spot_img
BerandaJelajahKetika Nurani Menjadi Arang di Kota Budaya

Ketika Nurani Menjadi Arang di Kota Budaya

Memulihkan nurani bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan keberanian untuk menegakkan hukum secara adil, tanpa pandang bulu. Ia juga menuntut sesuatu yang lebih sederhana, namun sering diabaikan: kepekaan untuk tidak diam saat melihat ketidakadilan, sekecil apa pun bentuknya.

Oleh : Tilotama

LESINDO.COM – Di sebuah kota yang selama ini dielu-elukan sebagai rahim kebudayaan dan ruang lahirnya pemikiran—Yogyakarta—kita mendapati ironi yang pelan-pelan menggerus keyakinan: bahwa peradaban selalu berjalan seiring dengan kemanusiaan. Kenyataannya, tidak selalu demikian.

Beberapa waktu terakhir, kabar tentang kenakalan remaja yang menjelma brutal, dugaan penyiksaan balita di tempat penitipan anak, hingga praktik korupsi yang terstruktur, datang silih berganti. Seolah ada satu benang merah yang tak kasatmata, namun terasa kuat mengikat semuanya: pudarnya hati nurani.

Di titik ini, pertanyaan menjadi tak terelakkan—bukan lagi “apa yang terjadi”, melainkan “apa yang hilang dari diri kita”.

Hati nurani, dalam pengertian paling sederhana, adalah suara yang tak pernah berteriak, namun selalu hadir. Ia membisikkan rasa bersalah ketika kita melukai, dan menumbuhkan iba saat kita menyaksikan penderitaan. Ia bukan sekadar nilai moral, melainkan fondasi yang membuat manusia tetap manusia.

Namun, apa jadinya ketika suara itu tak lagi terdengar?

Di sebuah daycare, misalnya, seorang pengasuh yang juga seorang ibu tega melukai anak yang seharusnya ia lindungi. Peristiwa semacam ini tak lagi bisa dijelaskan sebagai kekhilafan sesaat. Ia lebih menyerupai proses panjang yang dalam psikologi disebut desensitisasi—ketika rasa empati terkikis perlahan, hingga penderitaan orang lain tak lagi terasa sebagai sesuatu yang berarti.

Anak kecil, yang seharusnya dipandang sebagai titipan yang rapuh, berubah menjadi objek. Bukan untuk dirawat, tetapi untuk dilampiaskan.

Di sisi lain, praktik korupsi yang melibatkan banyak pihak memperlihatkan wajah lain dari hilangnya nurani: ia tak lagi bersifat personal, melainkan kolektif. Ketika belasan orang bisa bekerja sama dalam sebuah penyimpangan, itu bukan sekadar pelanggaran hukum. Itu adalah tanda bahwa kejahatan telah dinormalisasi—diterima sebagai bagian dari sistem, bahkan prosedur.

Nurani, dalam konteks ini, tidak mati sendirian. Ia mati bersama-sama.

Ada sebuah pepatah lama yang kerap diulang: sebuas-buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri. Di dalam dunia binatang, ada hukum alam yang membatasi. Insting bertahan hidup dan melindungi keturunan menjadi pagar yang tak tertulis.

Manusia, ironisnya, tidak selalu memiliki pagar itu ketika nurani telah hilang.

Dengan akal dan intelektual, manusia justru mampu merancang kekejaman yang lebih sistematis. Ia bisa menyusun strategi, menutupi jejak, bahkan membungkus kejahatan dengan wajah yang tampak wajar. Di hadapan publik, ia bisa tersenyum. Di balik layar, ia mungkin sedang merampas hak orang lain.

Di titik ini, manusia bukan lagi sekadar “turun derajat”. Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya—makhluk yang tidak hanya kehilangan rasa, tetapi juga menggunakan pikirannya untuk memperluas kerusakan.

Namun, di tengah gelapnya narasi ini, harapan tidak sepenuhnya padam.

Kota seperti Yogyakarta tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari tradisi panjang tentang ilmu, seni, dan nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, apa yang memudar hari ini, pada dasarnya pernah hidup dan tumbuh dengan kuat.

Yang menjadi pertaruhan kini adalah: apakah kita memilih untuk membiarkannya redup, atau berusaha menyalakan kembali.

Memulihkan nurani bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan keberanian untuk menegakkan hukum secara adil, tanpa pandang bulu. Ia juga menuntut sesuatu yang lebih sederhana, namun sering diabaikan: kepekaan untuk tidak diam saat melihat ketidakadilan, sekecil apa pun bentuknya.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi atau capaian intelektual. Ia diukur dari hal yang jauh lebih sunyi—kemampuan manusia untuk merasa.

Dan mungkin, di situlah garis batas terakhir antara terang dan gelap: pada seberapa jauh kita masih mampu merasakan iba.

Artikulli paraprak
RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments