LESINDO.COM – Ada masa ketika manusia begitu mudah terpukau pada hal-hal yang berkilau. Kata-kata yang terdengar indah terasa seperti ketulusan. Senyum yang ramah dianggap pertanda niat baik. Penampilan yang meyakinkan seolah cukup untuk membangun kepercayaan. Pada usia-usia tertentu, dunia memang tampak sederhana—apa yang terlihat, itulah yang dipercaya.
Barangkali hampir semua orang pernah berada di fase itu. Fase ketika pujian mampu membuat dada mengembang, pengakuan terasa seperti kebutuhan, dan penilaian orang lain diam-diam menjadi kompas yang menentukan arah langkah. Ada keinginan untuk diterima, untuk dianggap, untuk diakui keberadaannya. Maka tak jarang, banyak energi dihabiskan untuk menjaga citra, mempertahankan kesan, atau mengejar sesuatu yang sebenarnya tak benar-benar dibutuhkan.
Namun usia punya cara sendiri dalam mendidik manusia.
Ia tidak datang membawa buku pelajaran. Tidak pula memberi penjelasan lewat kata-kata. Ia mengajar melalui peristiwa. Lewat janji yang pernah terdengar meyakinkan, lalu menguap tanpa jejak. Lewat orang-orang yang datang dengan wajah hangat, lalu pergi ketika keadaan tak lagi menguntungkan. Lewat sikap yang berubah begitu kepentingan selesai. Sedikit demi sedikit, pengalaman mengikis kepolosan, tapi sekaligus membangun sesuatu yang lebih berharga—kepekaan.
Bukan mata yang menjadi semakin tajam. Bahkan bagi sebagian orang, penglihatan justru mulai membutuhkan bantuan. Tetapi ada hal lain yang tumbuh jauh lebih kuat: insting untuk mengenali mana yang tulus dan mana yang sekadar tampak tulus.
Pada titik tertentu, seseorang tak lagi mudah terkesan pada cara orang berbicara. Kalimat yang tersusun rapi tak otomatis dianggap ketulusan. Senyum yang terlalu sempurna tak lagi selalu dipercaya. Karena waktu telah mengajarkan satu hal sederhana: manusia bisa mengatur kata-kata, tapi sulit menyamarkan konsistensi.
Dari sanalah cara pandang berubah.
Yang dulu memikat, kini terasa biasa. Yang dulu dianggap penting, perlahan terlihat hanya sebagai kebisingan sesaat. Pencitraan kehilangan daya pikatnya. Pengakuan tidak lagi menjadi kebutuhan utama. Dan penilaian orang, yang dulu begitu menentukan, kini hanya lewat seperti angin—ada, tapi tak lagi menggoyahkan.
Kedewasaan rupanya bukan tentang mengetahui lebih banyak daripada sebelumnya. Sering kali justru tentang lebih cepat mengenali apa yang tak perlu dipercaya terlalu dalam, apa yang tak perlu diperjuangkan mati-matian, dan siapa yang tak perlu dipertahankan dengan segala tenaga.
Di sanalah usia bekerja secara diam-diam.
Ia tidak membuat hidup menjadi lebih mudah. Tapi ia membantu manusia melihat lebih jernih. Bukan dengan mata, melainkan dengan bekas-bekas perjalanan yang tak semua orang bisa baca.(Tia)

