LESINDO.COM – Ada masa ketika keberhasilan cukup dirasakan. Kini, keberhasilan seolah harus diperlihatkan. Rumah harus tampak megah. Kendaraan harus berganti kelas. Pakaian harus mengikuti merek. Liburan harus diabadikan. Makan di tempat tertentu perlu dipotret. Bahkan secangkir kopi pun kadang terasa belum lengkap sebelum masuk ke layar media sosial.
Kita hidup dalam zaman ketika sukses bukan hanya ingin dicapai, tetapi juga ingin segera terlihat.
Di situlah persoalan bermula.
Keinginan untuk hidup lebih baik sesungguhnya bukan sesuatu yang salah. Setiap orang berhak bermimpi memiliki rumah yang nyaman, kendaraan yang layak, usaha yang berkembang, dan kehidupan yang lebih sejahtera.
Yang patut direnungkan adalah ketika keinginan itu berubah menjadi kebutuhan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Seseorang yang sebenarnya belum mapan mulai memaksakan diri tampil mapan.
Usaha baru tumbuh sedikit, gaya hidup sudah melonjak jauh. Penghasilan belum stabil, tetapi cicilan bertambah. Modal usaha bercampur dengan kebutuhan konsumtif. Dana yang semestinya berputar untuk mengembangkan bisnis justru tersedot untuk memenuhi keinginan pribadi.
Lalu utang datang sebagai penyelamat sementara.
Masalahnya, utang tidak pernah benar-benar menghilangkan kebutuhan. Ia hanya memindahkan beban hari ini ke hari esok.
Hari ini mendapatkan kendaraan.
Besok membayar cicilan.
Hari ini rumah direnovasi agar tampak lebih mewah.
Bulan berikutnya menghitung bagaimana kewajiban harus ditutup.
Hari ini ingin terlihat berhasil.
Hari esok harus bekerja lebih keras agar penampilan keberhasilan itu tetap bertahan.
Pada titik tertentu, seseorang tidak lagi bekerja untuk membangun kehidupan, tetapi bekerja untuk membayar kehidupan yang telanjur ingin terlihat berhasil.
Sukses yang Kehilangan Proses
Barangkali salah satu persoalan zaman ini adalah hilangnya kesabaran terhadap proses.
Kita melihat orang lain berhasil, tetapi tidak melihat tahun-tahun ketika ia gagal.
Kita melihat rumahnya, tetapi tidak melihat bagaimana ia menabung bertahun-tahun.
Kita melihat bisnisnya besar, tetapi tidak melihat ketika ia memulai dari ruang kecil dengan modal terbatas.
Kita melihat hasil akhirnya, tetapi melewatkan perjalanan panjang yang membentuknya.
Media sosial memperpendek jarak antara keberhasilan seseorang dan pandangan kita. Yang muncul di layar biasanya adalah hasil, bukan proses.
Akibatnya, kehidupan orang lain menjadi ukuran bagi kehidupan kita sendiri.
Di sinilah kesabaran mulai kehilangan tempat.
Orang ingin cepat kaya.
Cepat memiliki rumah.
Cepat punya kendaraan.
Cepat punya usaha besar.
Cepat dianggap sukses.
Padahal, sesuatu yang dibangun terlalu cepat belum tentu memiliki akar yang cukup dalam.
Kita sering ingin menikmati buah sebelum bersedia menanam pohonnya.
Lebih ironis lagi, ketika kemampuan finansial belum sampai, utang digunakan untuk mengejar penampilan.
Utang yang semestinya menjadi instrumen produktif berubah menjadi alat konsumsi.
Pinjaman yang seharusnya membantu mengembangkan usaha justru digunakan untuk memenuhi gengsi.
Kartu kredit, paylater, pinjaman, dan berbagai fasilitas pembiayaan dapat terasa seperti tambahan kemampuan membeli. Padahal, secara sederhana, ia adalah kemampuan membeli yang dipindahkan dari masa depan ke hari ini.
Yang dibeli sekarang, dibayar kemudian.
Yang dinikmati hari ini, menjadi kewajiban esok hari.
Jika kemampuan membayar tidak bertambah, sementara keinginan terus meningkat, kehidupan perlahan masuk ke dalam lingkaran yang melelahkan.
Ketika Gengsi Lebih Mahal daripada Kebutuhan
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang kadang sulit dijawab:
Kita membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkan, atau karena ingin dilihat berhasil?
Pertanyaan itu penting karena kebutuhan memiliki batas, sedangkan gengsi hampir tidak pernah mengenal kata cukup.
Hari ini kendaraan baru terasa cukup.
Besok muncul model yang lebih tinggi.
Hari ini rumah terasa membanggakan.
Besok melihat rumah orang lain yang lebih besar.
Hari ini pakaian dianggap keren.
Besok ada merek lain yang lebih mahal.
Begitulah konsumsi bekerja ketika ia tidak lagi dipandu kebutuhan.
Selalu ada sesuatu yang lebih baru.
Selalu ada sesuatu yang lebih mahal.
Selalu ada seseorang yang tampak lebih berhasil.
Jika ukuran kebahagiaan diletakkan pada apa yang dimiliki orang lain, manusia akan sulit sampai pada kata cukup.
Dan ketika kata cukup hilang, berapa pun penghasilan seseorang bisa terasa kurang.
Di sinilah persoalannya bukan semata-mata soal uang.
Ini juga soal cara memandang kehidupan.
Amanah yang Jangan Dijadikan Gaya Hidup
Persoalan menjadi jauh lebih serius ketika uang yang digunakan bukan sepenuhnya milik pribadi.
Dalam usaha, ada modal yang harus diputar. Dalam pekerjaan tertentu ada dana yang dipercayakan. Ada uang nasabah, ada pinjaman, ada kewajiban kepada pihak lain.
Semua itu memiliki konsekuensi.
Ketika dana yang dipercayakan kepada seseorang mulai digunakan untuk membiayai gaya hidup pribadi, persoalannya tidak lagi sekadar konsumtif.
Ada amanah yang sedang dipertaruhkan.
Di sinilah seseorang perlu membedakan antara mampu menggunakan uang dan berhak menggunakan uang.
Tidak semua uang yang berada di tangan kita adalah milik kita.
Tidak semua yang bisa dibeli berarti layak dibeli.
Dan tidak semua yang mampu kita cicil berarti mampu kita tanggung.
Kalimat terakhir ini sering terlambat disadari.
Sebab cicilan membuat sesuatu terlihat murah pada awalnya. Yang jarang terlihat adalah akumulasi kewajiban yang datang setiap bulan.
Hidup Tidak Perlu Dipentaskan
Barangkali kita perlu kembali belajar bahwa kehidupan tidak harus selalu dipertontonkan.
Tidak semua keberhasilan membutuhkan kamera.
Tidak semua pencapaian membutuhkan unggahan.
Tidak semua rezeki harus menjadi pembuktian.
Ada orang yang bertahun-tahun hidup sederhana, tetapi usahanya tumbuh sehat.
Ada orang yang kendaraannya biasa saja, tetapi tabungannya cukup.
Ada orang yang rumahnya tidak megah, tetapi tidurnya tenang karena tidak dikejar kewajiban.
Ada pula orang yang tidak banyak bercerita tentang keberhasilannya, tetapi diam-diam membantu banyak orang.
Mereka mungkin tidak terlihat sukses di layar.
Tetapi kehidupan tidak pernah ditentukan oleh apa yang paling sering muncul di layar.
Sukses yang sebenarnya mungkin justru ketika seseorang tidak lagi membutuhkan pengakuan orang lain untuk merasa berhasil.
Ia tahu apa yang dimiliki.
Ia tahu dari mana datangnya.
Ia tahu apa yang menjadi haknya.
Ia tahu apa yang merupakan amanah.
Dan ia tahu kapan harus berkata cukup.
Jangan Memaksa Hidup Berlari
Proses memang melelahkan.
Menabung sedikit demi sedikit terasa lambat.
Membangun usaha dari bawah terasa panjang.
Menahan keinginan membeli sesuatu terasa tidak menyenangkan.
Melihat teman sudah jauh lebih maju kadang membuat hati bertanya, mengapa kita belum sampai?
Tetapi setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Tidak semua keterlambatan adalah kegagalan.
Tidak semua kesederhanaan adalah kemunduran.
Dan tidak semua kemewahan adalah keberhasilan.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar cepat sampai: memastikan bahwa jalan yang ditempuh tidak menghancurkan diri sendiri.
Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang pertama yang terlihat sukses.
Hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang mampu mempertanggungjawabkan apa yang dimiliki.
Maka, barangkali kita perlu sedikit memperlambat langkah.
Bukan berhenti bermimpi.
Bukan pula takut menjadi kaya.
Tetapi belajar membedakan antara kemajuan dan penampilan kemajuan; antara kebutuhan dan gengsi; antara investasi dan konsumsi; antara kemampuan membeli dan kemampuan membayar.
Sebab ada orang yang tampak sedang naik, padahal sebenarnya sedang menggali lubang.
Dan ada orang yang tampak berjalan lambat, padahal sedang membangun fondasi.
Pada akhirnya, waktu akan membuka semuanya.
Apa yang dibangun dengan kesabaran akan diuji oleh waktu.
Apa yang dibangun dengan utang dan gengsi juga akan diuji oleh waktu.
Karena kehidupan tidak pernah benar-benar peduli pada seberapa mewah seseorang terlihat. Kehidupan hanya akan bertanya: seberapa kuat ia mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dipilihnya.

