Oleh : R. Adilla
Papan tulis itu semula hanya menjadi bagian dari sebuah permainan.
LESINDO.COM – Di hadapan siswa-siswa baru kelas X, saya meminta mereka menuliskan sepuluh nama orang yang paling mereka sayangi. Nama-nama itu kemudian menjadi semacam peta kecil tentang kehidupan mereka: ibu, ayah, kakak, adik, mungkin juga orang-orang yang selama ini hadir dalam perjalanan mereka.
Setelah sepuluh nama tertulis, saya memberikan sebuah pengandaian.
Bayangkan hidup hanya menyisakan satu pilihan.
Satu per satu nama harus dicoret.
Bukan karena mereka tidak disayangi. Bukan pula karena mereka tidak berarti. Ini hanya sebuah permainan untuk melihat bagaimana seseorang menghadapi pilihan yang tidak mungkin dihindari dalam kehidupan.
Satu nama dicoret.
Kemudian nama berikutnya.
Sebagian siswa melakukannya sambil tertawa. Sebagian tampak berpikir sebentar sebelum menggoreskan spidol ke papan tulis.
Namun saya kemudian berhadapan dengan seorang siswa yang membuat suasana kelas berubah.
Di papan tulisnya tinggal dua nama.
Ibu dan kakak.
Ia terdiam.
Spidol masih berada di tangannya.
Tangannya tidak segera bergerak.
Waktu berjalan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Hingga sekitar lima belas menit berlalu, ia masih berdiri di depan papan tulis.
Kepalanya perlahan tertunduk.
Air mata jatuh.
Pada saat itu saya merasa, permainan tersebut telah berhenti menjadi permainan.
Sebuah pengandaian rupanya telah membuka pintu menuju ruang ingatan yang jauh lebih dalam.
Saya tidak tahu persis apa yang sedang berlangsung dalam pikirannya. Tetapi dari wajahnya, tampak bahwa dua nama di papan tulis itu bukan sekadar dua nama.
Ada sejarah panjang di belakangnya.
Ayahnya sudah dicoret lebih dahulu. Bukan karena ia tidak memiliki arti, tetapi karena sosok ayah telah lama pergi dari kehidupannya. Sejak kecil, ingatan tentang figur ayah nyaris tidak terbentuk.
Yang tersisa justru sosok kakak.
Seseorang yang tumbuh bersamanya.
Seseorang yang mendampinginya ketika menghadapi masalah.
Seseorang yang membelanya ketika ia berada dalam kesulitan.
Bahkan ketika sekolah dan kehidupan membutuhkan biaya, kakaknya ikut mengambil bagian untuk memastikan perjalanan pendidikannya tetap berjalan.
Barangkali itulah sebabnya tangan anak itu begitu sulit bergerak.
Ia tidak sedang memilih antara kakak dan ibu.
Ia sedang berhadapan dengan dua bagian penting dari hidupnya.
Satu adalah ibu.
Yang lain adalah seseorang yang selama masa kecil telah menjadi tempat bersandar.
Ada keputusan yang mudah dibuat karena hanya membutuhkan pikiran.
Namun ada keputusan yang begitu berat karena harus melewati ingatan.
Dan ingatan tidak pernah bekerja seperti papan tulis.
Nama yang dicoret di papan dapat hilang dalam hitungan detik.
Tetapi nama yang telah tertulis dalam hati tidak semudah itu dihapus.
Akhirnya, setelah begitu lama terdiam, ia menggerakkan spidol.
Nama kakaknya dicoret.
Air matanya masih jatuh.
Kini hanya satu nama yang tersisa.
Ibu.
Saya kemudian bertanya mengapa ia begitu berat menentukan pilihan.
Cerita tentang masa lalunya pun perlahan terbuka.
Kakaknya ternyata bukan sekadar saudara.
Ia adalah bagian dari masa kecil yang menemani ketika keadaan tidak mudah. Ia adalah orang yang membela ketika ada persoalan. Ia pula yang ikut menanggung biaya sekolah.
Di situlah saya memahami sesuatu.
Barangkali yang membuatnya menangis bukan semata-mata karena harus mencoret nama kakaknya.
Ia sedang menyadari betapa besar arti seseorang setelah dibayangkan tidak lagi ada.
Kita sering baru memahami nilai sebuah kehadiran ketika kehidupan meminta kita membayangkan kehilangan.
Begitulah manusia.
Ketika seseorang selalu berada di dekat kita, kehadirannya sering dianggap biasa. Kita terbiasa dengan suaranya, pertolongannya, nasihatnya, bahkan pengorbanannya.
Sampai suatu hari kita membayangkan bahwa semuanya tidak ada lagi.
Barulah kita menyadari: ternyata orang itu telah menjadi bagian dari diri kita.
Papan tulis di depan kelas hari itu kemudian terasa seperti cermin kehidupan.
Manusia sepanjang hidup sebenarnya terus melakukan pencoretan.
Kita meninggalkan masa kanak-kanak.
Meninggalkan rumah.
Meninggalkan teman.
Meninggalkan pekerjaan.
Meninggalkan tempat-tempat yang pernah kita cintai.
Sebagian karena pilihan. Sebagian karena keadaan. Sebagian lagi karena waktu memang tidak pernah meminta izin ketika membawa sesuatu pergi.
Tetapi ada satu perbedaan penting.
Dalam hidup yang sesungguhnya, tidak ada kesempatan untuk menghapus pilihan lalu mengembalikannya seperti semula.
Karena itu, mungkin persoalan terbesar manusia bukanlah memilih siapa yang harus dipertahankan.
Melainkan menyadari siapa yang selama ini telah berkorban untuk membuat kita tetap bertahan.
Anak itu akhirnya menyisakan ibunya.
Mungkin karena ibu memiliki tempat yang berbeda dalam ruang batin manusia.
Ibu bukan sekadar seseorang yang hadir ketika kita lahir. Dalam banyak kehidupan, ibu adalah tempat pertama seseorang mengenal rasa aman. Ia menjadi rumah sebelum kita mengenal arti rumah.
Maka ketika semua nama harus dicoret satu demi satu, nama ibu mungkin sering kali menjadi nama yang paling akhir bertahan.
Bukan karena yang lain kurang dicintai.
Melainkan karena ada kasih yang begitu mendasar sehingga sulit dibayangkan hidup tanpanya.
Hari itu saya belajar dari seorang siswa bahwa pendidikan ternyata tidak selalu berlangsung melalui buku.
Kadang sebuah papan tulis dapat menjadi ruang perenungan.
Kadang sebuah permainan sederhana dapat membuka cerita yang selama ini tersimpan dalam diam.
Dan kadang air mata seorang anak di depan kelas justru mengajarkan sesuatu kepada orang dewasa tentang arti kehilangan.
Saya tidak ingin mengingat kejadian itu sebagai sekadar challenge pada masa penerimaan siswa baru.
Bagi saya, itu adalah peristiwa kecil yang memperlihatkan betapa rumitnya kehidupan manusia.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang dibawa seseorang ketika ia memasuki ruang kelas.
Di balik seragam yang rapi, mungkin ada keluarga yang sedang berjuang.
Di balik senyum, mungkin ada kehilangan.
Di balik anak yang tampak biasa saja, mungkin tersimpan seseorang yang pernah menjadi penyelamat dalam hidupnya.
Karena itu, barangkali kita perlu lebih berhati-hati dalam menilai manusia.
Sebab yang tampak di hadapan mata hanyalah permukaan.
Di bawahnya ada ingatan, luka, kasih sayang, pengorbanan dan kehilangan yang tidak selalu bisa diceritakan.
Dan sore itu, setelah kelas selesai, saya masih teringat papan tulis tersebut.
Satu demi satu nama telah dicoret.
Tetapi saya kemudian berpikir:
bukankah begitulah kehidupan?
Yang pergi tidak selalu benar-benar hilang.
Yang dicoret dari papan belum tentu terhapus dari hati.
Sebab manusia boleh kehilangan seseorang dari kehidupan, tetapi tidak selalu mampu kehilangan kenangan tentangnya.
Dan mungkin, pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang kita pilih untuk tinggal.
Melainkan tentang siapa yang telah membuat kita mampu sampai sejauh ini.

