LESINDO.COM – Ada satu kebiasaan yang jarang disadari, tetapi diam-diam membentuk cara seseorang menjalani hidup: membandingkan. Ia melihat ke luar dirinya, menakar hidup orang lain, lalu tanpa terasa menyimpulkan bahwa apa yang dimilikinya tidak pernah cukup. Dari sanalah rasa kurang mulai tumbuh—pelan, nyaris tak terdengar—hingga suatu saat ia memenuhi seluruh ruang batin.
Dalam keadaan seperti itu, nikmat tidak benar-benar hilang. Ia tetap ada, hadir seperti biasa. Hanya saja, hati yang dipenuhi keluhan tidak lagi mampu merasakannya. Seolah ada kabut tipis yang menutup pandangan batin, membuat segala yang seharusnya bermakna menjadi biasa, bahkan terasa hambar.
Di tengah arus kehidupan yang semakin cepat dan kompetitif, rasa tidak cukup seperti menemukan tempatnya. Standar kebahagiaan tidak lagi lahir dari dalam diri, melainkan dibentuk oleh lingkungan—oleh apa yang dilihat, oleh apa yang dimiliki orang lain. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam perlombaan yang bahkan tidak pernah benar-benar ia pilih.
Namun di balik semua itu, ada satu sikap yang kerap terdengar sederhana, tetapi memiliki kedalaman yang jarang disentuh: syukur.
Syukur bukan sekadar ucapan singkat yang dilafalkan tanpa jeda. Ia adalah cara pandang. Cara seseorang menafsirkan hidupnya sendiri. Dalam syukur, yang sederhana tidak lagi dipandang remeh. Yang kecil tidak lagi diabaikan. Bahkan hal-hal yang selama ini dianggap biasa perlahan menemukan maknanya kembali.
Secara psikologis, syukur bekerja seperti penjernih. Ia meredakan pikiran yang semula dipenuhi kegelisahan, lalu mengarahkannya pada apa yang masih ada. Ketika seseorang mulai menghargai apa yang dimilikinya, pikirannya menjadi lebih stabil. Masalah tetap ada, tetapi tidak lagi terasa menyesakkan.
Sebaliknya, keluhan sering kali hadir sebagai pelarian yang tampak wajar. Ia memberi ruang untuk meluapkan perasaan, tetapi jika terus dipelihara, ia berubah menjadi kebiasaan. Keluhan memperbesar hal-hal kecil, mengulang narasi kekurangan, dan pada akhirnya membentuk keyakinan bahwa hidup memang tidak pernah berpihak.
Di ruang sosial, dampaknya tidak berhenti pada diri sendiri. Keluhan menular. Ia menciptakan suasana yang berat, menghadirkan energi negatif yang perlahan mempengaruhi cara orang lain memandang hidup. Tanpa disadari, satu keluhan bisa melahirkan banyak keluhan lainnya.
Berbeda dengan itu, syukur memiliki daya sebar yang lebih halus, tetapi lebih kuat. Ia menghadirkan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Orang yang bersyukur cenderung lebih lapang, lebih sabar, dan lebih mudah menerima. Ia tidak sibuk mengejar pengakuan, karena ia sudah menemukan cukup di dalam dirinya.
Menariknya, rasa cukup inilah yang justru semakin langka. Banyak orang memiliki lebih, tetapi merasa kurang. Mereka terus mengejar, tanpa pernah benar-benar berhenti untuk melihat apa yang sudah dimiliki. Dalam kondisi seperti itu, kebahagiaan menjadi sesuatu yang selalu tertunda.
Padahal, syukur tidak menuntut kesempurnaan. Ia tidak meminta hidup berjalan sesuai keinginan. Ia hanya mengajak seseorang untuk melihat dengan cara yang berbeda. Kekurangan tidak lagi dianggap sebagai beban semata, melainkan bagian dari proses. Ketidaksempurnaan tidak lagi ditolak, tetapi diterima sebagai warna dalam perjalanan.
Dari sanalah ketenangan mulai tumbuh. Bukan ketenangan yang datang karena semua masalah selesai, tetapi ketenangan yang lahir karena hati tidak lagi terus-menerus melawan kenyataan.
Ada satu pertanyaan yang sering kali baru terasa berat ketika kehilangan benar-benar terjadi: jika semua yang kita miliki hari ini perlahan diambil satu per satu, apakah kita baru akan menyadari nilainya?
Atau, lebih sunyi lagi—apakah bahkan dalam kehilangan, kita tetap merasa bahwa hidup tidak pernah memberi apa-apa?
Di titik itulah syukur menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita melihatnya. Bukan tentang seberapa banyak yang hadir, tetapi tentang seberapa mampu hati mengakuinya.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk merasa kurang, syukur adalah satu-satunya cara untuk benar-benar pulang—pulang pada diri sendiri, pada rasa cukup, dan pada kedamaian yang tidak bergantung pada apa pun di luar sana. (Wan)

