LESINDO.COM – Tidak ada yang benar-benar kebal terhadap penghinaan. Setegar apa pun seseorang, selalu ada bagian dalam dirinya yang bergetar ketika dianggap tidak berarti. Sebuah kalimat yang meremehkan, tatapan yang memandang rendah, atau perlakuan yang mengecilkan usaha kita sering kali meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
Luka itu tidak selalu berasal dari kata-kata. Ia tumbuh dari benturan antara harapan untuk dihargai dan kenyataan bahwa manusia tidak selalu memberi penghormatan sebagaimana yang kita inginkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa semacam ini begitu akrab. Seorang pekerja yang dianggap remeh karena jabatannya. Seorang pedagang kecil yang dipandang sebelah mata. Seorang pelajar yang dicap tidak akan berhasil. Bahkan seseorang yang telah berbuat banyak kebaikan pun masih bisa menjadi sasaran cibiran.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita pernah diremehkan. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi pengalaman itu.
Di sinilah para sufi menawarkan cara pandang yang berbeda.
Bagi mereka, ketika seseorang merendahkanmu, ujian sesungguhnya justru dimulai setelah kata-kata itu selesai diucapkan. Bukan pada mulut orang yang menghina, melainkan pada hati yang mendengarnya.
Mengapa kita begitu ingin membalas? Mengapa kita terdorong untuk segera membuktikan bahwa mereka salah?
Para arif menjawab dengan sederhana: karena ego sedang terluka.
Ego selalu ingin diakui. Ia haus penghormatan. Ia ingin dipandang penting. Ketika ada orang yang merobohkan citra itu, ego segera memberontak. Ia meminta pembelaan. Ia menuntut kemenangan.
Padahal, semakin seseorang menggantungkan harga dirinya pada penilaian manusia, semakin mudah ia kehilangan ketenangan hanya karena satu komentar.
Sebaliknya, orang yang mengenal Tuhannya perlahan belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh tepuk tangan, pujian, ataupun penghinaan manusia. Kemuliaannya tidak bertambah karena dipuji dan tidak berkurang karena dicela.
Para sufi bahkan melihat pengalaman diremehkan sebagai pendidikan batin. Mereka meyakini bahwa terkadang Allah membiarkan seseorang dipandang kecil agar ia terbebas dari penyakit terbesar dalam perjalanan ruhani: ketergantungan terhadap pengakuan manusia.
Selama hati masih hidup dari pujian, ia akan mati oleh celaan.
Pandangan inilah yang membuat banyak orang saleh tetap tenang ketika dihina. Mereka tidak sedang berpura-pura kuat. Mereka hanya tidak lagi menjadikan penghormatan manusia sebagai tempat bergantung.
Ini bukan berarti penghinaan harus dibenarkan. Islam tetap mengajarkan untuk menjaga lisan dan memuliakan sesama. Merendahkan orang lain adalah akhlak yang tercela.
Namun, seorang mukmin juga diajarkan untuk tidak menyerahkan kedamaian jiwanya kepada siapa pun.
Sebab, jika ketenangan kita dapat dirampas hanya oleh satu ucapan, berarti kebahagiaan kita masih berada di tangan manusia.
Di situlah letak kemerdekaan batin yang diajarkan para sufi. Mereka memilih menguasai dirinya daripada menguasai lawannya.
Ketika dihina, mereka menjaga lisan.
Ketika diremehkan, mereka menjaga adab.
Ketika disakiti, mereka menjaga hati agar tidak berubah menjadi sumber kebencian yang baru.
Sikap semacam ini bukan tanda kelemahan. Justru dibutuhkan keberanian yang jauh lebih besar untuk mengendalikan amarah daripada sekadar melampiaskannya.
Membalas hinaan dengan hinaan mungkin memuaskan ego untuk sesaat, tetapi tidak pernah menyembuhkan luka. Yang lahir justru lingkaran permusuhan yang semakin panjang.
Sebaliknya, kelembutan sering kali memutus rantai kebencian yang tidak mampu diputus oleh kemarahan.
Orang yang benar-benar besar tidak membutuhkan orang lain menjadi kecil agar dirinya tampak tinggi.
Sebagaimana pohon yang sarat buah justru semakin merunduk, demikian pula jiwa yang matang tidak sibuk mempertontonkan keunggulan. Ia membiarkan akhlaknya berbicara ketika lisan orang lain memilih melukai.
Barangkali karena itulah sejarah lebih lama mengingat kelembutan daripada kemarahan. Orang mungkin lupa siapa yang pernah menghina kita. Namun mereka akan mengingat bagaimana kita bersikap ketika dihina.
Pada akhirnya, penghormatan manusia hanyalah musim. Hari ini datang, esok bisa menghilang. Tepuk tangan berubah menjadi keheningan. Pujian berganti menjadi kritik. Semua bergerak mengikuti waktu.
Tetapi kemuliaan akhlak tidak mengenal musim. Ia tetap hidup, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Maka, bila suatu hari engkau diremehkan, jangan tergesa membuktikan bahwa engkau lebih tinggi daripada mereka.
Rawatlah martabatmu dengan kesabaran.
Jawablah dengan adab.
Biarkan waktu menjadi saksi.
Sebab gunung tidak pernah berteriak bahwa dirinya tinggi. Ia tetap diam, tetap kokoh, dan justru karena itulah semua orang dapat melihat ketinggiannya.

