Oleh : Dhen Baguse Ngarso
LESINDO.COM – Ada manusia-manusia tertentu yang hidupnya seperti sedang menempuh jalan memutar. Dari luar, langkahnya tampak jauh menyimpang. Ia pernah jatuh pada kegaduhan, tenggelam dalam kenakalan, atau larut dalam dunia yang membuat orang lain menggelengkan kepala. Namun anehnya, sejauh apa pun ia pergi, selalu ada sesuatu di dalam dirinya yang diam-diam memanggil untuk kembali.
Seperti air yang pada akhirnya menemukan jalan menuju laut, jiwa tertentu memang membawa arah pulangnya sendiri.
Dalam pandangan hidup yang lebih dalam, tidak semua kesesatan benar-benar berarti kehilangan. Ada orang yang justru menemukan cahaya setelah melewati lorong paling gelap dalam hidupnya. Ada hati yang baru memahami arti tenang setelah lelah mengejar gemerlap yang semu. Dan ada jiwa yang baru mengenali dirinya sendiri setelah berkali-kali hancur oleh pilihannya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya tidak semua pelajaran hidup bisa diterangkan lewat kata-kata. Sebagian harus dialami. Sebagian lagi harus dilalui dengan air mata.
Sebab ada pengetahuan yang tidak lahir dari buku, melainkan dari luka.
Hidup terkadang membawa manusia masuk ke jalan terjal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kehilangan, pengkhianatan, kegagalan, keterasingan, bahkan rasa kosong yang sulit dijelaskan. Pada titik tertentu, seseorang bisa merasa seperti tersesat dari dirinya sendiri. Dunia yang dulu terasa ramai mendadak menjadi asing. Hal-hal yang dahulu dibanggakan perlahan kehilangan makna.
Namun justru di ruang sunyi itulah banyak orang mulai mendengar suara batinnya sendiri.
Suara yang selama ini kalah oleh keramaian dunia.
Keadaan jatuh sering kali dipandang sebagai akhir, padahal bagi sebagian jiwa, itu justru awal dari proses penyadaran. Kejatuhan membersihkan banyak hal. Ia meruntuhkan kesombongan, mengikis kepura-puraan, dan memaksa manusia melihat dirinya tanpa topeng. Luka demi luka perlahan menjadi cermin yang menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Di situlah seseorang mulai belajar membedakan mana yang sekadar singgah dan mana yang benar-benar tinggal di hati. Mana yang hanya memberi riuh sesaat dan mana yang menghadirkan teduh. Mana hubungan yang lahir karena kepentingan, dan mana kasih yang tetap bertahan bahkan ketika segalanya hilang.
Tidak ada perjalanan yang benar-benar sia-sia bagi jiwa yang sedang mencari makna.
Bahkan jalan gelap pun kadang diperlukan agar manusia tidak lagi silau oleh hal-hal palsu. Sebab cahaya hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah akrab dengan gelap.
Dan pada akhirnya, manusia akan kembali pada rumah batinnya masing-masing.
Bukan rumah berupa bangunan, melainkan ruang paling dalam yang membuat hatinya merasa utuh. Tempat di mana ia tidak lagi sibuk menjadi orang lain. Tempat di mana ia bisa menerima dirinya dengan lebih jernih. Tempat di mana ia menyadari bahwa selama ini yang ia cari ke mana-mana ternyata sudah ada di dalam dirinya sendiri.
Karena sejatinya, jiwa tidak pernah benar-benar hilang.
Sejauh apa pun ia melangkah, sedalam apa pun ia jatuh, selalu ada rindu yang diam-diam hidup di dalam dirinya. Rindu untuk kembali. Rindu untuk mengenal asalnya. Rindu untuk pulang kepada sesuatu yang lebih abadi daripada sekadar dunia yang terus berubah.
Dan mungkin, seluruh perjalanan panjang itu memang bukan tentang menjadi sempurna.
Melainkan tentang pulang.

