spot_img
BerandaBudayaPart 1 : Gatholoco: Ketika Tokoh Vulgar Menantang Kesalehan yang Hanya Berhenti...

Part 1 : Gatholoco: Ketika Tokoh Vulgar Menantang Kesalehan yang Hanya Berhenti di Kulit

Dalam sejumlah penafsiran, nama tersebut dikaitkan dengan simbol tubuh laki-laki dan aktivitas seksual. Pembaca modern mungkin berhenti pada aspek vulgar itu. Tetapi dalam tradisi simbolik Jawa, tubuh tidak selalu hanya tubuh.

Menelusuri jejak sebuah serat Jawa yang menggunakan bahasa kasar, tubuh, dan perdebatan keagamaan untuk mengajukan pertanyaan yang justru sangat serius: apakah manusia mengenal Tuhan hanya melalui aturan, atau melalui pengenalan terhadap dirinya sendiri?

Oleh: Raihan HM

LESINDO.COM – Ada karya sastra yang mengajak pembacanya masuk melalui pintu yang sopan. Ada pula yang justru mendobrak pintu itu dengan suara gaduh.

Serat Gatholoco termasuk yang kedua.

Ia tidak datang dengan wajah seorang pujangga yang santun. Tokoh utamanya digambarkan buruk rupa, urakan, keras kepala, bahkan menggunakan nama yang bagi telinga masyarakat Jawa terdengar vulgar. Ia berdebat dengan para santri, mempertanyakan otoritas keagamaan, membongkar istilah-istilah yang dianggap sakral, dan tidak segan menyeret persoalan tubuh serta seksualitas ke tengah perdebatan tentang Tuhan.

Bagi pembaca yang melihat agama hanya dari kesopanan bahasa, Gatholoco bisa dianggap keterlaluan.

Tetapi justru di situlah kegelisahan yang hendak dibuka karya ini.

Gatholoco seolah bertanya: ketika manusia begitu sibuk mempertahankan bentuk lahiriah agama, apakah ia masih sempat bertanya tentang hakikat di balik bentuk tersebut?

Pertanyaan itu membuat Serat Gatholoco tidak mudah ditutup hanya dengan cap “karya vulgar”.

Tokoh yang Sengaja Dibuat Tidak Ideal

Gatholoco bukan tokoh suci dalam pengertian konvensional.

Ia bukan kiai yang duduk di atas mimbar. Bukan pula pertapa yang mengenakan pakaian sederhana lalu berbicara penuh kebijaksanaan. Ia justru tampil sebagai sosok yang mengganggu kenyamanan.

Karakter semacam ini penting dalam tradisi sastra satiris. Pengarang tidak selalu menempatkan kebenaran di mulut tokoh yang secara sosial dihormati. Kadang-kadang kebenaran justru diselipkan melalui mulut orang yang dianggap rendah, aneh, bahkan menjijikkan.

Di situlah Gatholoco menjadi semacam cermin terbalik.

Yang buruk rupa dapat berbicara tentang keindahan batin.

Yang dianggap tidak sopan dapat mempertanyakan kesopanan orang-orang yang merasa paling benar.

Yang tidak mengenakan simbol kesalehan justru mempertanyakan apakah simbol tersebut benar-benar telah melahirkan manusia yang berbudi.

Maka, membaca Gatholoco secara harfiah saja berisiko kehilangan lapisan terdalamnya.

Nama yang Menggemparkan

Nama “Gatholoco” sendiri telah menjadi pintu kontroversi.

Dalam sejumlah penafsiran, nama tersebut dikaitkan dengan simbol tubuh laki-laki dan aktivitas seksual. Pembaca modern mungkin berhenti pada aspek vulgar itu. Tetapi dalam tradisi simbolik Jawa, tubuh tidak selalu hanya tubuh.

Tubuh dapat menjadi metafora tentang asal-usul kehidupan.

Dari tubuh lahirlah manusia. Dari hubungan laki-laki dan perempuan berlangsung regenerasi kehidupan. Dari kehidupan muncul pertanyaan tentang dari mana manusia berasal dan ke mana akhirnya kembali.

Dengan demikian, tubuh dalam Gatholoco dapat dibaca sebagai pintu menuju pertanyaan yang jauh lebih tua daripada perdebatan agama itu sendiri:

Sangkan paraning dumadi—dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali?

Di sini seksualitas tidak semata-mata ditempatkan sebagai sesuatu yang erotis. Ia menjadi simbol tentang rahasia penciptaan.

Justru karena menggunakan bahasa yang ekstrem, pengarang memaksa pembaca berhadapan dengan sesuatu yang biasanya disembunyikan oleh kesopanan sosial: bahwa manusia adalah makhluk jasmani sekaligus rohani.

Perdebatan yang Sebenarnya Bukan Sekadar Debat

Gatholoco digambarkan gemar berdebat.

Ia berhadapan dengan tokoh-tokoh yang membawa pengetahuan agama, terutama pengetahuan yang bersifat formal. Persoalannya bukan sekadar siapa yang menang dalam adu argumentasi.

Perdebatan itu menjadi panggung untuk mempertemukan dua cara melihat agama.

Yang pertama adalah agama sebagai aturan: halal dan haram, boleh dan tidak boleh, sah dan tidak sah.

Yang kedua adalah agama sebagai perjalanan batin: bagaimana manusia memahami Tuhan, memahami dirinya, dan mengubah perilakunya.

Dalam pembacaan yang lebih luas, Serat Gatholoco tampaknya tidak sedang menghapus syariat. Ia justru memperingatkan bahaya ketika syariat berhenti sebagai bentuk dan kehilangan ruh.

Sebab seseorang bisa sangat fasih berbicara mengenai Tuhan, tetapi belum tentu memiliki belas kasih.

Seseorang dapat mengetahui banyak hukum, tetapi belum tentu mampu mengendalikan kesombongan.

Seseorang dapat tampak saleh di hadapan manusia, tetapi masih sibuk memelihara kebencian di dalam dirinya.

Pertanyaan Gatholoco menjadi mengganggu karena ia menyentuh wilayah tersebut.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments