LESINDO.COM – Ada yang diam-diam menjadi penyebab paling banyak air mata dalam kehidupan, bukan kehilangan, melainkan keinginan untuk memiliki.
Sejak kecil, manusia diajarkan bahwa sesuatu yang dicintai harus dijaga. Namun, dalam perjalanan usia, sering kali makna menjaga berubah menjadi menggenggam. Kita mengira cinta adalah hak kepemilikan, seolah apa yang telah singgah di hati harus selamanya tinggal di sana. Padahal, hidup tidak pernah menjanjikan siapa pun untuk menetap.
Mungkin karena itulah banyak hati terluka. Bukan sebab cinta itu pergi, melainkan karena kita memaksa cinta tetap tinggal.
Lihatlah burung yang bertengger di dahan setiap pagi. Ia tidak pernah bernyanyi karena sangkar yang kokoh. Justru langit yang luas membuat nyanyiannya terdengar begitu merdeka. Ia memiliki sayap untuk terbang, arah untuk dipilih, dan kebebasan untuk menentukan ke mana angin membawanya.
Begitu pula cinta.
Cinta tidak tumbuh di balik tembok pengawasan, bukan pula di bawah bayang-bayang rasa takut kehilangan. Ia hidup dari kepercayaan. Ia bernapas karena diberi ruang. Sebab sesuatu yang dipaksa bertahan sering kali hanya menyisakan tubuhnya, sementara hatinya telah lama pergi.
Manusia memang memiliki naluri menggenggam. Ketika menemukan seseorang yang membuat hari-harinya lebih bermakna, ia ingin memastikan sosok itu tidak pernah menjauh. Namun kehidupan diam-diam mengajarkan bahwa semakin erat genggaman, semakin sesak ruang bagi kebebasan. Dan ketika kebebasan kehilangan tempatnya, cinta perlahan kehilangan jiwanya.
Barangkali itulah mengapa kehadiran yang paling indah bukanlah yang dipertahankan dengan berbagai cara, melainkan yang tetap memilih tinggal meski pintu selalu terbuka.
Ada ketulusan yang tidak membutuhkan rantai. Ada kesetiaan yang tidak memerlukan pagar. Sebab seseorang yang benar-benar ingin bersama, akan menemukan jalan untuk kembali, bukan alasan untuk pergi.
Burung tidak membuktikan cintanya dengan tetap berada di dalam sangkar. Ia membuktikannya ketika langit terbentang tanpa batas, tetapi hatinya tetap mengenali tempat pulang.
Begitulah cinta diuji.
Bukan ketika seseorang berada di sisi kita karena keadaan memaksanya, melainkan ketika ia memiliki seribu alasan untuk pergi, tetapi memilih menetap. Pilihan yang lahir dari kebebasan selalu lebih bernilai daripada kedekatan yang lahir dari keterpaksaan.
Namun hidup juga menyimpan kenyataan yang tak selalu mudah diterima.
Ada orang-orang yang memang hanya singgah. Mereka datang membawa tawa, menghapus sepi, mengajarkan arti bahagia, lalu perlahan menghilang ketika musim berganti. Kehadiran mereka bukanlah kesalahan, demikian pula kepergian mereka. Mereka hanyalah titipan waktu yang ditugaskan mengajarkan bahwa mencintai dan memiliki adalah dua hal yang berbeda.
Tidak semua bunga yang kita kagumi harus dipetik. Tidak semua senja yang memukau bisa disimpan di dalam saku. Ada keindahan yang hanya bisa dinikmati tanpa harus dimiliki.
Mungkin itulah kedewasaan yang sesungguhnya: tetap mampu mencintai tanpa menguasai, tetap mampu menjaga tanpa membelenggu, dan tetap mampu merelakan tanpa kehilangan rasa syukur.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita genggam, melainkan seberapa lapang hati kita ketika harus melepaskan.
Sebab cinta yang sejati tidak pernah lahir dari kepemilikan.
Ia tumbuh dari kebebasan, dipelihara oleh kepercayaan, dan akan selalu menemukan jalannya pulang kepada hati yang tidak pernah memaksanya tinggal.(Eza)

