spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Dari Majapahit ke Mataram: Jejak Kekuasaan, Babad, dan Mitos...

Part 2 : Dari Majapahit ke Mataram: Jejak Kekuasaan, Babad, dan Mitos Para Wali

Babad bahkan mengenal cerita bahwa Hadiwijaya sempat khawatir memberikan Mataram karena ramalan mengenai munculnya kerajaan besar di sana.

Oleh: Redaksi

Tiang dari Tatal dan Politik Persatuan

LESINDO.COM – Di Masjid Agung Demak, legenda itu memperoleh bentuk kayu.

Saka tatal.

Tradisi menyebut Sunan Kalijaga membuat salah satu saka guru dari potongan-potongan kayu atau tatal. Potongan kecil yang semestinya tidak cukup untuk menjadi tiang justru disatukan menjadi penyangga bangunan.

Museum dan sumber kebudayaan pemerintah memang mencatat keberadaan tiang tatal yang secara tradisional dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Kompleks Masjid Agung Demak juga menyimpan tradisi mengenai empat saka guru yang dikaitkan dengan para wali.

Tetapi sebuah legenda tidak otomatis menjadi dokumen teknis pembangunan masjid.

Nilai pentingnya justru mungkin berada pada simbol yang lahir kemudian.

Potongan kayu menjadi satu tiang.

Potongan masyarakat menjadi satu umat.

Potongan tradisi menjadi kebudayaan baru.

Itulah cara kerja mitos politik.

Ia mengambil benda sederhana lalu memberinya makna yang jauh lebih besar daripada fungsi aslinya.

Syekh Siti Jenar: Ketika Perbedaan Ajaran Menjadi Persoalan Kekuasaan

Tidak ada bagian dari narasi Islam Jawa yang lebih kontroversial daripada kisah Syekh Siti Jenar.

Ia dikenal melalui berbagai nama, cerita, dan versi kematian.

Dalam sebagian tradisi, ia dihukum oleh para wali karena ajarannya mengenai manunggaling kawula Gusti. Dalam cerita lain, kematiannya digambarkan secara mistis. Bahkan identitas historis Siti Jenar sendiri masih diperdebatkan.

Kajian terhadap tradisi babad menunjukkan bahwa keberadaan Siti Jenar sebagai tokoh sejarah tidak mudah dipastikan dengan sumber yang independen. Kisah tentangnya juga hadir dalam teks-teks yang memiliki kecenderungan dan kepentingan masing-masing.

Karena itu, cerita bahwa Wali Songo menggelar semacam sidang kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada Siti Jenar harus diperlakukan sebagai narasi tradisional, bukan berita pengadilan yang telah terbukti secara dokumenter.

Ada persoalan yang lebih besar.

Dalam babad, konflik teologis sering bertemu dengan politik.

Tokoh yang berbeda dari arus utama dapat digambarkan bukan hanya sebagai orang yang memiliki tafsir keagamaan berbeda, tetapi sebagai ancaman terhadap ketertiban kerajaan.

Di sinilah cerita Siti Jenar menjadi menarik.

Ia bukan hanya cerita tentang seorang sufi kontroversial.

Ia juga cerita tentang batas.

Batas antara ilmu hakikat dan syariat.

Batas antara guru dan penguasa.

Batas antara kebebasan spiritual dan ketertiban sosial.

Dan, mungkin, batas antara sejarah dengan propaganda.

Ketika Demak Pecah

Setelah Demak melemah, pusat kekuasaan Jawa bergerak ke Pajang.

Di sini muncul dua nama yang kemudian menjadi tokoh utama dalam Babad Tanah Jawi: Arya Penangsang dan Jaka Tingkir, atau Sultan Hadiwijaya.

Arya Penangsang menguasai Jipang.

Hadiwijaya menguasai Pajang.

Perseteruan mereka tidak sekadar persoalan dua pribadi. Di belakangnya terdapat persoalan suksesi, jaringan keluarga, loyalitas elite, dan hak atas warisan politik Demak.

Dalam kisah babad, konflik itu kemudian diberi bentuk dramatik.

Ada keris Kyai Setan Kober.

Ada kuda.

Ada strategi perang.

Ada sayembara.

Dan ada seorang pemuda bernama Sutawijaya.

Di sinilah cerita sering kali tergelincir.

Sutawijaya bukan sekadar anak angkat yang kemudian “membantu” kemenangan Joko Tingkir. Dalam tradisi yang berkembang, ia justru memainkan peran penting dalam operasi melawan Arya Penangsang. Sebuah kajian historiografi bahkan mencatat adanya perbedaan antara versi resmi dan kenyataan dalam cerita: Pemanahan dan Penjawi dilaporkan sebagai pihak yang membunuh Arya Penangsang, sementara Sutawijaya disebut sebagai pelaku sebenarnya dalam sejumlah sumber.

Dari sini terlihat bahwa pembunuhan seorang rival politik bukan sekadar persoalan siapa yang mengayunkan senjata.

Yang lebih penting adalah:

siapa yang memperoleh kehormatan setelahnya.

Dan siapa yang mendapat tanah.

Hadiah yang Mengubah Peta Jawa

Hadiah itu bernama Mentaok.

Wilayah yang ketika itu masih berupa hutan diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai balas jasa atas perjuangannya membantu Pajang menghadapi Arya Penangsang.

Di atas tanah inilah sejarah Mataram mulai disusun.

Sumber-sumber historiografi Mataram menyebut Pemanahan membuka Mentaok dan membangun pusat permukiman baru. Setelah Pemanahan wafat, kepemimpinan beralih kepada putranya, Sutawijaya.

Tetapi hadiah tanah itu menyimpan ironi.

Pajang memberikan wilayah yang tampak sebagai pinggiran.

Kelak wilayah itu melahirkan kekuatan yang justru menyingkirkan Pajang.

Babad bahkan mengenal cerita bahwa Hadiwijaya sempat khawatir memberikan Mataram karena ramalan mengenai munculnya kerajaan besar di sana.

Jika dibaca sebagai sejarah politik, cerita itu mungkin merupakan cara generasi kemudian menjelaskan mengapa Mataram akhirnya mampu menundukkan Pajang.

Jika dibaca sebagai legenda, ramalan tersebut memberikan kesan bahwa kebesaran Mataram sudah ditentukan jauh sebelum kerajaan itu berdiri.

Keduanya memiliki fungsi yang sama:

memberikan legitimasi kepada penguasa Mataram.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments