spot_img
BerandaBudayaMenapaki Gunung Sepikul, Saat Batu Purba Menyimpan Kisah yang Tak Pernah Usai

Menapaki Gunung Sepikul, Saat Batu Purba Menyimpan Kisah yang Tak Pernah Usai

Secara geologi, Gunung Sepikul merupakan singkapan batuan purba yang telah mengalami proses alam selama jutaan tahun. Tebing-tebing batunya menjadi saksi perjalanan bumi jauh sebelum manusia mengenal peradaban.

LESINDO.COM – Langit pagi baru saja merekah ketika langkah pertama menapaki jalur menuju Gunung Sepikul dimulai. Embun masih menggantung di dedaunan, sementara hamparan sawah di Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, perlahan disapu cahaya matahari. Dari kejauhan, dua bongkah batu raksasa berdiri kokoh di puncak bukit, seolah menjadi penjaga yang tak pernah lelah mengawasi bentang alam di kaki Pegunungan Selatan.

Gunung Sepikul bukan gunung yang menjulang tinggi. Ketinggiannya hanya sekitar 350 meter di atas permukaan laut. Namun justru pada kesederhanaan itulah pesonanya berada. Pendakian menuju puncak dapat ditempuh kurang dari satu jam, melewati jalan setapak di antara kebun jati, semak belukar, dan ladang milik warga.

Sesampainya di atas, hamparan panorama terbuka begitu luas. Dari puncak, mata memandang gugusan perbukitan kapur yang menjadi bagian dari kawasan Gunung Sewu. Sawah-sawah di bawah tampak seperti mozaik hijau yang tersusun rapi, sementara angin berembus lembut membawa aroma tanah dan dedaunan yang khas.

Namun, keindahan Gunung Sepikul sesungguhnya tidak hanya terletak pada lanskapnya. Bukit batu purba ini juga menyimpan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Masyarakat setempat meyakini nama “Sepikul” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “satu pikulan”. Nama itu tidak lahir tanpa sebab.

Konon, pada masa ketika Bandung Bondowoso berusaha memenuhi syarat Roro Jonggrang membangun seribu candi dalam semalam, ribuan jin diperintahkan mengangkut batu-batu raksasa dari berbagai penjuru. Sebagian batu dipikul, sebagian lagi digendong.

Menjelang fajar, Roro Jonggrang menyiasati keadaan dengan meminta para dayang menumbuk padi dan membakar jerami agar suasana tampak seperti pagi. Mendengar suara lesung dan kokok ayam, para jin mengira matahari segera terbit. Mereka panik lalu melarikan diri sambil meninggalkan batu-batu yang sedang dibawa.

Menapaki jalur berbatu menuju puncak Gunung Sepikul tidak memerlukan waktu yang lama. Setiap langkah di atas bebatuan purba justru menghadirkan pengalaman tersendiri sebelum akhirnya tiba di puncak. Menjelang Pos 2, para pendaki kerap disambut oleh kawanan monyet liar yang telah lama menjadi penghuni alami kawasan ini.(mc)

Batu yang ditinggalkan dalam posisi dipikul dipercaya menjadi Gunung Sepikul, sedangkan batu yang dibawa dengan cara digendong menjelma menjadi Gunung Segendong yang berdiri tak jauh dari sana.

Versi lain yang hidup di tengah masyarakat menyebutkan bahwa batu-batu itu merupakan bawaan para wali, raksasa, atau makhluk sakti yang hendak memindahkan bebatuan menuju Pegunungan Seribu. Ketika suara lesung warga terdengar sebelum fajar, mereka mengira malam telah usai sehingga perjalanan dihentikan dan batu-batu besar itu diletakkan begitu saja.

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, legenda telah memberi nyawa pada bentang alam ini. Batu-batu yang tersebar di sekitar kawasan pun memiliki nama masing-masing sesuai bentuknya.

Ada Watu Pawon yang menyerupai dapur tradisional, Watu Kandang yang mirip kandang ternak, Watu Jaran yang dianggap menyerupai seekor kuda, hingga Watu Tumpuk yang terdiri atas susunan batu-batu besar seolah ditata oleh tangan manusia.

Di sinilah perjalanan terasa lebih dari sekadar mendaki. Setiap batu menghadirkan imajinasi, setiap sudut menawarkan cerita.

Secara geologi, Gunung Sepikul merupakan singkapan batuan purba yang telah mengalami proses alam selama jutaan tahun. Tebing-tebing batunya menjadi saksi perjalanan bumi jauh sebelum manusia mengenal peradaban. Sementara bagi masyarakat, bebatuan itu adalah ruang hidup yang dipenuhi makna, tempat legenda dan kenyataan berjalan berdampingan.

Menjelang sore, cahaya matahari mulai condong ke barat. Warna keemasan menyelimuti permukaan batu raksasa sehingga tampak semakin megah. Para pendaki duduk di tepian tebing, sebagian mengabadikan momen melalui kamera, sebagian lagi memilih menikmati keheningan tanpa kata.

Barangkali itulah alasan mengapa Gunung Sepikul selalu membuat orang ingin kembali. Bukan karena jalurnya yang menantang atau puncaknya yang tinggi, melainkan karena tempat ini mengajarkan bahwa sebuah perjalanan akan terasa lebih bermakna ketika alam tidak hanya dipandang dengan mata, tetapi juga didengar melalui cerita-cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Di Gunung Sepikul, batu-batu purba bukan sekadar tumpukan bebatuan. Ia adalah halaman-halaman sejarah yang ditulis oleh alam, lalu dilengkapi oleh imajinasi dan kearifan masyarakat selama berabad-abad. Siapa pun yang datang boleh saja menikmati panorama dari puncaknya, tetapi mereka yang pulang sambil membawa kisah, sesungguhnya telah mendapatkan perjalanan yang jauh lebih berharga.(Liz)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments