Oleh : Kang Sholeh
LESINDO.COM – Di banyak rumah, menjelang Iduladha, selalu ada percakapan yang berulang. Tentang harga kambing yang naik, tentang kebutuhan sekolah anak yang belum selesai, tentang cicilan, tentang modal usaha, tentang daftar kebutuhan yang rasanya tak pernah habis. Di tengah segala hitung-hitungan itu, satu pertanyaan sering muncul pelan-pelan di dalam hati: “Kalau berkurban tahun ini, cukup tidak nanti?”
Kekhawatiran semacam itu sangat manusiawi. Sebab manusia memang terbiasa menghitung apa yang tampak di tangan, sementara ibadah sering mengajak seseorang mempercayai apa yang belum tampak di depan mata.
Di situlah kurban bukan sekadar menyembelih hewan. Kurban adalah latihan keimanan. Latihan meletakkan rasa takut di bawah keyakinan.
Syariat kurban sendiri bukan perkara kecil dalam ajaran Islam. Ia adalah syiar yang agung, ibadah yang ditegakkan oleh Al-Qur’an, dicontohkan oleh Nabi, dan dijaga oleh generasi demi generasi.
Allah berfirman:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat yang singkat, tetapi mengandung pesan yang dalam: shalat menghubungkan manusia dengan langit, sedangkan kurban menghubungkan keimanan itu dengan tindakan nyata.
Memang, perintah berkurban ditujukan kepada mereka yang memiliki kelapangan. Kepada mereka yang diberi kemampuan, diberi rezeki, diberi ruang untuk berbagi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa memiliki kelapangan rezeki namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadis ini bukan sekadar dorongan, tetapi juga tamparan halus bagi hati yang sebenarnya mampu, namun terlalu banyak menunda karena merasa selalu ada kebutuhan lain yang lebih penting.
Menariknya, semangat berkurban dalam Islam tidak pernah identik dengan kemewahan. Ia tidak menunggu seseorang menjadi kaya raya. Ia tidak menunggu rekening penuh. Bahkan dalam sejarah, sebagian ulama rela berutang demi bisa berkurban—tentu dengan keyakinan dan kemampuan untuk melunasinya. Bukan karena mereka abai pada hitungan dunia, tetapi karena mereka memahami bahwa ada investasi yang nilainya melampaui angka.
Teladan terbesar tentu datang dari Rasulullah ﷺ sendiri.
Sejak hijrah ke Madinah, beliau tidak pernah meninggalkan ibadah kurban. Padahal hidup beliau jauh dari kemewahan. Ada hari-hari ketika dapur rumah beliau tidak mengepul. Ada masa ketika makanan sederhana menjadi teman sehari-hari. Namun keterbatasan tidak pernah membuat beliau absen dari ibadah yang satu ini.
Seolah beliau sedang mengajarkan satu hal kepada umatnya: kurban bukan ibadah musiman bagi orang kaya, melainkan ibadah tahunan bagi orang yang mau mengupayakan.
Hari ini, kita mampu menabung untuk banyak hal. Untuk gawai terbaru. Untuk kendaraan impian. Untuk liburan. Untuk kopi favorit. Untuk hobi yang kadang tidak terlalu mendesak.
Lalu mengapa untuk akhirat, kita sering merasa belum siap?
Barangkali masalahnya bukan pada kurangnya rezeki. Barangkali yang kurang adalah keberanian menempatkan akhirat dalam daftar prioritas.
Kurban, pada akhirnya, bukan soal berapa besar hewan yang disembelih. Bukan soal seberapa mahal harga yang dibayar. Kurban adalah tentang seberapa besar seseorang percaya bahwa apa yang keluar karena Allah tidak pernah benar-benar hilang.
Sebab Allah sendiri telah berjanji:
“Dan apa saja yang kamu infakkan, niscaya Allah akan menggantinya. Dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik.”
(QS. Saba’: 39)
Maka benar adanya: tak ada ceritanya orang menjadi miskin karena berkurban.
Yang sering terjadi justru sebaliknya—harta mungkin berkurang di mata manusia, tetapi hidup terasa lebih lapang, hati terasa lebih tenang, dan rezeki datang dari jalan yang tak pernah disangka.

