Oleh: Faicha A
Hati yang Perlahan Kehilangan Kepekaan
LESINDO.COM – Ada sesuatu dalam diri manusia yang tidak mudah dilihat, tetapi menentukan bagaimana ia memandang kehidupan. Ia tidak memiliki bentuk yang dapat dipotret, tidak dapat ditimbang dengan timbangan, dan tidak selalu bisa dijelaskan melalui kata-kata. Orang Jawa menyebutnya ati, sementara dalam khazanah spiritual Islam, hati (qalb) menjadi salah satu pusat kesadaran batin: tempat niat, keikhlasan, dan pergulatan manusia dengan dirinya sendiri.
Hati tidak selalu menjadi keruh karena peristiwa besar. Kadang-kadang, ia justru kehilangan kejernihannya melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Terlalu banyak berbicara, terlalu banyak tidur, atau terlalu banyak makan. Semuanya tampak biasa, bahkan sering dianggap sebagai bagian wajar dari kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam tradisi nasihat keagamaan dan hikmah para ulama, ketiga perkara itu kerap disebut sebagai hal yang perlu diwaspadai ketika dilakukan secara berlebihan. Bukan karena berbicara, tidur, dan makan merupakan sesuatu yang buruk, melainkan karena segala sesuatu yang melampaui batas dapat mengurangi kemampuan manusia untuk mengendalikan diri.
Di sinilah persoalannya bermula. Manusia sering kali lebih sibuk membersihkan apa yang tampak di hadapan orang lain daripada merawat sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya.
Kita rajin merapikan pakaian, membersihkan rumah, menjaga penampilan, dan memikirkan bagaimana orang lain memandang kita. Tetapi, seberapa sering kita berhenti sejenak untuk bertanya: masih jernihkah hati ini? Masihkah kita mampu mendengar suara nurani ketika kehidupan terlalu ramai oleh keinginan?
Pertanyaan semacam itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang segera. Barangkali, ia justru memerlukan keheningan.
Ketika Lidah Lebih Cepat daripada Kesadaran
Lidah adalah bagian tubuh yang kecil. Akan tetapi, dari sesuatu yang kecil itu, dapat lahir kata-kata yang menguatkan seseorang, sekaligus kalimat yang meninggalkan luka bertahun-tahun.
Dalam kehidupan sehari-hari, berbicara merupakan kebutuhan manusia. Melalui percakapan, pengetahuan disampaikan, hubungan dirawat, dan pengalaman dibagikan. Tidak ada yang salah dengan banyak bicara apabila kata-kata itu membawa manfaat. Persoalannya muncul ketika berbicara tidak lagi lahir dari kesadaran, melainkan dari dorongan untuk selalu didengar.
Ada orang yang merasa harus memberikan tanggapan atas segala sesuatu. Percakapan yang semula sederhana berkembang menjadi perdebatan. Cerita tentang orang lain berubah menjadi gosip. Pendapat pribadi perlahan diperlakukan seolah-olah kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan.
Pada saat itulah, kata-kata tidak lagi sekadar menjadi alat komunikasi. Ia bisa berubah menjadi cermin kesombongan, tempat seseorang mempertontonkan dirinya sendiri.
Padahal, tidak semua yang kita ketahui harus disampaikan. Tidak setiap pendapat harus dipertahankan. Dan tidak setiap perdebatan layak dimenangkan.
Diam bukan berarti tidak memiliki pengetahuan. Diam juga bukan tanda kelemahan. Dalam keadaan tertentu, diam adalah bentuk pengendalian diri—kesediaan untuk memberi ruang kepada orang lain dan mencegah lidah mengucapkan sesuatu yang kelak disesali.
Orang Jawa memiliki ungkapan ajining diri saka lathi, yang secara umum dimaknai bahwa harga diri seseorang tercermin dari tutur katanya. Ungkapan itu mengingatkan bahwa martabat manusia tidak hanya dibangun melalui apa yang dimiliki, melainkan juga melalui cara ia berbicara.
Mungkin, yang perlu kita latih bukan sekadar kemampuan berbicara dengan baik, tetapi juga kemampuan menahan kata-kata yang tidak perlu.
Sebab, ada kalanya satu kalimat yang tidak jadi diucapkan lebih berharga daripada seribu kata yang disampaikan tanpa pertimbangan.
Tidur, Istirahat, dan Waktu yang Terlewat
Tidur adalah kebutuhan tubuh. Ia memberikan kesempatan bagi manusia untuk memulihkan tenaga, menjaga kesehatan, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Karena itu, tidur tidak semestinya dipandang sebagai kemalasan. Istirahat yang cukup justru bagian dari tanggung jawab terhadap tubuh yang dititipkan Tuhan.
Akan tetapi, kehidupan juga mengenal keadaan ketika istirahat berubah menjadi pelarian. Seseorang terus menunda pekerjaan, enggan bangkit dari tempat tidur, atau membiarkan waktu berlalu tanpa tujuan yang jelas. Bukan karena tubuh selalu membutuhkan tidur, melainkan karena ia merasa lebih nyaman menunda apa yang semestinya dikerjakan.
Di sini, persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang tidur. Kebutuhan tidur setiap orang berbeda, dan durasi tidur yang sehat perlu disesuaikan dengan usia, kondisi tubuh, serta kebutuhan masing-masing. Yang perlu direnungkan adalah bagaimana kita memperlakukan waktu ketika tubuh telah memperoleh istirahat yang memadai.
Pagi, misalnya, sering datang dengan tenang. Cahaya perlahan menyentuh halaman, suara kendaraan mulai terdengar, dan kehidupan bergerak tanpa menunggu kesiapan kita. Ada kesempatan untuk beribadah, membaca, bekerja, menyapa keluarga, atau sekadar menikmati udara yang belum terlalu ramai.
Namun, kesempatan itu dapat berlalu tanpa disadari ketika kita terus memilih menunda.
Waktu tidak pernah benar-benar berhenti. Ia tidak marah ketika kita menyia-nyiakannya, juga tidak menagih ketika kita menghabiskannya. Tetapi, setiap waktu yang berlalu membawa serta kesempatan yang tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama.
Dalam pandangan spiritual, persoalannya bukan hanya kehilangan produktivitas. Kebiasaan menunda dan bermalas-malasan dapat membuat manusia semakin jauh dari kesadaran akan tanggung jawab hidupnya.
Meski demikian, kita perlu berhati-hati agar tidak menghakimi seseorang hanya karena ia tidur lebih lama. Ada kelelahan yang tidak terlihat, ada kebutuhan pemulihan yang berbeda, dan ada kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian. Tidak semua waktu yang dihabiskan untuk beristirahat merupakan bentuk kelalaian.
Yang perlu dijaga adalah keseimbangan: tubuh diberi hak untuk beristirahat, sementara kehidupan tidak dibiarkan kehilangan arah.
Sebab, merawat jiwa bukan berarti memusuhi kebutuhan tubuh. Justru melalui tubuh yang dirawat dengan baik, manusia dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan lebih utuh.

