Oleh : Adreena
LESINDO.COM – Ada perjalanan yang sebenarnya belum selesai, tetapi seseorang di dalamnya sudah lebih dahulu sampai pada sebuah keputusan: urusanku dengan urusanmu sudah selesai.
Bukan karena jalan telah berakhir. Bukan pula karena jarak di depan sudah tidak ada. Jalan masih panjang, tikungan masih banyak, dan entah berapa langkah lagi yang harus ditempuh sebelum benar-benar sampai pada tempat yang dituju.
Hanya saja, ada sesuatu di dalam hati yang diam-diam telah selesai.
Barangkali yang tersisa hanyalah kebiasaan berjalan beriringan. Sesekali bertemu, berbicara, tertawa, lalu kembali menjalani kehidupan masing-masing. Dari luar semuanya tampak biasa. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal kita tahu, kehidupan yang tampak baik-baik saja belum tentu benar-benar baik-baik saja.
Manusia sering mempertahankan sesuatu bukan karena masih ingin tinggal, melainkan karena belum siap menerima bahwa sebuah perjalanan memang harus berakhir.
Padahal bertemu dan berpisah adalah dua hal yang sejak awal berada dalam satu paket kehidupan.
Ada yang datang untuk menetap. Ada yang datang sebentar. Ada pula yang kehadirannya baru kita pahami setelah ia pergi.
Mungkin itulah bagian dari rencana yang tidak pernah diperlihatkan seluruhnya kepada manusia.
Kita hanya diberi satu halaman setiap kali menjalani hidup. Sementara Tuhan mengetahui seluruh bukunya.
Maka ketika sebuah jalan berubah arah, mungkin tidak selalu berarti kita tersesat.
Bisa jadi kita sedang diarahkan.
Ada masa ketika kehidupan harus merobohkan rumah yang kita bangun sendiri.
Bukan satu bagian, tetapi hampir seluruhnya.
Atapnya runtuh. Dindingnya retak. Perabot yang selama ini kita anggap penting berserakan. Bahkan fondasi yang kita kira paling kuat ternyata tidak mampu lagi menyangga.
Pada saat seperti itu, manusia sering bertanya, mengapa semua harus dihancurkan?
Barangkali karena ada bangunan yang memang sejak awal didirikan di tempat yang salah.
Kita terlalu lama membangun sesuatu hanya karena ingin terlihat berhasil. Mengejar pengakuan. Mempertahankan hubungan yang sudah kehilangan arah. Menumpuk keinginan yang tidak pernah benar-benar kita perlukan.
Sampai suatu hari kehidupan memaksa kita berhenti.
Dan ketika semuanya rata dengan tanah, barulah kita memiliki kesempatan untuk melihatnya dengan lebih jernih.
Ternyata selama ini kita sedang membangun rumah yang tidak pernah benar-benar ingin kita tinggali.
Maka dari reruntuhan itu, hidup memberi kesempatan kedua.
Bukan untuk membangun rumah yang lebih besar.
Tetapi rumah yang lebih sederhana, lebih tenang, dan lebih sesuai dengan siapa diri kita sebenarnya.
Menjadi baik juga ternyata bukan sesuatu yang selesai dalam sehari.
Ia adalah pekerjaan panjang.
Kadang kita harus mengubah arah. Mengubah cara memandang kehilangan. Mengubah cara memahami kegagalan. Bahkan mengubah cara kita melihat diri sendiri.
Sebab setiap orang mempunyai kompas kehidupan masing-masing.
Ada yang mengejar nama. Ada yang mengejar harta. Ada yang mencari kedudukan. Ada yang ingin hidup tenang. Ada pula yang setelah melewati separuh perjalanan akhirnya sadar bahwa yang dicari bukan lagi sesuatu di luar dirinya, melainkan ketenangan di dalam dirinya sendiri.
Tidak ada jalan yang benar-benar sama.
Yang perlu kita pastikan hanyalah satu: jangan sampai kita berjalan terlalu jauh menuju tempat yang sebenarnya tidak ingin kita datangi.
Untunglah hidup tidak hanya menyediakan siang.
Ada malam.
Ketika dunia mulai sunyi dan suara-suara dari luar perlahan mengecil, manusia mempunyai kesempatan untuk mendengar kembali suara hatinya sendiri.
Di atas sajadah, dalam doa yang panjang, kadang tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Kita bisa mengakui bahwa kita lelah.
Bahwa ada keputusan yang salah.
Ada orang yang belum mampu kita maafkan.
Ada kehilangan yang masih terasa.
Ada arah yang sempat keliru.
Dan ada bagian dari diri kita yang ingin sekali dimulai kembali.
Mungkin munajat bukan sekadar meminta agar kehidupan berubah sesuai keinginan kita.
Kadang ia adalah cara untuk meminta agar hati kita cukup lapang menerima kehidupan sebagaimana adanya.
Sebab tidak semua jawaban datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Sebagian jawaban datang sebagai kehilangan.
Sebagian datang sebagai perpisahan.
Sebagian lagi datang sebagai jalan yang tiba-tiba tertutup.
Dan setelah lama kita renungkan, barangkali baru kita mengerti: ternyata pintu itu ditutup agar kita tidak terus berjalan ke arah yang salah.
Masih ada waktu.
Selama napas masih datang dan pergi, perjalanan belum benar-benar selesai.
Masih ada kesempatan untuk berbenah. Masih ada pagi untuk memulai sesuatu yang baru. Masih ada malam untuk bermunajat. Masih ada hari-hari yang belum kita jalani.
Karena itu, tidak perlu terlalu sibuk menghitung siapa yang pergi dan siapa yang tinggal.
Tidak perlu pula memaksa semua orang tetap berjalan bersama.
Ada perjalanan yang memang harus ditempuh sendirian.
Dan mungkin, justru di jalan yang sepi itulah seseorang akhirnya menemukan dirinya.
Urusanku dengan urusanmu sudah selesai.
Tetapi urusanku dengan hidup masih panjang.
Aku masih harus menemukan arah.
Masih harus belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Masih harus membangun kembali rumah yang pernah runtuh.
Dan kali ini, aku ingin membangunnya bukan untuk dilihat orang lain.
Cukup agar ketika suatu malam aku pulang, aku tidak lagi merasa asing dengan diriku sendiri.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita berjalan, tetapi apakah kita tahu ke mana hati ini seharusnya pulang.

