spot_img
BerandaJelajahKetika Langit Mengenal Namamu

Ketika Langit Mengenal Namamu

Masih dapat bekerja dengan tenang. Masih mampu menyekolahkan anak-anak. Masih memiliki rumah, meski sederhana. Masih bisa makan setiap hari. Masih diberi kesehatan untuk bersujud. Semua itu adalah karunia yang nilainya tidak dapat diukur dengan angka.

Oleh : Goes Mic 

LESINDO.COM – Ada satu jebakan yang sering kali tidak kita sadari. Kita mengira bahwa keberhasilan hidup diukur dari seberapa banyak nama kita disebut, wajah kita dikenali, atau kata-kata kita mendapat tepuk tangan. Padahal, dalam perjalanan ruhani, pujian justru sering menjadi ujian yang lebih halus daripada celaan.

Celaan biasanya membuat seseorang segera bercermin. Ia terdorong memperbaiki diri. Namun pujian kerap membuat hati terlena. Sedikit demi sedikit tumbuh rasa bangga, merasa cukup, bahkan tanpa sadar menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Di situlah keikhlasan mulai terkikis, bukan oleh kebencian orang lain, melainkan oleh kekaguman terhadap diri sendiri.

Karena itu para ulama sering mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak pernah ditentukan oleh banyaknya orang yang mengagumi kita. Kemuliaan diukur dari kedekatan seorang hamba kepada Rabb yang Maha Mengetahui isi hati. Allah tidak melihat seberapa ramai manusia memuji kita, tetapi melihat niat yang tersembunyi, air mata yang jatuh dalam sepi, dan amal yang dilakukan tanpa ingin diketahui siapa pun.

Di zaman yang begitu bising oleh pencitraan, manusia berlomba-lomba menjadi terkenal. Ada yang rela menghabiskan waktu demi membangun citra, mengejar pengikut, mengumpulkan pengakuan, seolah-olah itulah ukuran keberhasilan hidup. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu berjalan beriringan dengan kemuliaan.

Banyak orang besar justru tumbang ketika berada di puncak kekuasaan. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi alat untuk menindas. Kekuasaan melahirkan kesewenang-wenangan, korupsi, dan perilaku yang melukai rasa keadilan masyarakat. Berita tentang penyalahgunaan wewenang hampir setiap hari memenuhi layar televisi dan ruang-ruang media.

Demikian pula harta. Tidak sedikit orang mengumpulkannya tanpa pernah benar-benar merasa cukup. Kekayaan berubah menjadi simbol kebanggaan, dipamerkan sebagai ukuran martabat. Padahal harta hanyalah titipan. Nilainya bukan pada seberapa banyak yang disimpan, melainkan seberapa luas manfaat yang mengalir kepada sesama.

Tentu ada orang-orang yang dianugerahi kekuasaan sekaligus ketawadukan, diberi kekayaan lalu menjadikannya jalan untuk menyantuni anak yatim, membangun pendidikan, menolong fakir miskin, dan menghidupkan kemaslahatan umat. Mereka ada, tetapi jumlahnya tidak pernah banyak. Justru karena langka, kisah mereka selalu dikenang sepanjang zaman.

Sebaliknya, kebanyakan dari kita hanyalah orang-orang biasa. Tidak memiliki jabatan tinggi. Tidak mempunyai rumah megah. Nama kita mungkin tidak pernah muncul di media. Namun bukankah hidup yang sederhana pun menyimpan nikmat yang sering luput kita syukuri?

Masih dapat bekerja dengan tenang. Masih mampu menyekolahkan anak-anak. Masih memiliki rumah, meski sederhana. Masih bisa makan setiap hari. Masih diberi kesehatan untuk bersujud. Semua itu adalah karunia yang nilainya tidak dapat diukur dengan angka.

Kadang kita terlalu sibuk memandang ke atas sehingga lupa menghitung nikmat yang telah berada dalam genggaman. Kita iri kepada mereka yang tampak hebat, padahal belum tentu hati mereka dipenuhi ketenangan. Sebaliknya, banyak orang yang hidup sederhana tetapi tidurnya nyenyak karena hatinya lapang dan hubungannya dengan Allah tetap terjaga.

Di titik inilah kisah seorang pemuda bernama Uwais al-Qarni selalu menemukan maknanya.

Ia bukan raja. Bukan panglima. Bukan saudagar kaya. Ia hidup miskin, sederhana, dan hampir tidak dikenal manusia. Hari-harinya dihabiskan untuk merawat ibunya yang telah renta. Bahkan kesempatan bertemu Rasulullah SAW pun ia relakan hilang demi memenuhi baktinya kepada sang ibu.

Di bumi, nyaris tak ada yang mengenalnya. Namun di langit, namanya disebut dengan penuh kemuliaan. Rasulullah SAW bahkan meminta Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib untuk meminta doa kepada Uwais apabila bertemu dengannya.

Betapa paradoksnya. Manusia yang tidak terkenal di bumi ternyata begitu mulia di sisi Allah.

Kisah itu seperti menegur cara pandang kita hari ini. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar agar dikenal manusia, padahal yang jauh lebih penting adalah dikenal oleh penghuni langit. Sebab ketika langit mengenal seorang hamba, bumi tidak lagi menjadi ukuran kemuliaannya.

Maka jangan bersedih jika hidup kita terasa biasa-biasa saja. Tidak semua orang ditakdirkan menjadi tokoh besar. Tidak semua orang harus berdiri di panggung. Sebagian justru dipilih Allah untuk menjadi hamba-hamba yang bekerja dalam diam, berbuat baik tanpa sorotan, dan mengabdi tanpa ingin dipuji.

Barangkali, itulah kemewahan yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan manusia bukanlah tepuk tangan dunia, bukan gelar yang panjang, bukan pula popularitas yang gemerlap. Semua itu akan berhenti ketika usia berakhir.

Yang tersisa hanyalah amal yang diterima dan ridha Allah.

Maka setiap kali pujian datang, jadikanlah ia sebagai pengingat untuk semakin rendah hati. Setiap kali nikmat menghampiri, balaslah dengan syukur. Dan setiap kali hati mulai tergoda mengejar pengakuan manusia, ingatlah bahwa ada kemuliaan yang jauh lebih tinggi daripada dikenal seluruh penduduk bumi: menjadi hamba yang namanya dikenal oleh langit.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments