanya tetap hidup, menyeberangi waktu.

