spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Jiwa yang Berobat Jalan Pada Alam Semesta

Part 1 : Jiwa yang Berobat Jalan Pada Alam Semesta

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang membuat seseorang mengetuk pintu pertolongan Tuhan.

Oleh: Hibban M

LESINDO.COM – Ada orang yang memilih bangun ketika sebagian besar manusia masih terlelap. Dalam kesunyian malam, ia membentangkan sajadah, menundukkan kepala, lalu berlama-lama dalam doa. Ada pula yang menahan lapar pada hari Senin dan Kamis, meski tak seorang pun di sekitarnya mengetahui bahwa ia sedang berpuasa.

Dari luar, semua itu tampak seperti kesalehan. Namun, siapa yang benar-benar mengetahui apa yang sedang berlangsung di dalam dada seseorang?

Barangkali, di balik sujud yang panjang, ada kegelisahan yang belum selesai. Di balik doa yang lirih, tersimpan penyesalan atas masa lalu. Dan di balik puasa yang dijalani dengan tenang, mungkin ada hati yang sedang berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang selama ini membuatnya jauh dari ketenteraman.

Tidak semua orang datang kepada Tuhan karena merasa dirinya sudah baik. Sebagian justru datang karena menyadari betapa banyak bagian dalam dirinya yang perlu diperbaiki.

Mereka bukan orang-orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka adalah manusia biasa yang sedang belajar pulang.

Barangkali, mereka bukan sedang mempertontonkan kesalehan, melainkan sedang mengobati luka yang tidak terlihat oleh mata.

Ketika Dunia Tak Lagi Mampu Mengisi Kekosongan

Ada masa ketika seseorang mengira kebahagiaan dapat dirakit dari hal-hal yang bisa dilihat dan dihitung. Penghasilan yang meningkat, rumah yang semakin nyaman, pekerjaan yang dihormati, atau pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Semua itu tidak salah. Bukankah manusia juga membutuhkan kecukupan untuk menjalani kehidupan dengan layak?

Namun, persoalannya muncul ketika segala yang berhasil dikumpulkan ternyata tidak serta-merta menghadirkan ketenangan. Rumah terasa nyaman, tetapi pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat. Penghasilan cukup, tetapi hati terus merasa kekurangan. Pujian datang dari berbagai arah, tetapi seseorang tetap merasa asing dengan dirinya sendiri.

Ada ruang dalam jiwa yang tidak selalu bisa diisi oleh keberhasilan duniawi.

Pada titik tertentu, seseorang mungkin mulai bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa setelah sekian lama mengejar banyak hal, ada sesuatu yang justru terasa semakin jauh? Mengapa hidup tampak baik-baik saja di mata orang lain, tetapi di dalam dirinya ada kegelisahan yang sulit dijelaskan?

Pertanyaan semacam itu tidak selalu datang sebagai ledakan besar. Terkadang ia hadir perlahan, ketika seseorang duduk sendirian selepas bekerja, ketika rumah mulai sunyi, atau ketika malam terasa terlalu panjang untuk sekadar dilewati dengan tidur.

Di sanalah seseorang mulai menyadari bahwa yang perlu dibenahi bukan hanya keadaan di luar dirinya, melainkan juga hubungan dengan batinnya sendiri.

Sajadah sebagai Ruang Pemulihan

Tidak semua luka membutuhkan penjelasan panjang. Ada kesedihan yang sulit diceritakan kepada manusia, bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Ada penyesalan yang tidak mudah diucapkan, sebab seseorang sendiri belum sepenuhnya memahami bagaimana ia bisa sampai pada keadaan itu.

Dalam situasi seperti itulah, sebagian orang memilih mendekat kepada Tuhan.

Ia belajar bangun untuk tahajud, meski matanya masih berat. Ia mencoba menunaikan salat dhuha di sela kesibukan. Ia menjalani puasa sunah, bukan semata-mata untuk memperoleh pahala, tetapi juga untuk melatih dirinya agar tidak selalu menuruti keinginan.

Pelan-pelan, ibadah menjadi ruang untuk bercermin.

Dalam sujud, ia belajar mengakui keterbatasan. Dalam doa, ia berlatih menyampaikan kegelisahan tanpa harus menyusun kalimat yang indah. Dalam puasa, ia belajar bahwa tidak semua keinginan harus dituruti dan tidak semua yang menyenangkan harus dimiliki.

Tentu saja, ibadah bukan rumus instan yang membuat seluruh persoalan hidup seketika selesai. Kesedihan masih mungkin datang. Masalah tetap membutuhkan penyelesaian. Bahkan, seseorang yang rajin beribadah pun dapat mengalami kegelisahan dan kelelahan batin.

Namun, bagi sebagian orang, ibadah menjadi jalan untuk menata kembali arah hidup, menumbuhkan kesabaran, dan menemukan kekuatan untuk menghadapi apa yang sebelumnya terasa begitu berat.

Seperti seseorang yang menjalani pengobatan secara berkala, ia tidak selalu langsung merasakan perubahan besar. Ada hari-hari ketika semangatnya tumbuh, ada pula saat ia kembali merasa rapuh.

Yang penting, ia tidak berhenti berusaha merawat dirinya.

Jangan Terlalu Cepat Menilai Kesalehan Orang Lain

Kita sering kali terlalu mudah menyimpulkan kehidupan seseorang hanya dari apa yang terlihat. Mereka yang tekun beribadah dianggap sudah mencapai tingkat kesalehan tertentu. Sebaliknya, mereka yang masih berjuang memperbaiki diri kerap dinilai dari kekurangannya.

Padahal, perjalanan batin manusia tidak sesederhana penampilan yang bisa disaksikan.

Orang yang hari ini rajin tahajud mungkin sedang berjuang meninggalkan kebiasaan buruknya. Seseorang yang berpuasa sunah mungkin sedang belajar mengendalikan amarah. Mereka yang semakin dekat dengan masjid bisa jadi sedang berusaha menebus kelalaian masa lalu, memperbaiki hubungan dengan keluarga, atau mencari kekuatan untuk menjalani ujian yang tidak diketahui orang lain.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang membuat seseorang mengetuk pintu pertolongan Tuhan.

Karena itu, tidak semestinya ketekunan beribadah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Begitu pula, jangan terburu-buru menganggap seseorang telah menjadi manusia sempurna hanya karena ia tekun menjalankan amalan sunah.

Kesalehan bukan panggung untuk memperlihatkan siapa yang paling bersih. Ia adalah perjalanan panjang untuk mengenali kekurangan diri, memperbaiki perilaku, dan belajar memperlakukan sesama manusia dengan lebih baik.

Sebab, kedekatan kepada Tuhan semestinya tidak hanya terlihat dari panjangnya doa, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga lisannya, menahan diri dari menyakiti orang lain, memenuhi tanggung jawab, dan bersikap adil ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya.

Ibadah yang tumbuh dari kesadaran semestinya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sibuk menilai kekurangan orang lain.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments