Oleh : Adreena M
Menulis dan Percakapan dengan Diri Sendiri
LESINDO.COM – Ada pikiran yang terlalu rumit jika hanya dipendam di kepala. Ada perasaan yang terlalu berat jika hanya disimpan di dalam hati.
Maka, tulislah.
Tidak perlu selalu menjadi tulisan yang sempurna.
Tidak harus selalu dibaca oleh orang lain.
Tulislah untuk berbicara dengan diri sendiri.
Menulis adalah investasi bagi ketajaman pikiran.
Ketika kata-kata mulai mengalir, kita belajar memahami apa yang sebenarnya kita pikirkan.
Kegelisahan yang semula terasa seperti benang kusut perlahan mulai menemukan ujungnya.
Tulisan membantu kita menata kekacauan.
Dan kadang, setelah sebuah perasaan berhasil dituliskan, kita tidak lagi merasa terlalu berat membawanya.
Menulis bukan hanya tentang meninggalkan jejak bagi orang lain.
Menulis juga tentang meninggalkan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas.
Tidak Semua Perdebatan Harus Dimenangkan
Semakin dewasa seseorang, barangkali semakin ia memahami bahwa tidak semua perdebatan harus diikuti.
Tidak semua pendapat harus dibantah.
Tidak semua orang harus diyakinkan.
Kita hidup di zaman ketika semua orang ingin didengar.
Namun, sedikit yang benar-benar ingin mendengarkan.
Ada kalanya kita memilih diam bukan karena kalah.
Kita diam karena ketenangan jauh lebih berharga daripada memenangkan perdebatan.
Tidak suka berdebat adalah investasi bagi kedewasaan.
Sebab, kita akhirnya memahami bahwa orang lain berhak memiliki pandangan yang berbeda.
Dan kita tidak harus kehilangan kedamaian hanya untuk membuktikan bahwa kita benar.
Kadang, meninggalkan perdebatan adalah kemenangan yang paling sunyi.
Bersyukur dan Kekayaan Batin
Manusia sering kali terlalu sibuk menghitung apa yang belum dimiliki.
Kita melihat rumah orang lain.
Kita melihat pekerjaan orang lain.
Kita melihat perjalanan orang lain.
Kita melihat keberhasilan orang lain.
Lalu, tanpa sadar, kita merasa hidup kita kurang.
Padahal, ada begitu banyak hal yang dahulu kita minta dalam doa, tetapi kini telah kita miliki dan jarang lagi kita syukuri.
Kesehatan.
Waktu.
Keluarga.
Kesempatan.
Kemampuan untuk bangun pagi dan kembali menjalani hari.
Bersyukur adalah investasi bagi kekayaan batin.
Ia tidak membuat semua persoalan hilang.
Tetapi ia membuat kita tidak kehilangan kemampuan untuk melihat cahaya ketika hidup sedang gelap.
Orang yang bersyukur bukan orang yang tidak memiliki keinginan.
Ia hanya tidak membiarkan keinginannya membuat dirinya lupa bahwa ia sudah memiliki begitu banyak hal.
Berhenti Sejenak untuk Tetap Waras

Dunia bergerak terlalu cepat.
Kita bangun dengan informasi.
Tidur dengan informasi.
Sepanjang hari, pikiran dipenuhi tuntutan, pekerjaan, berita, pesan, dan kekhawatiran.
Tidak mengherankan jika jiwa pun menjadi lelah.
Maka, kita perlu berhenti.
Sejenak saja.
Menarik napas.
Memejamkan mata.
Membiarkan dunia berjalan tanpa harus selalu kita kejar.
Meditasi, berdiam diri, berdoa, atau sekadar duduk dalam keheningan adalah investasi bagi kewarasan.
Kita perlu menciptakan ruang di dalam diri.
Ruang yang tidak dipenuhi kebisingan.
Ruang tempat jiwa dapat beristirahat.
Sebab, tidak semua kelelahan dapat disembuhkan dengan tidur.
Ada kelelahan yang hanya dapat disembuhkan dengan ketenangan.
Kekayaan yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, hidup mungkin bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Sebab, harta bisa bertambah dan berkurang.
Jabatan bisa datang dan pergi.
Pujian bisa berubah menjadi lupa.
Namun, tubuh yang kita rawat akan membawa kita lebih jauh.
Pikiran yang kita isi akan membantu kita memahami kehidupan.
Jiwa yang kita tenangkan akan menjadi tempat pulang ketika dunia terasa terlalu melelahkan.
Olahraga adalah investasi bagi tubuh.
Senyum adalah investasi bagi pesona.
Membaca adalah investasi bagi pikiran.
Menyendiri adalah investasi bagi ketenangan.
Traveling adalah investasi bagi wawasan.
Menulis adalah investasi bagi ketajaman berpikir.
Tidak gemar berdebat adalah investasi bagi kedewasaan.
Bersyukur adalah investasi bagi kekayaan batin.
Dan menyediakan waktu untuk hening adalah investasi bagi kewarasan.
Semua itu mungkin tidak membuat kita langsung terlihat kaya.
Namun, perlahan-lahan, ia akan membentuk sesuatu yang jauh lebih berharga.
Seorang manusia yang tangguh.
Manusia yang tidak mudah runtuh ketika hidup berubah.
Yang tetap mampu tersenyum ketika keadaan tidak selalu ramah.
Yang memiliki tubuh untuk melangkah, pikiran untuk memahami, dan jiwa untuk tetap tenang.
Karena pada akhirnya, investasi terbaik bukan hanya tentang bagaimana kita mempersiapkan kehidupan di masa depan.
Tetapi juga tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang cukup kuat untuk menjalani masa depan itu.
Dan mungkin, sebelum kita kembali sibuk mencari investasi yang paling menguntungkan, ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:
Sudahkah hari ini aku berinvestasi pada tubuhku, pikiranku, dan jiwaku sendiri?

