spot_img
BerandaJelajahMoskow, Membaca Peradaban dari Lapangan Merah

Moskow, Membaca Peradaban dari Lapangan Merah

Bagi akademisi Indonesia, memahami Rusia tidak cukup dengan mengikuti pemberitaan politik internasional. Sejarah, masyarakat, tradisi intelektual, dan dinamika kebudayaannya juga perlu dibaca secara lebih utuh.

Dari perjalanan akademik hingga perenungan spiritual seorang intelektual Indonesia di Rusia

Oleh: Dr. Muhammad Nanang Qosim

LESINDO.COM  — Di Lapangan Merah, Moskow, sejarah tidak berhenti sebagai cerita dalam buku. Ia berdiri dalam bentuk bangunan-bangunan monumental, membentang di antara jejak kekuasaan, perubahan politik, dan identitas sebuah bangsa. Di ruang publik yang menjadi salah satu ikon Rusia itu, seorang akademisi Indonesia berhadapan dengan lanskap peradaban yang tumbuh dari pengalaman sejarah berbeda.

Dr. Muhammad Nanang Qosim berada di sana, di antara bangunan bersejarah yang selama ini lebih akrab dijumpai melalui foto, peta, atau tayangan dokumenter. Kamera merekam kehadirannya. Namun, perjalanan ke Rusia ini dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar dokumentasi seseorang di negeri orang. Ada kesempatan untuk melihat dunia dari jarak yang berbeda, sekaligus mengukur kembali keluasan pengetahuan yang dimiliki.

Moskow menawarkan banyak hal untuk diamati. Kremlin berdiri sebagai kompleks bersejarah yang lekat dengan pusat kekuasaan Rusia. Lapangan Merah menjadi ruang pertemuan antara sejarah nasional, arsitektur, aktivitas masyarakat, dan arus wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Di tempat semacam itu, masa lalu tidak sepenuhnya menjadi milik museum. Ia hadir dalam ruang hidup masyarakat, membentuk identitas, sekaligus memengaruhi cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.

Bagi seorang akademisi, perjalanan semacam ini membuka kemungkinan membaca sejarah tanpa harus selalu berangkat dari ruang kuliah. Kota menjadi teks yang dapat ditafsirkan. Bangunan menjadi arsip yang menyimpan ingatan. Sementara perjumpaan dengan lingkungan yang berbeda menawarkan kesempatan untuk menguji kembali asumsi-asumsi yang selama ini dianggap mapan.

Kota sebagai Ruang Belajar

Perjalanan ke luar negeri sering kali diringkas dalam daftar destinasi: tempat yang dikunjungi, bangunan yang difoto, atau pengalaman yang dibawa pulang. Padahal, bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan pengetahuan, sebuah perjalanan bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana manusia membangun peradabannya.

Moskow memperlihatkan bahwa arsitektur tidak pernah sepenuhnya bebas dari sejarah. Kemegahan bangunan dapat berbicara tentang ambisi politik, kemampuan teknis, selera estetika, dan cara kekuasaan meninggalkan jejaknya. Di balik bentuk fisik yang dapat dilihat, terdapat lapisan makna yang memerlukan pembacaan lebih jauh.

Tetapi membaca sebuah kota tidak cukup dengan mengagumi bangunannya. Sejarah juga perlu dipahami melalui konteks, termasuk konflik, perubahan sosial, dan pengalaman manusia yang menyertainya. Kekaguman terhadap kemegahan sebuah bangsa tidak harus membuat seseorang kehilangan jarak kritis.

Di sinilah perjalanan memperoleh nilai akademiknya. Pengetahuan tidak sekadar dikumpulkan, melainkan dipertemukan dengan kenyataan. Apa yang sebelumnya hanya hadir sebagai konsep mendapat konteks baru. Apa yang semula dipahami dari satu sudut pandang dapat dilihat melalui perspektif lain.

Pengalaman semacam ini penting bagi perguruan tinggi Indonesia. Internasionalisasi pendidikan tidak semestinya berhenti pada kunjungan ke luar negeri, partisipasi dalam forum ilmiah, atau pertukaran dokumen kerja sama. Yang lebih mendasar adalah kemampuan membawa pulang wawasan, mengembangkan pertanyaan baru, dan menghubungkan pengalaman global dengan kebutuhan masyarakat sendiri.

Dunia memang dapat dipelajari dari buku. Namun, berada di tengah lingkungan yang berbeda memberi pengalaman lain: menyadari bahwa apa yang dianggap biasa di satu tempat belum tentu berlaku di tempat lain.

Ketika Ilmu Berjumpa dengan Kerendahan Hati

Ada paradoks dalam perjalanan intelektual. Semakin jauh seseorang menjelajahi dunia, semakin besar kemungkinan ia menyadari betapa terbatas pengetahuannya.

Perjumpaan dengan kebudayaan lain memperlihatkan bahwa manusia hidup dengan bahasa, tradisi, ingatan sejarah, dan cara memahami kehidupan yang beragam. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan menentukan siapa yang paling benar. Sebagian justru perlu dipahami terlebih dahulu sebelum dinilai.

Dalam konteks ini, perjalanan Dr. Muhammad Nanang Qosim di Rusia dapat menjadi ruang perenungan mengenai hubungan antara kecerdasan intelektual dan kematangan batin. Ilmu memberi manusia kemampuan untuk menganalisis, tetapi kerendahan hati membuatnya bersedia mendengarkan.

Keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang dapat menguasai banyak pengetahuan, tetapi kesulitan menerima pandangan yang berbeda. Sebaliknya, keterbukaan tanpa kemampuan berpikir kritis juga dapat membuat seseorang mudah menerima segala sesuatu tanpa pertimbangan.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan: pikiran yang terbuka, nalar yang bekerja, dan kesadaran bahwa pengetahuan membawa tanggung jawab.

Bagi seorang akademisi Muslim, dimensi spiritual dapat menjadi bagian dari keseimbangan tersebut. Spiritualitas bukan semata-mata urusan ritual yang berlangsung di ruang-ruang ibadah. Ia juga menyangkut cara seseorang memperlakukan sesama, menyikapi perbedaan, dan menggunakan ilmu untuk kepentingan yang lebih luas.

Semangat rahmatan lil ‘alamin menemukan relevansinya dalam perjumpaan lintas peradaban. Nilai keislaman tidak harus menjadi tembok yang membatasi hubungan dengan masyarakat berbeda. Sebaliknya, ia dapat menjadi pijakan etis untuk membangun dialog yang menghormati martabat manusia.

Perjalanan ke negeri dengan latar sejarah dan kebudayaan berbeda juga mengingatkan bahwa identitas tidak perlu dipertentangkan dengan keterbukaan. Seseorang dapat tetap berakar pada agama dan kebangsaannya, sembari belajar memahami dunia di luar lingkaran pengalamannya.

Rusia dan Indonesia: Dua Pengalaman, Satu Ruang Dialog

Indonesia dan Rusia memiliki sejarah serta pengalaman kebangsaan yang berbeda. Perbedaan itu justru menyediakan ruang untuk saling memahami, terutama melalui pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan pertukaran gagasan.

Hubungan antarnegara kerap lebih mudah dibaca melalui angka perdagangan, kesepakatan politik, atau perkembangan geopolitik. Padahal, ada jalur lain yang tidak kalah penting: perjumpaan antarmanusia melalui ilmu pengetahuan.

Perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam jalur tersebut. Riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, forum ilmiah, serta kolaborasi lintas disiplin memungkinkan pengetahuan bergerak melampaui batas geografis. Namun, kerja sama semacam itu memerlukan lebih dari sekadar seremoni. Ia membutuhkan kesungguhan, kesinambungan, dan hasil yang dapat dirasakan.

Bagi akademisi Indonesia, memahami Rusia tidak cukup dengan mengikuti pemberitaan politik internasional. Sejarah, masyarakat, tradisi intelektual, dan dinamika kebudayaannya juga perlu dibaca secara lebih utuh.

Demikian pula, Indonesia memiliki pengalaman yang dapat dibawa ke dalam percakapan global. Keberagaman bahasa, kebudayaan, dan agama merupakan kenyataan sehari-hari yang terus menuntut kemampuan untuk hidup bersama. Pengalaman tersebut tidak otomatis menjadikan Indonesia bebas dari persoalan toleransi, tetapi menyediakan pelajaran penting tentang bagaimana perbedaan dikelola dalam kehidupan berbangsa.

Dialog antarperadaban tidak menuntut setiap pihak meninggalkan identitasnya. Yang diperlukan ialah kesediaan untuk mendengar, menguji pandangan sendiri, dan mengakui bahwa pengalaman bangsa lain dapat memberikan pelajaran.

Dalam kerangka itu, perjalanan seorang akademisi ke Moskow memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan bukti bahwa satu peradaban lebih unggul daripada peradaban lain. Ia merupakan kesempatan untuk memperluas perspektif, membaca perbedaan, dan mencari kemungkinan kerja sama.

Foto, Ingatan, dan Tanggung Jawab Pengetahuan

Foto perjalanan memiliki sifat yang sederhana sekaligus terbatas. Ia mampu mengabadikan seseorang di sebuah tempat, merekam latar bangunan, dan menyimpan momen yang suatu hari dapat dikenang kembali. Namun, foto tidak dengan sendirinya menjelaskan sejarah yang melatari tempat tersebut.

Seseorang dapat berdiri di depan bangunan berusia ratusan tahun tanpa memahami perjalanan panjang yang membuatnya menjadi simbol nasional. Sebaliknya, sebuah foto sederhana dapat menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: siapa yang membangun tempat itu, perubahan apa yang pernah terjadi, dan bagaimana masyarakat memaknainya hari ini?

Karena itu, dokumentasi perjalanan Dr. Muhammad Nanang Qosim di kawasan Lapangan Merah dapat ditempatkan sebagai pintu masuk untuk membaca hubungan antara pengalaman personal dan pengetahuan publik. Foto menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak selalu berlangsung dalam suasana formal.

Namun, nilai sebuah perjalanan tidak cukup diukur dari tempat yang berhasil dikunjungi atau gambar yang tersimpan. Ukurannya terletak pada apa yang kemudian dipahami, pertanyaan yang muncul, dan kemungkinan manfaat yang dapat dibagikan kepada orang lain.

Bagi akademisi, tantangannya adalah membawa pengalaman tersebut kembali ke ruang pendidikan. Pengalaman global perlu diterjemahkan menjadi wawasan yang relevan bagi mahasiswa, pengembangan penelitian, atau gagasan yang berguna bagi masyarakat. Tanpa proses itu, perjalanan berisiko berhenti sebagai kenangan pribadi.

Pulang dengan Cakrawala yang Lebih Luas

Moskow mungkin akan tinggal sebagai ingatan tentang bangunan monumental, ruang publik yang bersejarah, dan perjumpaan dengan lanskap kebudayaan yang berbeda. Tetapi sebuah perjalanan dapat menyisakan sesuatu yang lebih lama bertahan daripada foto: kesadaran bahwa dunia jauh lebih luas daripada pengalaman yang selama ini membentuk cara seseorang berpikir.

Bagi Dr. Muhammad Nanang Qosim, perjalanan dari Indonesia menuju Rusia dapat menjadi momentum untuk merefleksikan kembali posisi seorang akademisi di tengah masyarakat global. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas geografis dalam pencarian kebenarannya, tetapi penerapannya selalu berhadapan dengan manusia, kebudayaan, dan persoalan konkret.

Di antara sejarah Moskow dan ingatan tentang Indonesia, terbentang ruang untuk belajar tanpa kehilangan akar, berdialog tanpa harus menghapus perbedaan, serta mengembangkan pengetahuan tanpa melupakan tanggung jawab moral.

Sebab, perjalanan intelektual tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan sebuah kota. Ia justru berlanjut ketika pengalaman di tempat yang jauh mulai mengubah cara seseorang memahami lingkungan terdekatnya.

Pada akhirnya, yang dibawa pulang dari sebuah perjalanan bukan semata-mata jarak yang telah ditempuh. Yang lebih penting adalah keluasan pandangan yang diperoleh, kerendahan hati yang tumbuh, dan manfaat yang dapat dibagikan setelah seseorang kembali ke tanah air.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments