spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Cermin yang Sering Kita Hindari

Part 1 : Cermin yang Sering Kita Hindari

“Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain hingga lupa memperbaiki diri. Karena kelak, di hadapan Tuhan, bukan kesalahan orang lain yang akan ditanya, melainkan tentang kesalahan-kesalahan diri kita sendiri.”

Oleh : Adilla M

LESINDO.COM – Ada satu benda yang sering berada paling dekat dengan manusia, tetapi justru kerap dihindari: cermin.

Di hadapan cermin, kita tidak bisa terlalu lama berpura-pura. Wajah yang tampak lelah akan tetap terlihat lelah. Rambut yang berantakan tidak akan mendadak rapi hanya karena kita ingin dianggap baik-baik saja. Cermin tidak menghakimi, tetapi ia juga tidak pandai berbohong.

Barangkali demikian pula seharusnya manusia memandang dirinya sendiri.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita justru sering lebih sibuk menjadi cermin bagi orang lain. Kita begitu mudah melihat kekurangan mereka. Mata kita tajam menemukan kesalahan. Lidah kita cekatan mengomentari. Bahkan, terkadang kita merasa memiliki kewajiban untuk mengoreksi kehidupan orang lain, seolah perjalanan kita sendiri telah bersih dari cela.

Kita sibuk menunjuk.

Ke kiri, ada yang salah.

Ke kanan, ada yang menyimpang.

Di depan, ada yang harus diperbaiki.

Sementara diri sendiri nyaris tidak pernah diajak duduk untuk berbincang.

Padahal, ada saat ketika manusia harus berhenti sejenak dari hiruk-pikuk menilai dunia. Menutup pintu kebisingan dari luar. Lalu bertanya kepada dirinya sendiri: Sudah sejauh mana aku memperbaiki apa yang selama ini kukritik pada orang lain?

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman.

Sebab, menilai orang lain sering kali lebih mudah daripada mengadili diri sendiri.

Ketika Pertanggungjawaban Bersifat Personal

Pada akhirnya, kehidupan bukan sekadar tentang apa yang dilakukan orang lain kepada kita atau apa yang salah pada dunia di sekitar kita.

Ada pertanggungjawaban yang bersifat sangat personal.

Di hadapan Tuhan, barangkali kita tidak akan bisa bersembunyi di balik panjangnya daftar kesalahan orang lain. Kita tidak dapat menjadikan keburukan sistem sebagai alasan untuk membebaskan diri dari seluruh tanggung jawab.

Yang dibawa setiap manusia adalah dirinya sendiri.

Amalnya sendiri.

Kesalahannya sendiri.

Pilihan-pilihan yang pernah diambilnya ketika berada di persimpangan.

Kesadaran inilah yang seharusnya membuat manusia lebih rendah hati. Bahwa sehebat apa pun kita membedah kesalahan orang lain, tidak ada jaminan kita telah selesai dengan persoalan di dalam diri sendiri.

Tetapi dari perenungan tentang manusia dan kesalahannya, muncul sebuah pertanyaan yang lebih luas.

Jika pendidikan selalu mengajarkan kebaikan, mengapa manusia tetap dapat tersesat?

Adakah yang Salah dengan Pendidikan Kita?

Pertanyaan itu barangkali terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah sesederhana itu.

Pendidikan, dalam pengertian ideal, lahir dari keinginan manusia untuk menjadi lebih baik. Sekolah mengajarkan pengetahuan. Guru menanamkan nilai. Buku-buku berbicara tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

Di rumah, anak-anak diajarkan tentang sopan santun.

Di sekolah, mereka diajarkan tentang aturan.

Dalam pelajaran agama, mereka dikenalkan dengan dosa dan pahala.

Dalam pelajaran kewarganegaraan, mereka berbicara tentang keadilan.

Dalam kehidupan sosial, mereka diajak memahami pentingnya gotong royong.

Jika semua itu telah diajarkan sejak lama, mengapa dalam perjalanan hidup masih begitu banyak manusia yang memilih jalan sebaliknya?

Mengapa kecerdasan tidak selalu melahirkan kebijaksanaan?

Mengapa orang yang mengetahui nilai kejujuran masih dapat tergoda untuk berlaku curang?

Mengapa orang yang memahami hukum masih berani melanggarnya?

Mungkin persoalannya bukan semata-mata pada apa yang diajarkan pendidikan, melainkan pada dunia tempat manusia menguji semua pelajaran itu.

Di ruang kelas, kejujuran dapat menjadi jawaban yang benar.

Namun, ketika seseorang memasuki dunia yang penuh kepentingan, ia mungkin menemukan kenyataan yang berbeda.

Di sana, kejujuran terkadang dianggap kelemahan.

Integritas dianggap tidak fleksibel.

Orang yang lurus dianggap terlalu idealis.

Dan mereka yang menolak berkompromi justru bisa dipandang sebagai pengganggu.

Di titik itulah pendidikan berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Ketika Sistem Menguji Manusia

Seseorang boleh tumbuh dalam keluarga yang mengajarkan kejujuran. Ia dapat belajar di sekolah yang menanamkan disiplin. Ia mungkin memiliki guru yang terus mengingatkan tentang pentingnya menjaga integritas.

Namun, setelah keluar dari lingkungan pendidikan, ia masuk ke dalam sebuah ekosistem yang lain.

Sebuah sistem.

Dan sistem tidak selalu netral.

Sistem dapat menjadi ruang yang menumbuhkan kebaikan, tetapi ia juga dapat menjadi lingkungan yang perlahan mengikisnya.

Bayangkan sebuah sungai.

Airnya mengalir dari hulu dengan jernih. Ikan-ikan hidup dengan sehat. Namun, sepanjang perjalanan, sungai itu menerima limbah. Sedikit demi sedikit, air berubah warna. Bau mulai muncul. Kehidupan di dalamnya terancam.

Ikan yang sehat tidak serta-merta dapat menjaga dirinya tetap sehat jika seluruh air di sekelilingnya telah tercemar.

Begitulah manusia.

Sebaik apa pun seseorang membawa nilai dari rumah dan sekolah, ia tetap akan diuji oleh lingkungan tempat ia hidup. Ketika sistem memberi penghargaan kepada kelicikan, orang jujur akan menghadapi ujian yang lebih berat. Ketika jalan pintas menjadi kebiasaan, ketekunan sering dianggap membuang waktu.

Ketika kompromi terhadap kesalahan telah menjadi budaya, orang baik dihadapkan pada dilema yang sunyi: bertahan dengan prinsip atau mengikuti arus agar tidak tersingkir.

Tidak semua orang mampu menang.

Ada yang bertahan.

Ada yang menyerah.

Ada pula yang perlahan berubah tanpa pernah menyadari kapan tepatnya perubahan itu dimulai.

Awalnya mungkin hanya satu kompromi kecil.

Satu pembenaran.

Satu alasan bahwa semua orang juga melakukannya.

Kemudian, yang salah menjadi biasa.

Yang biasa dianggap wajar.

Dan pada akhirnya, manusia bahkan tidak lagi merasa sedang melakukan sesuatu yang keliru.

Pendidikan Bukan Sekadar Menyesuaikan Diri

Di sinilah pendidikan menemukan tugas terbesarnya.

Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang mampu menyesuaikan diri dengan dunia.

Sebab, tidak semua keadaan di dunia layak untuk disesuaikan.

Ada sistem yang harus dikritik.

Ada kebiasaan yang harus dipertanyakan.

Ada tradisi yang harus diperbaiki.

Ada kekuasaan yang harus diawasi.

Pendidikan yang sejati seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pandai mencari tempat dalam sebuah sistem. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang mampu bertanya ketika sistem itu mulai kehilangan arah.

Mengapa ini terjadi?

Siapa yang diuntungkan?

Apakah sesuatu yang dianggap biasa itu benar?

Dan jika tidak benar, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membuat pendidikan tetap hidup.

Sebab, pendidikan tanpa kemampuan berpikir kritis hanya akan menghasilkan manusia yang pandai menghafal, tetapi takut mempertanyakan.

Mereka mungkin cerdas secara akademik, tetapi mudah mengikuti arus.

Mereka mampu menjawab soal, tetapi tidak selalu mampu membaca persoalan.

Dua Jalan yang Harus Berjalan Bersama

Karena itu, memperbaiki kehidupan tidak cukup hanya dengan satu cara.

Kita membutuhkan cermin diri, tetapi juga keberanian untuk melihat keadaan di luar diri.

Yang pertama adalah introspeksi.

Manusia harus terus belajar memperbaiki dirinya. Menjaga hati agar tidak mudah merasa paling benar. Mengakui bahwa kesalahan tidak selalu berada di luar sana.

Yang kedua adalah kritik terhadap sistem.

Sebab, kesalehan personal saja tidak selalu cukup untuk memperbaiki lingkungan yang terus-menerus memproduksi ketidakadilan.

Manusia yang baik membutuhkan ruang yang sehat untuk bertumbuh.

Dan sistem yang baik membutuhkan manusia-manusia berintegritas untuk menjaganya.

Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Kita tidak boleh menyalahkan sistem untuk membebaskan diri dari tanggung jawab pribadi. Namun, kita juga tidak boleh terus-menerus menyalahkan individu sambil menutup mata terhadap sistem yang membuat kesalahan terus berulang.

Barangkali, di situlah pendidikan menemukan esensinya.

Bukan hanya mengisi kepala manusia dengan pengetahuan.

Bukan sekadar mencetak pekerja yang siap menjalankan mesin kehidupan.

Bukan pula sekadar menghasilkan lulusan dengan angka-angka yang mengesankan.

Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang memiliki hati untuk merasakan, akal untuk berpikir, dan keberanian untuk bertindak.

Manusia yang mampu melihat kesalahan orang lain tanpa kehilangan kesadaran atas kesalahannya sendiri.

Manusia yang mampu hidup di dalam sistem, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk memperbaikinya.

Manusia yang tidak sekadar bertanya, “Apa yang salah dengan mereka?”

Tetapi juga berani berdiri di depan cermin dan bertanya:

“Apa yang harus aku perbaiki dari diriku, dan apa yang harus kita perbaiki bersama?”

Sebab, mungkin perubahan besar tidak selalu dimulai dari pidato yang lantang atau kritik yang panjang.

Kadang, ia dimulai dari seseorang yang berani menatap dirinya sendiri dengan jujur.

Lalu, setelah itu, tidak lagi diam ketika melihat dunia di sekelilingnya membutuhkan perubahan.

Cermin Diri, Sistem, dan Jalan Pulang Pendidikan

Ada masa ketika manusia begitu sibuk memandang ke luar, hingga lupa bahwa di dalam dirinya sendiri terdapat sebuah rumah yang belum selesai dibersihkan.

Ia melihat kesalahan orang lain dengan mata yang tajam. Ia mengenali keburukan yang tumbuh di sekelilingnya. Ia hafal nama-nama mereka yang menyimpang, mengingat kekeliruan yang pernah dilakukan, bahkan mampu menyusun daftar panjang tentang segala sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, ketika tiba waktunya menengok ke dalam diri, ia mendadak kehilangan cahaya.

Barangkali karena menatap dunia jauh lebih mudah daripada menatap diri sendiri.

“Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain hingga lupa memperbaiki diri. Karena kelak, di hadapan Tuhan, bukan kesalahan orang lain yang akan ditanya, melainkan tentang kesalahan-kesalahan diri kita sendiri.”

Kalimat itu seperti mengetuk sebuah pintu yang selama ini kita tutup rapat-rapat.

Pintu menuju diri sendiri.

Di balik pintu itu, mungkin ada kesombongan yang belum kita akui. Ada kemarahan yang belum selesai kita damaikan. Ada luka yang diam-diam berubah menjadi kebencian. Ada kesalahan yang kita sembunyikan di balik alasan-alasan yang terdengar masuk akal.

Manusia memang sering menjadi hakim yang baik bagi orang lain, tetapi menjadi saksi yang buruk bagi dirinya sendiri.

Kita mudah berkata, ia telah berubah.

Kita mudah mengeluh, zaman sudah rusak.

Kita mudah bertanya, mengapa manusia semakin kehilangan nurani?

Tetapi jarang sekali kita berhenti dan bertanya:

Jangan-jangan, sedikit demi sedikit, aku juga sedang kehilangan diriku sendiri.

Cermin yang Tidak Pernah Berbohong

Cermin tidak pernah mengajari kita untuk membenci wajah sendiri.

Ia hanya memperlihatkan apa adanya.

Rambut yang mulai memutih.

Kerut yang perlahan hadir.

Mata yang kadang tampak lelah.

Wajah yang berubah karena waktu.

Barangkali, hidup juga menyediakan banyak cermin. Peristiwa, kegagalan, kehilangan, bahkan orang-orang yang tidak kita sukai, sering kali datang bukan hanya untuk mengganggu perjalanan kita.

Mereka mungkin sedang memperlihatkan sesuatu tentang diri kita.

Seseorang yang kita anggap sombong, mungkin sedang mengingatkan kita tentang kesombongan yang tidak kita sadari.

Seseorang yang kita anggap tidak jujur, mungkin membuat kita bertanya seberapa sering kita berdamai dengan kebohongan kecil.

Seseorang yang kita anggap gagal, mungkin sedang mengingatkan bahwa hidup tidak pernah menjanjikan keberhasilan kepada siapa pun.

Maka, sebelum menunjuk kesalahan orang lain, mungkin kita perlu lebih dahulu pulang kepada diri sendiri.

Bukan untuk menyalahkan diri tanpa henti.

Bukan pula untuk tenggelam dalam penyesalan.

Tetapi untuk belajar jujur.

Sebab, pada akhirnya, manusia akan berdiri sendiri di hadapan pertanggungjawabannya.

Tidak ada keramaian yang dapat menemani.

Tidak ada tepuk tangan yang dapat membela.

Tidak ada jabatan yang dapat menyembunyikan.

Yang tinggal hanyalah diri kita dan seluruh jejak yang pernah kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.

Lalu, Adakah yang Salah dengan Pendidikan?

Pertanyaan itu kemudian datang perlahan, seperti angin yang masuk melalui celah jendela pada sebuah malam yang sunyi.

Jika manusia telah diajarkan tentang kebaikan, mengapa keburukan tetap tumbuh?

Bukankah sejak kecil kita telah mengenal nasihat?

Kita diajari untuk berkata jujur.

Kita diminta menghormati orang tua.

Kita diperkenalkan pada kebaikan dan keburukan.

Kita diberi pelajaran tentang keadilan.

Kita membaca kisah para tokoh yang mengajarkan keberanian dan pengorbanan.

Di ruang kelas, manusia belajar banyak hal tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia.

Namun, kehidupan ternyata bukan ruang kelas.

Di luar sana, tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang sederhana.

Tidak semua kebaikan mendapat penghargaan.

Tidak semua kejujuran memenangkan keadaan.

Tidak semua orang yang bekerja dengan lurus memperoleh jalan yang mudah.

Di sanalah manusia mulai diuji.

Bukan ketika ia mampu menjawab soal di atas kertas, melainkan ketika ia harus memilih di antara dua jalan yang sama-sama memiliki risiko.

Satu jalan mungkin benar, tetapi sunyi.

Jalan yang lain mungkin salah, tetapi ramai.

Satu jalan mungkin membuat seseorang kehilangan kesempatan.

Jalan yang lain mungkin menawarkan kenyamanan.

Dan di persimpangan itulah, seluruh pelajaran tentang kehidupan perlahan diuji oleh kenyataan.

Ketika Manusia Masuk ke Dalam Sistem

Barangkali, pendidikan tidak selalu gagal mengajarkan kebaikan.

Yang sering terjadi adalah manusia kemudian memasuki dunia yang memiliki aturan tidak tertulis.

Sebuah sistem.

Di dalam sistem itu, seseorang belajar bahwa kenyataan tidak selalu berjalan seperti buku pelajaran.

Ada orang yang bertahan karena kejujurannya.

Ada pula yang justru maju karena kelicikannya.

Ada yang memilih diam karena takut kehilangan.

Ada yang berbicara, lalu harus berjalan sendirian.

Sistem, seperti udara, sering kali tidak terlihat. Tetapi ia menentukan cara manusia bernapas.

Jika udara di sekeliling kita bersih, kehidupan dapat tumbuh dengan sehat.

Tetapi jika udara telah dipenuhi racun, manusia harus berjuang lebih keras hanya untuk tetap bernapas.

Demikian pula sebuah sistem.

Orang baik dapat hidup di dalam sistem yang buruk. Tetapi pertanyaannya, sampai kapan ia mampu mempertahankan dirinya?

Hari demi hari, ia melihat kompromi.

Sedikit demi sedikit, ia menyaksikan sesuatu yang salah dianggap biasa.

Pada awalnya, hatinya mungkin menolak.

Tetapi kemudian ia mulai mendengar kalimat-kalimat yang terdengar akrab:

“Memang sudah seperti ini.”

“Semua orang juga melakukannya.”

“Kalau terlalu idealis, nanti kamu sendiri yang susah.”

Dan dari situlah perubahan sering dimulai.

Bukan dari sebuah keputusan besar.

Melainkan dari pembenaran kecil yang terus diulang.

Hari ini sedikit.

Besok sedikit lagi.

Sampai suatu hari manusia tidak lagi merasa bahwa dirinya telah berubah.

Ia hanya merasa sedang menyesuaikan diri.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments