spot_img
BerandaJelajahLorong Waktu Growongan Makamhaji: Antara Derit Lori Tebu dan Hilangnya Jejak Belik

Lorong Waktu Growongan Makamhaji: Antara Derit Lori Tebu dan Hilangnya Jejak Belik

Zaman bergerak secepat kereta ekspres yang melintas di atas Makamhaji. Seiring lori-lori tebu yang berhenti beroperasi dan rel-rel kecil yang mulai terkubur tanah, satu per satu warga mulai membangun tembok-tembok tinggi di rumah mereka. Kehadiran kamar mandi pribadi di setiap rumah perlahan memutus ketergantungan pada belik.

LESINDO.COM – Di bawah bentangan rel kereta api yang membelah Makamhaji, terdapat sebuah celah rendah yang oleh warga setempat akrab disebut Growongan. Hari ini, lorong itu mungkin hanya dipandang sebagai jalur tembus praktis bagi pengendara roda dua yang ingin menghindari kemacetan atau memotong waktu. Namun, bagi mereka yang rambutnya mulai memutih, Growongan adalah pintu gerbang menuju mesin waktu—sebuah monumen ingatan tentang kejayaan industri gula kolonial dan ritme hidup pedesaan yang bersahaja.

Gemerincing Besi dan Manisnya Tebu

Jauh sebelum deru mesin motor mendominasi, Growongan adalah saksi bisu kesibukan jalur lori. Di sinilah tebu-tebu hasil panen diangkut menuju pabrik, merayap perlahan di atas rel kecil yang bersinggungan dengan jalur gagah kereta api uap di atasnya.

Bagi anak-anak SD di era itu, kehadiran lori bukan sekadar angkutan industri, melainkan kegembiraan yang dinanti. Ada seni tersendiri saat itu: berlari kecil di samping lori yang bergerak lamban, mengincar batang tebu yang menyembul, lalu menariknya dengan cekatan. Rasa manis air tebu yang dikunyah langsung di pinggir rel adalah kemewahan masa kecil yang tak tergantikan oleh jajanan modern mana pun.

Harmoni di Pinggir Jembatan Besi

Kini ia hanya dikenal sebagai jalur tembus sempit yang dipakai warga dengan sepeda motor—sekadar jalan pintas yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lain. (mc)

Tak jauh dari kokohnya jembatan besi yang menjadi atap Growongan, pernah berdenyut nadi kehidupan sosial warga berupa Belik—mata air kecil yang jernih. Belik ini bukan sekadar tempat mengambil air; ia adalah “ruang tamu” terbuka.

Di sana, suara tawa ibu-ibu yang mencuci baju bersahutan dengan bunyi gebukan pakaian di atas batu. Anak-anak mandi dengan riang, sementara para pria melepas lelah setelah seharian bekerja. Di belik itulah, berita-berita kampung mengalir seiring air yang jernih, menciptakan kerukunan tanpa perlu banyak seremonial.

Perubahan yang Tak Terelakkan

Zaman bergerak secepat kereta ekspres yang melintas di atas Makamhaji. Seiring lori-lori tebu yang berhenti beroperasi dan rel-rel kecil yang mulai terkubur tanah, satu per satu warga mulai membangun tembok-tembok tinggi di rumah mereka. Kehadiran kamar mandi pribadi di setiap rumah perlahan memutus ketergantungan pada belik.

Kini, belik itu seolah “hilang” ditelan bumi dan tertutup rimbunnya pemukiman. Growongan pun bersalin rupa menjadi jalur aspal sempit yang bising. Meski wajahnya telah modern, bagi mereka yang pernah mencicipi manisnya tebu di pinggir rel, Growongan akan selalu menyisakan aroma tanah basah dan gema suara lori yang takkan pernah benar-benar pergi. (Nda)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments