LESINDO.COM – Ada fase dalam hidup ketika keramaian tidak lagi terasa sebagai kebutuhan, dan kesunyian tidak lagi hadir sebagai ancaman. Ia justru berubah menjadi ruang hening yang perlahan membuka banyak pemahaman. Apa yang dulu terasa seperti kesepian, kini menjelma menjadi teman seperjalanan—diam, tetapi mengajarkan banyak hal.
Dalam khazanah Filsafat Jawa, keadaan semacam ini bukanlah kemunduran, bukan pula tanda seseorang menjauh dari kehidupan. Justru di titik itulah seseorang sedang memasuki laku yang oleh orang Jawa disebut sangkan paran dumadi—sebuah upaya memahami dari mana manusia berasal, sedang menuju ke mana, dan untuk apa keberadaan ini dijalani.
Secara harfiah, sangkan berarti asal, paran berarti tujuan, dan dumadi adalah segala yang tercipta. Namun dalam makna yang lebih dalam, sangkan paran dumadi bukan sekadar pertanyaan tentang hidup dan mati. Ia adalah perjalanan batin untuk mengenali diri, memahami semesta, lalu menerima bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.
Di sebuah ruangan yang kini lebih sering dipenuhi sunyi, barangkali seseorang mulai memahami bahwa hidup memang tidak selalu harus ramai agar terasa berarti. Ada masa ketika kehilangan, perpisahan, perubahan, bahkan keheningan, bukan lagi musuh yang harus dilawan. Semua hadir sebagai guru.
Kesepian yang dahulu terasa menyakitkan, lambat laun berubah menjadi ritual batin. Ada atau tidak ada seseorang di samping, bersama atau sendiri, perlahan tak lagi menjadi ukuran kebahagiaan. Sebab yang sedang ditemukan bukan keberadaan orang lain, melainkan keberadaan diri sendiri.
Dalam ajaran Jawa dikenal ungkapan “urip iku mung mampir ngombe”—hidup hanyalah singgah untuk minum. Sebuah pengingat bahwa perjalanan manusia di dunia tidak pernah benar-benar untuk memiliki, melainkan untuk mengalami, memahami, lalu melepaskan.
Maka ketika seseorang mulai bertanya, “Apakah ini penemuan makna hidup, ataukah kepasrahan telah menemukan bentuknya?” barangkali keduanya sedang berjalan berdampingan.
Karena dalam kebijaksanaan Jawa, pasrah bukan berarti menyerah. Nrimo bukan berarti berhenti berjuang. Pasrah adalah kesadaran penuh bahwa tidak semua harus dipaksa terjadi, tidak semua harus dimiliki, dan tidak semua yang pergi harus dikejar kembali.
Ada titik ketika manusia mulai mengerti bahwa hidup memiliki iramanya sendiri. Bahwa bunga tidak dipaksa mekar, matahari tidak pernah dipaksa terbit, dan waktu tidak pernah bisa ditahan. Semua berjalan menurut garisnya.
Begitu pula manusia.
Saat seseorang mulai melepaskan pelan-pelan, bukan karena lelah, tetapi karena sadar… di situlah kedewasaan batin mulai tumbuh.
Memilih diri sendiri bukanlah egoisme. Dalam laku Jawa, itu adalah bentuk mulat sarira—menengok ke dalam, mengenali batas, memahami luka, menerima kekurangan, dan berdamai dengan segala yang pernah terjadi.
Sebab pada akhirnya, yang akan mempertanggungjawabkan seluruh pilihan hidup bukan keramaian, bukan pujian, bukan penilaian orang lain—melainkan diri sendiri.
Dan mungkin, inilah inti dari sangkan paran dumadi:
Bahwa semakin manusia mengenal asalnya, semakin ia tidak takut berjalan sendiri.
Semakin ia memahami tujuan hidupnya, semakin ia tidak sibuk menggenggam.
Dan semakin ia mengenal dirinya, semakin ia mampu berkata dengan tenang—
“Yang memang ditakdirkan tinggal, akan tinggal.
Yang memang harus pergi, biarlah menjadi jalan pulang.” (Ria)

