spot_img
BerandaLensa IndonesiaPart 1 : Alas Purwo: Dari Hutan Purba, Jejak Kolonial Hingga Panggung...

Part 1 : Alas Purwo: Dari Hutan Purba, Jejak Kolonial Hingga Panggung Wisata Spiritual

Oleh : Faicha AM (Mahasiswa Unair FKH)

LESINDO.COM – Di ujung timur Jawa, sebuah hutan hidup di antara fakta dan legenda. Orang datang mencari banteng, ombak dan jejak sejarah. Sebagian lainnya datang membawa doa, menjalani laku, atau sekadar ingin menguji keberanian. Alas Purwo berubah wajah, tetapi satu hal tetap bertahan: hutan itu masih menyimpan banyak hal yang belum selesai diceritakan.

Jalan menuju Alas Purwo perlahan menyempit. Aspal berganti jalan yang membelah rimbun pepohonan. Di kiri-kanan, batang-batang tua berdiri seperti tiang-tiang alam yang menyangga atap hijau. Cahaya matahari hanya jatuh dalam potongan-potongan kecil di sela kanopi.

Tidak ada papan yang mengatakan bahwa di balik hutan itu tersimpan salah satu bentang alam penting di ujung timur Jawa.

Tidak pula ada tanda yang menjelaskan mengapa tempat ini sejak lama dianggap sakral.

Yang terdengar hanya suara kendaraan, angin dan sesekali burung dari dalam hutan.

Alas Purwo memang memiliki dua wajah.

Bagi konservasionis, ia adalah kawasan yang harus dijaga karena menyimpan ekosistem karst, hutan hujan dataran rendah, pantai, mangrove, savana dan habitat satwa liar. Bagi sebagian masyarakat Jawa dan peziarah, ia adalah ruang spiritual yang dipercaya menyimpan kekuatan gaib. Di antara keduanya terdapat sejarah panjang tentang manusia yang pernah datang, tinggal, bertapa, bersembunyi, mengelola hutan, hingga menjadikannya tujuan wisata.

Di sinilah cerita Alas Purwo menjadi menarik.

Sebab yang disebut sebagai “hutan pertama” itu ternyata bukan sekadar cerita tentang usia sebuah hutan.

Mitos tentang “hutan pertama”

Nama Alas Purwo berasal dari bahasa Jawa. Alas berarti hutan, sedangkan purwo bermakna awal atau permulaan.

Dalam kepercayaan masyarakat, Alas Purwo sering dikaitkan dengan hutan pertama atau awal mula terbentuknya tanah Jawa. Cerita itu hidup dari generasi ke generasi dan kemudian membentuk citra Alas Purwo sebagai hutan tua, sakral dan penuh misteri.

Tetapi ada satu hal yang perlu dibedakan: kepercayaan masyarakat bukanlah bukti ilmiah bahwa Alas Purwo merupakan hutan pertama yang tercipta di Pulau Jawa.

Istilah “hutan pertama” lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari mitologi dan kosmologi masyarakat.

Justru penelitian arkeologi memberikan cerita lain yang tidak kalah menarik.

Kawasan Semenanjung Blambangan—wilayah tempat Alas Purwo berada—menyimpan tinggalan dari berbagai periode. Penelitian arkeologi menemukan jejak yang berkaitan dengan masa prasejarah, Hindu, Islam hingga kolonial. Kondisi karst dengan gua-gua alami memungkinkan kawasan ini menjadi ruang aktivitas manusia sejak masa lampau.

Dengan kata lain, jika mitologi berbicara tentang “awal”, arkeologi berbicara tentang jejak manusia yang benar-benar pernah hidup dan beraktivitas di dalam bentang alam tersebut.

Dua cerita itu berjalan berdampingan.

Sebelum menjadi taman nasional

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi): Satwa langka yang juga menjadi fokus perlindungan dan monitoring oleh pihak Balai TNAP. (mc)

Alas Purwo hari ini tampak seperti kawasan konservasi yang telah mapan. Namun status itu bukan sesuatu yang sudah ada sejak awal.

Catatan resmi pengelolaan kawasan menunjukkan bahwa hutan Purwo ditunjuk sebagai kawasan cagar alam pada 1920, pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kawasan tersebut mencakup Cagar Alam Djati Ikan dan Cagar Alam Poerwo.

Sembilan belas tahun kemudian, pada 1939, statusnya berubah menjadi Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan. Setelah Indonesia merdeka dan sistem pengelolaan kawasan terus berkembang, pada 1992 kawasan itu ditetapkan menjadi Taman Nasional Alas Purwo. Penetapan kawasan kemudian dilakukan kembali pada 2014 dengan luas 44.037,30 hektare.

Perubahan status itu menunjukkan satu hal penting: hutan yang sekarang dianggap sebagai ruang mistik sebenarnya juga memiliki sejarah panjang dalam politik pengelolaan alam.

Dulu, hutan dipandang dari kepentingan kolonial dan pengelolaan sumber daya.

Kemudian, ia ditempatkan sebagai kawasan konservasi.

Kini, ia juga menjadi destinasi wisata.

Perubahan tersebut mengubah cara manusia memandang Alas Purwo.

Dari hutan liar menjadi laboratorium konservasi

Di Savana Sadengan, cerita tentang Alas Purwo berubah lagi.

Pagi hari, ketika matahari belum terlalu tinggi, banteng Jawa dapat terlihat bergerak di antara rerumputan. Beberapa rusa dan kijang muncul di kejauhan. Burung-burung terbang rendah sebelum kembali menghilang ke dalam hutan.

Sadengan bukan savana alami yang muncul begitu saja.

Kawasan itu merupakan padang penggembalaan yang dikelola untuk mendukung habitat satwa, terutama banteng Jawa. Luasnya sekitar 84 hektare. Pengelolaannya mencakup pemeliharaan rumput pakan, sumber air dan pengendalian tumbuhan invasif.

Di sinilah paradoks konservasi terlihat.

Untuk mempertahankan kehidupan liar, manusia justru harus turun tangan.

Banteng yang tampak liar membutuhkan pengelolaan habitat.

Padang rumput harus dijaga.

Tumbuhan invasif harus dikendalikan.

Sumber air harus dipelihara.

Artinya, konservasi bukan berarti membiarkan alam berjalan sepenuhnya tanpa campur tangan manusia. Ada pengelolaan, pengawasan dan keputusan-keputusan ekologis yang harus dibuat setiap hari.

Alas Purwo bukan hutan yang “dibiarkan”.

Ia adalah hutan yang dijaga.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments