spot_img
BerandaJelajahPagi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Pagi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Dan pada suatu pagi, ketika dunia terasa begitu sepi, kita mungkin kembali menjadi seorang anak kecil yang berdiri di depan rumah.

Tiga Puluh Tiga Tahun Berlalu Bukanlah Waktu yang Singkat.

LESINDO.COM – Dalam rentang sepanjang itu, banyak hal telah berubah. Jalan-jalan yang dahulu lengang kini mungkin telah dipenuhi kendaraan. Bangunan-bangunan baru tumbuh di tempat yang dahulu hanya berupa kebun atau tanah lapang. Wajah-wajah yang pernah akrab satu per satu menghilang dari pandangan. Sebagian pergi mengikuti jalan hidupnya, sebagian lagi telah lebih dahulu pulang kepada keabadian.

Namun, ada hal-hal tertentu yang rupanya tidak bisa dikalahkan oleh waktu.

Salah satunya adalah kenangan tentang pagi.

Tentang sebuah rumah.

Tentang teras sederhana.

Dan tentang seorang ibu yang berdiri di sana, menunggu anak bungsunya berangkat sekolah.

Waktu itu, saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Usia belasan tahun adalah usia ketika dunia terasa begitu luas. Jalan menuju sekolah seperti sebuah perjalanan kecil menuju dunia yang belum sepenuhnya saya mengerti. Ada pelajaran yang harus dikejar, teman-teman yang harus ditemui, juga berbagai cerita remaja yang saat itu terasa begitu penting.

Tetapi, sebelum semua itu dimulai, ada satu tempat yang selalu menjadi awal dari perjalanan saya setiap pagi: rumah.

Dari delapan bersaudara, saya menjadi satu-satunya anak yang masih tinggal bersama ibu. Kakak-kakak saya telah lebih dahulu tumbuh, menempuh jalan kehidupan masing-masing, dan meninggalkan rumah untuk mengejar masa depan mereka.

Tinggallah saya, anak bungsu, yang masih setiap hari menikmati kehadiran ibu secara utuh.

Kini, ketika mengingatnya kembali, saya menyadari betapa beruntungnya saya.

Saat itu, tentu saja saya tidak pernah berpikir bahwa hari-hari tersebut suatu ketika akan menjadi harta paling mahal dalam hidup. Saya menjalaninya begitu saja, seperti anak-anak lain menjalani masa remajanya.

Bangun pagi.

Mandi.

Mengenakan seragam.

Menyandang tas.

Lalu berangkat sekolah.

Begitu sederhana.

Begitu biasa.

Namun, justru dari kesederhanaan itulah, kenangan yang paling dalam tumbuh.

Sebelum pasar kecamatan dilalap api dan mengubah banyak hal dalam kehidupan kami, ibu memiliki sebuah toko kelontong yang cukup lumayan waktu  itu menjadi tempat mengambil barang dari konsumen atau pedagang kecil yang di jual lagi di dekat pasar.

Toko itu adalah bagian dari denyut kehidupan keluarga kami.

Setiap hari, sebelum matahari benar-benar meninggi, ibu sudah memulai pekerjaannya. Ada barang-barang yang harus ditata, pembeli yang harus dilayani, dan urusan rumah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ibu adalah perempuan yang tangguh.

Tubuhnya sehat dan kuat. Langkahnya cepat. Tangannya seolah tidak pernah berhenti bekerja.

Namun, di tengah kesibukan itu, ibu selalu memiliki waktu untuk satu hal kecil yang bagi saya kini terasa begitu besar: mengantar saya berangkat sekolah.

Saya masih dapat membayangkan pagi-pagi itu.

Udara masih dingin. Matahari belum sepenuhnya menghangatkan halaman. Kadang-kadang embun masih menggantung di ujung daun. Jalan di depan rumah belum seramai siang hari.

Di teras rumah, ibu sudah ada di sana.

Menunggu.

Tidak pernah terburu-buru.

Tidak pernah terlihat sebagai sebuah kewajiban.

Ia hanya berdiri, memperhatikan.

Kadang tangannya merapikan kerah baju saya.

Kadang memastikan tas sudah tersandang dengan benar.

Kadang hanya memandang sebentar, seolah ingin memastikan anak bungsunya benar-benar siap menghadapi dunia di luar rumah.

Lalu saya melangkah.

Ibu tetap berdiri.

Saya berjalan semakin jauh.

Dan sebelum berbelok meninggalkan pandangan, entah berapa kali saya menoleh.

Ibu masih di sana.

Kadang melambaikan tangan.

Kadang hanya tersenyum.

Tidak ada kata-kata panjang.

Tidak ada nasihat yang terdengar seperti pidato.

Namun, sekarang saya tahu, pada setiap pagi itu, ibu sebenarnya sedang mengirimkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ucapan selamat berangkat.

Ia mengirimkan cinta.

Barangkali, begitulah kasih seorang ibu.

Ia sering hadir tanpa suara.

Tidak banyak meminta untuk dipahami.

Tidak pula sibuk menjelaskan betapa besar pengorbanannya.

Kasih itu hanya hadir dalam hal-hal kecil yang sering kali baru kita sadari ketika semuanya telah terlambat untuk diulang.

Ketika masih menjadi anak-anak, kita mungkin merasa ibu hanya sekadar berdiri di teras.

Sekadar menunggu.

Sekadar mengantar.

Sekadar melambaikan tangan.

Namun, setelah puluhan tahun berlalu, kita baru mengerti bahwa tidak semua orang di dunia memiliki seseorang yang dengan setia menunggu kepulangannya.

Tidak semua orang memiliki sepasang mata yang selalu mengawasi langkahnya dengan penuh kekhawatiran dan harapan.

Dan tidak semua orang memiliki rumah yang di dalamnya ada seorang ibu.

Kini, tiga puluh tahun telah berlalu.

Pasar itu telah berubah.

Toko kelontong tempat ibu mencari nafkah pun telah lama menjadi bagian dari cerita masa lalu. Kebakaran pernah datang dan meluluhlantakkan tempat itu, membawa pergi sebagian dari ruang kehidupan kami.

Waktu terus berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang.

Ibu pun akhirnya pergi.

Kepergiannya meninggalkan sebuah ruang yang tidak dapat diisi oleh siapa pun.

Rumah boleh berubah.

Pasar boleh berganti wajah.

Jalan-jalan boleh semakin ramai.

Namun, kehilangan seorang ibu adalah kehilangan yang memiliki sunyi sendiri.

Ada hari-hari ketika saya baik-baik saja.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada orang-orang yang harus ditemui. Ada kehidupan yang harus terus dijalani.

Tetapi, kadang-kadang, tanpa sebab yang jelas, sebuah kenangan datang.

Pagi hari.

Udara dingin.

Anak-anak berseragam berjalan menuju sekolah.

Atau mungkin hanya sebuah rumah dengan teras sederhana.

Lalu, entah dari mana, ingatan itu kembali terbuka.

Saya seperti melihat diri sendiri puluhan tahun lalu.

Seorang anak SMP dengan seragam sekolah.

Tas di punggung.

Dan ibu yang berdiri di depan rumah.

Pada saat-saat seperti itu, hati saya sering kali menjadi sangat sunyi.

Bukan hanya karena rindu.

Melainkan juga karena menyadari bahwa betapa indahnya kehidupan yang dahulu saya miliki.

Betapa bahagianya saya, meski pada waktu itu belum sepenuhnya menyadarinya.

Ada masa dalam hidup ketika kita ingin sekali kembali, bukan untuk mengubah apa pun.

Kita hanya ingin duduk sebentar di sana.

Di tempat yang sama.

Di rumah yang sama.

Pada pagi yang sama.

Mendengar suara ibu memanggil dari dalam rumah.

Merasakan tangannya merapikan pakaian.

Lalu berjalan keluar, sementara ibu menunggu di teras.

Kita tidak ingin meminta apa-apa.

Tidak ingin membawa apa pun dari masa lalu.

Kita hanya ingin mengulang satu pagi.

Satu pagi saja.

Tetapi waktu tidak pernah menyediakan jalan untuk kembali.

Yang tersisa hanyalah kenangan.

Dan mungkin, justru karena kenangan itu tidak bisa diulang, ia menjadi begitu berharga.

Saya bersyukur pernah menjadi anak yang diantar berangkat sekolah oleh seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya.

Saya bersyukur pernah mengenal masa ketika pulang berarti kembali kepada seseorang yang selalu menunggu.

Saya bersyukur pernah memiliki pagi-pagi sederhana yang kini terasa jauh lebih mewah daripada apa pun.

Tiga puluh tahun telah berlalu.

Namun, di dalam diri saya, pagi itu rupanya tidak pernah benar-benar pergi.

Ibu masih berdiri di sana.

Di teras rumah.

Dengan wajah yang tenang.

Dengan tatapan yang penuh kasih.

Menunggu saya melangkah keluar menuju sekolah dan menuju kehidupan.

Saya berjalan.

Semakin jauh.

Semakin dewasa.

Semakin tua.

Dan ibu, dalam kenangan, tetap berada di tempatnya.

Melambaikan tangan.

Melepaskan saya pergi.

Dengan cinta yang tidak pernah meminta saya untuk kembali membalasnya.

Mungkin, begitulah keabadian bekerja.

Seseorang boleh meninggalkan dunia. Raganya boleh telah lama beristirahat. Suaranya boleh hanya tinggal gema.

Namun, cinta yang pernah diberikan dengan tulus tidak pernah benar-benar mati.

Ia tinggal dalam ingatan.

Dalam kebiasaan.

Dalam cara kita menjalani hidup.

Dalam doa-doa yang tiba-tiba kita panjatkan saat menyebut namanya.

Dan pada suatu pagi, ketika dunia terasa begitu sepi, kita mungkin kembali menjadi seorang anak kecil yang berdiri di depan rumah.

Menoleh ke belakang.

Lalu melihat ibu masih ada di sana.

Menunggu.

Tersenyum.

Dan melambaikan tangan.

Seolah berkata tanpa suara:

“Pergilah, Nak. Jalani hidupmu. Jangan takut. Ibu selalu

menyertaimu.” (Mac)

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments