spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Senyum di Balik Tirai Takdir

Part 1 : Senyum di Balik Tirai Takdir

Barangkali salah satu sumber kelelahan manusia adalah keinginan untuk mengatur sesuatu yang memang tidak dititipkan kepadanya.

Oleh: Hibban M 

LESINDO.COM – Ada masa ketika hidup terasa berjalan tidak sebagaimana yang kita inginkan. Rencana yang disusun dengan hati-hati tiba-tiba berantakan. Harapan yang dirawat bertahun-tahun belum juga menemukan pintu. Orang yang diharapkan tinggal justru memilih pergi. Ada pula doa yang telah berulang kali dipanjatkan, tetapi jawabannya seperti tertunda entah sampai kapan.

Pada saat-saat seperti itu, manusia mudah bertanya: mengapa harus saya?

Pertanyaan itu sangat manusiawi. Sebab kita terbiasa melihat kehidupan dari jarak yang sangat dekat. Kita mengenali apa yang sedang hilang, tetapi belum tentu memahami apa yang sedang disiapkan.

Jalaluddin Rumi pernah mengingatkan, “Andaikan saja engkau mengetahui rencana indah Allah di balik takdir-takdir-Nya, maka engkau tak akan pernah bisa berhenti tersenyum.”

Barangkali di situlah persoalannya. Kita sering ingin mengetahui akhir sebuah perjalanan sebelum bersedia menjalani langkah pertama.

Padahal, hidup tidak selalu bekerja dengan cara demikian.

Ketika Jalan Tidak Sesuai Peta

Manusia menyukai kepastian. Kita membuat rencana pendidikan, pekerjaan, keluarga, perjalanan, bahkan masa depan anak-anak. Semuanya disusun seolah-olah kehidupan dapat dipetakan seperti jalan yang sudah memiliki rambu.

Namun hidup mempunyai caranya sendiri.

Ada jalan yang tiba-tiba ditutup. Ada pintu yang berkali-kali diketuk tetapi tidak kunjung terbuka. Ada kesempatan yang datang ketika kita belum siap, dan ada pula kehilangan yang datang ketika kita merasa masih sangat membutuhkannya.

Pada titik tertentu, manusia dipaksa memahami bahwa tidak semua hal berada dalam genggamannya.

Di sinilah keluh kesah sering mengambil alih.

Kita mengukur takdir berdasarkan apa yang terlihat hari ini. Kesulitan dianggap sebagai pertanda buruk. Kegagalan dianggap sebagai akhir. Kehilangan dianggap sebagai hukuman. Kita lupa bahwa manusia hanya melihat satu halaman, sementara perjalanan kehidupan adalah sebuah buku yang jauh lebih panjang.

Apa yang hari ini disebut musibah, bisa saja kelak dikenang sebagai titik balik.

Apa yang sekarang terasa sebagai kehilangan, mungkin suatu hari dipahami sebagai cara Tuhan menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak pernah kita ketahui.

Bukan berarti setiap luka harus segera dianggap indah. Tidak pula berarti manusia dilarang menangis ketika kehilangan. Kesedihan tetaplah kesedihan. Air mata tetaplah bagian dari kemanusiaan.

Tetapi setelah menangis, selalu ada pilihan untuk kembali berdiri.

Belajar Tidak Mengatur Langit

Barangkali salah satu sumber kelelahan manusia adalah keinginan untuk mengatur sesuatu yang memang tidak dititipkan kepadanya.

Kita ingin mengatur hasil, padahal tugas kita sering kali hanya menjalani proses.

Kita ingin memastikan hari esok, padahal bahkan beberapa jam ke depan masih menjadi rahasia.

Karena itu, menerima takdir bukan berarti berhenti berusaha. Pasrah kepada Allah bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Justru manusia diminta berjalan sejauh kemampuan yang dimiliki, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Menentukan.

Seperti petani yang menanam.

Ia menyiapkan tanah, memilih benih, memberi air, membersihkan gulma. Namun ia tidak bisa memerintahkan hujan turun pada pagi tertentu. Ia tidak bisa memaksa matahari bersinar sesuai keinginannya. Ia hanya dapat melakukan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Selebihnya adalah wilayah Tuhan.

Begitu pula kehidupan.

Ada bagian yang harus kita perjuangkan dan ada bagian yang harus kita relakan.

Keduanya membutuhkan keberanian.

Husnuzhan yang Menenangkan

Dalam ajaran Islam, ada satu sikap batin yang sering terdengar sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijalankan: husnuzhan—berprasangka baik kepada Allah.

Prasangka baik bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Bukan pula memaksa diri mengatakan bahwa semua baik-baik saja ketika hati sedang terluka.

Husnuzhan adalah keberanian untuk mengatakan kepada diri sendiri: Aku belum memahami maksud dari semua ini, tetapi aku percaya Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan sesuatu.

Kalimat semacam itu mungkin tidak langsung menghilangkan persoalan.

Namun ia dapat mengubah cara seseorang memandang persoalan.

Kerikil tetap kerikil. Jalan tetap terjal. Tetapi hati tidak lagi berjalan sambil memaki setiap batu yang ditemuinya.

Ada kesabaran yang tumbuh.

Ada ruang bagi akal untuk berpikir lebih jernih.

Ada kesempatan bagi hati untuk berhenti menyalahkan keadaan.

Dan sering kali, dari sana lahir sesuatu yang tidak kita duga: kedewasaan.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments