Oleh : Redaksi
Refleksi 80 Tahun Kabupaten Sukoharjo
LESINDO.COM – Ada perjalanan yang membawa kita berpindah tempat. Ada pula perjalanan yang diam-diam mengubah cara kita memandang kampung halaman.
Pengalaman itu saya rasakan ketika pesawat yang saya tumpangi perlahan menyentuh landasan Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. Dari balik kaca jendela, yang terbentang bukan hamparan sawah atau pepohonan rindang, melainkan gurun yang memanjang hingga ke cakrawala. Tanah kecokelatan, bukit-bukit batu, dan udara yang bergetar oleh panas menjadi pemandangan pertama yang menyambut.
Ada rasa takjub. Negeri yang selama ini hanya saya kenal dari lembaran sejarah, kitab-kitab agama, dan tayangan televisi kini benar-benar berada di hadapan mata.
Dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah, jalan raya membelah padang pasir yang nyaris tanpa kehidupan. Berkilo-kilometer hamparan gurun terlintasi tanpa banyak pepohonan. Sesekali hanya tampak semak-semak kecil yang bertahan di tengah kerasnya alam. Di sana, air adalah kemewahan dan kesuburan merupakan hasil dari kerja keras serta pengelolaan yang cermat.
Namun di balik bentang alam yang gersang itu, saya menyaksikan wajah kemajuan. Infrastruktur yang tertata, pelayanan publik yang rapi, dan sistem yang bekerja menunjukkan bahwa keterbatasan alam tidak selalu menjadi penghalang bagi sebuah bangsa untuk menghadirkan kesejahteraan.
Perjalanan itu ternyata tidak hanya memperlihatkan negeri orang. Ia juga mengajarkan saya cara baru memandang negeri sendiri.
Ketika pesawat kembali mendarat di Indonesia, rasa syukur datang tanpa diundang.
Dari balik jendela tampak hamparan sawah menghijau. Pohon-pohon kelapa bergoyang ditiup angin. Sungai mengalir tenang, sementara pegunungan berdiri kokoh menjaga sumber-sumber kehidupan. Udara yang lembap dan sejuk terasa begitu akrab, seolah menyapa lirih, “Selamat pulang.”
Saat itulah saya menyadari bahwa sering kali kita terlalu dekat dengan nikmat sehingga lupa mensyukurinya.
Indonesia sesungguhnya adalah negeri yang sangat murah hati. Matahari bersinar hampir sepanjang tahun. Hujan turun membawa kesuburan. Gunung-gunung menyimpan mata air. Laut menghadiahkan kekayaan yang melimpah. Tanahnya menerima hampir setiap benih untuk tumbuh menjadi kehidupan.
Para leluhur menyebutnya gemah ripah loh jinawi—negeri yang subur, makmur, dan penuh kecukupan. Para ulama mendoakannya sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik, tenteram, dan berada dalam limpahan ampunan Allah.
Jauh sebelum berbagai istilah pembangunan menjadi bagian dari diskusi publik, Koes Plus telah menitipkan harapan melalui lagu yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan banyak orang.
“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Lirik itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah ungkapan tentang betapa besar karunia yang dititipkan Tuhan kepada Nusantara.
Lalu, mengapa di tengah limpahan anugerah itu kita masih sering mendengar kisah tentang kesenjangan, kemiskinan, dan harapan yang belum sepenuhnya terwujud?
Mengapa petani yang mengolah tanah subur masih harus berjuang untuk hidup sejahtera?
Mengapa nelayan yang berlayar di laut yang kaya belum seluruhnya menikmati hasil yang layak?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk mencari siapa yang salah. Ia lebih pantas menjadi bahan renungan bersama.
Barangkali persoalannya bukan terletak pada apa yang diberikan Tuhan kepada negeri ini, melainkan pada bagaimana kita menjaga, mengelola, dan mempertanggungjawabkan amanah tersebut.
Kita hidup di negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Doa mengawali banyak pertemuan. Sumpah jabatan diucapkan di atas kitab suci. Nilai kejujuran dan amanah diajarkan sejak usia dini. Semua itu semestinya menjadi pengingat bahwa setiap kekuasaan, sekecil apa pun, adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kabupaten Sukoharjo menjadi saat yang tepat untuk kembali menafsirkan makna kemakmuran.
Makmur bukan hanya tentang meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi atau megahnya bangunan yang berdiri. Makmur adalah ketika petani menikmati hasil panennya dengan senyum. Ketika pelaku usaha kecil mampu berkembang. Ketika guru mengajar dengan penuh harapan. Ketika anak-anak tumbuh dengan pendidikan yang baik. Ketika pelayanan publik menghadirkan keadilan. Ketika masyarakat merasa aman, tenteram, dan memiliki kesempatan yang sama untuk hidup lebih baik.
Kemakmuran sejati selalu dimulai dari kepercayaan yang dijaga dan amanah yang ditunaikan.
Perjalanan ke negeri gurun justru membuat saya semakin mencintai tanah air sendiri. Di sana saya belajar bahwa keterbatasan alam dapat diatasi melalui tata kelola yang baik. Di sini saya kembali diingatkan bahwa Tuhan telah lebih dahulu menghadiahkan alam yang begitu kaya. Tugas kitalah merawatnya dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, serta integritas yang tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat.
Barangkali benar, Indonesia adalah “kolam susu” sebagaimana dinyanyikan Koes Plus. Namun kolam itu hanya akan menjadi berkah apabila airnya mengalir untuk seluruh anak negeri, bukan berhenti pada segelintir tangan.
Delapan puluh tahun perjalanan Sukoharjo adalah pengingat bahwa kemakmuran bukanlah hadiah yang datang dengan sendirinya. Ia lahir dari kerja keras, kejujuran, gotong royong, serta keberanian menjaga amanah demi kepentingan bersama.
Semoga tema “Sukoharjo Makmur” tidak berhenti sebagai slogan peringatan hari jadi. Semoga ia menjelma menjadi cita-cita yang terus diperjuangkan—agar kemakmuran tidak hanya tercatat dalam dokumen pembangunan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah daerah bukan hanya seberapa besar kekayaan yang dimilikinya, melainkan seberapa luas kesejahteraan itu dapat dirasakan oleh seluruh warganya.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Kabupaten Sukoharjo. Semoga semakin dewasa dalam pembangunan, semakin kuat menjaga amanah, dan semakin makmur bagi semua.

