LESINDO.COM – Pagi belum benar-benar terbit ketika suara mesin diesel mulai memecah sunyi di sebuah desa di pedalaman Nusa Tenggara Barat. Dari kejauhan, sebuah truk berbak kayu perlahan datang menembus kabut tipis pegunungan. Di sisi jalan, beberapa warga telah menunggu sejak subuh—membawa karung hasil panen, keranjang sayur, hingga tas kecil berisi kebutuhan sehari-hari. Satu per satu mereka naik ke bak belakang truk, duduk berdesakan di atas papan kayu atau hamparan terpal seadanya.
Di pelosok-pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB), pemandangan truk yang dipenuhi penumpang bukanlah hal yang asing. Saat matahari belum sepenuhnya meninggi, kendaraan-kendaraan besar yang biasanya mengangkut komoditas tani atau material bangunan ini sudah berbaris di titik-titik penjemputan. Di wilayah di mana topografi alam yang menantang dan akses transportasi umum konvensional belum menjangkau setiap sudut pedesaan, truk bertransformasi menjadi “tulang punggung” mobilitas warga.

Bagi masyarakat lokal, truk bukan sekadar mesin angkut barang; ia adalah kendaraan multifungsi yang merajut konektivitas antar-desa. Penumpang duduk beralaskan terpal atau papan kayu seadanya di bak belakang yang terbuka, ditemani embusan angin pegunungan atau teriknya matahari pesisir. Meski secara standar keamanan transportasi hal ini jauh dari ideal, realita sosial dan ekonomi menempatkan truk sebagai pilihan yang paling masuk akal.
Ada ketergantungan yang kuat di sini. Truk sering kali menjadi satu-satunya moda yang mampu menembus medan berat menuju pasar tradisional atau pusat kecamatan. Selain karena faktor keterbatasan armada bus, biaya transportasi menggunakan truk pun cenderung lebih terjangkau, bahkan sering kali memungkinkan warga untuk sekaligus mengangkut hasil bumi atau barang dagangan mereka dengan tarif yang fleksibel.
Di balik laju truk yang membelah perbukitan dan jalanan desa di NTB, tersimpan cerita tentang ketangguhan warga dalam beradaptasi. Fenomena ini mencerminkan dinamika masyarakat yang terus bergerak di tengah keterbatasan sarana, di mana kebutuhan untuk saling terhubung dan bertahan hidup selalu menemukan jalannya sendiri—bahkan di atas bak sebuah truk kayu yang sederhana. (Bli)

