spot_img
BerandaJelajahLangkah Kecil Menuju Tanah Suci

Langkah Kecil Menuju Tanah Suci

Ada rangkaian perjalanan yang harus dipahami, ada aturan yang harus dijalankan, ada doa yang dilantunkan, dan ada kesabaran yang harus disiapkan.

LESINDO.COM – Pagi itu, Sabtu, 19 September 2026, suasana di kawasan wisata religi edukasi di Boyolali terasa sedikit berbeda. Di antara pengunjung yang datang untuk berwisata sekaligus belajar tentang perjalanan ibadah, terdengar suara anak-anak bersahutan.

“Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, Allahu Akbar.”

Suara itu datang dari rombongan siswa kelas IX MTsN 1 Kudus. Mereka berjalan berkelompok, mengenakan tanda berupa bendera segitiga kecil di bagian punggung bertuliskan MTsN 1 Kudus.

Langkah mereka mengitari miniatur Ka’bah bukan sekadar perjalanan memutari bangunan. Bagi para siswa, pagi itu adalah kesempatan untuk membawa pelajaran dari ruang kelas ke dalam pengalaman yang lebih nyata.

Mereka sedang mengikuti simulasi dan praktik manasik umrah dan haji, sebuah kegiatan yang menjadi bagian wajib bagi siswa kelas IX.

Selama ini, tahapan ibadah haji dan umrah mereka pelajari melalui teori. Namun, teori di dalam kelas memiliki batas. Ada tahapan yang baru terasa lebih mudah dipahami ketika tubuh ikut bergerak, kaki melangkah, dan doa dilafalkan secara langsung.

Di kawasan tersebut, para siswa mempraktikkan tawaf, kemudian melanjutkan dengan sai. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok agar lebih mudah mengikuti tahapan praktik.

Semangat mereka sulit disembunyikan.

Sesekali suara doa terdengar cukup keras. Bukan karena ingin menarik perhatian, melainkan karena mereka sedang berusaha menghidupkan apa yang selama ini hanya mereka bayangkan dari buku pelajaran dan penjelasan guru.

Bagi pengunjung lain, suara itu tentu menjadi perhatian.

Di tengah suasana wisata religi yang biasanya berjalan tenang, suara puluhan siswa tersebut menghadirkan warna tersendiri. Orang-orang yang berada di sekitar lokasi menoleh. Sebagian memperhatikan rombongan yang bergerak teratur mengelilingi Ka’bah.

Ada kegembiraan yang sederhana pada wajah anak-anak itu.

Belajar, tetapi tidak terasa seperti sedang berada di ruang kelas.

Dari Teori ke Langkah

Safira, siswi kelas IX MTsN 1 Kudus, mengaku praktik manasik memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar mempelajari teori.

Berbalut pakaian serba putih, siswa MTsN 1 Kudus memenuhi lintasan replika antara Bukit Shafa dan Marwah. Dengan penuh semangat, mereka mengikuti praktik sai sebagai bagian dari pembelajaran rangkaian ibadah haji dan umrah. (mc)

Baginya, kegiatan tersebut menjadi tambahan bekal pengetahuan sekaligus pengalaman. Apalagi dilakukan bersama teman-teman satu kelas.

“Kalau dilakukan bersama teman-teman jadi ramai dan asyik. Kita juga lebih mudah memahami bagaimana pelaksanaan umrah dan haji,” ujarnya.

Bagi anak seusianya, belajar memang tidak selalu harus duduk diam, membuka buku, lalu menghafalkan tahapan demi tahapan.

Kadang pengetahuan justru lebih melekat ketika ia dialami.

Hal serupa disampaikan Afi Cena, siswa kelas IX. Menurutnya, praktik manasik membuat gambaran mengenai pelaksanaan ibadah haji dan umrah menjadi lebih jelas.

“Kalau hanya teori, kadang antara yang dibayangkan dengan yang dipraktikkan di lapangan bisa berbeda. Setelah praktik, kita jadi tahu persis apa yang harus dilakukan dan bagaimana tahapan-tahapannya,” katanya.

Kalimat sederhana itu menyimpan makna penting tentang pendidikan.

Bahwa pengetahuan tidak selalu berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan di atas kertas. Ada pengetahuan yang baru benar-benar dipahami ketika seseorang mengalaminya sendiri.

Belajar Mengikuti Sebuah Perjalanan

Simulasi manasik bukanlah ibadah haji yang sesungguhnya. Ia merupakan proses pembelajaran untuk mengenalkan kepada siswa rangkaian dan tata cara pelaksanaan ibadah tersebut.

Karena itu, yang dibawa pulang dari kegiatan tersebut bukan hanya hafalan doa atau urutan gerakan.

Ada pengalaman.

Ada keberanian untuk mencoba.

Ada pula kesadaran bahwa sebuah perjalanan besar selalu dimulai dari memahami langkah pertama.

Di antara suara doa yang dilantunkan dengan penuh semangat, para siswa MTsN 1 Kudus sedang belajar mengenal sebuah perjalanan yang suatu hari mungkin benar-benar akan mereka jalani.

Hari itu mereka belum berada di Makkah. Belum menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Belum melihat Ka’bah yang sesungguhnya.

Namun, melalui simulasi sederhana di Boyolali, mereka sedang belajar membangun sebuah gambaran.

Bahwa haji dan umrah bukan hanya tentang sampai di tanah suci.

Ada rangkaian perjalanan yang harus dipahami, ada aturan yang harus dijalankan, ada doa yang dilantunkan, dan ada kesabaran yang harus disiapkan.

Barangkali itulah alasan suara mereka terdengar begitu bersemangat pagi itu.

Mereka bukan sekadar sedang berjalan mengitari sebuah bangunan.

Mereka sedang belajar menghidupkan pelajaran.

Dan di antara riuh suara anak-anak yang melafalkan zikir, ada sebuah proses pendidikan yang perlahan menemukan bentuknya: dari apa yang diketahui di kepala, menuju sesuatu yang dipahami melalui pengalaman. (Mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments