spot_img
BerandaKomunitasJalani Bagianmu, Biarkan Allah Menyelesaikan Sisanya

Jalani Bagianmu, Biarkan Allah Menyelesaikan Sisanya

Berbuat baik ketika mampu. Berusaha ketika masih ada jalan. Meminta maaf ketika bersalah. Menjaga tubuh ketika mulai lelah. Menjaga hati ketika mulai dipenuhi kegelisahan. Kemudian, setelah semuanya dilakukan semampu kita, menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Oleh : Machrus Muhamad

LESINDO.COM – Ada saatnya dalam hidup ketika seseorang perlu berhenti sejenak. Bukan karena menyerah, melainkan karena menyadari bahwa dirinya memiliki batas.

Kita sering ingin menyelesaikan semuanya sekaligus. Memikirkan apa yang belum selesai, mengejar sesuatu yang belum tercapai, mempertahankan apa yang mulai menjauh, bahkan memaksakan diri untuk tetap kuat ketika tubuh sebenarnya sudah meminta istirahat.

Padahal, tidak semua perkara harus selesai oleh tangan kita.

Ada bagian yang memang menjadi tanggung jawab manusia. Ada pula bagian yang berada di luar kemampuan kita. Di antara keduanya, barangkali yang paling penting adalah mengetahui batas: kapan harus berusaha, kapan harus berhenti, kapan harus merespons, dan kapan sebaiknya membiarkan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Jalani saja bagianmu dengan tenang.

Kerjakan apa yang memang menjadi kemampuanmu. Lakukan dengan sebaik-baiknya, tanpa harus memaksa diri memenuhi seluruh keinginan yang terkadang jauh lebih besar daripada kemampuan.

Sebab kemampuan manusia memang terbatas. Keinginan bisa berlari jauh ke depan, sementara tubuh, pikiran, waktu, dan keadaan memiliki batasnya sendiri.

Di situlah kita belajar tentang menerima.

Bukan berarti berhenti memiliki harapan. Bukan pula menjadi pasif terhadap kehidupan. Menerima adalah memahami bahwa ikhtiar manusia memiliki ujung, sementara kehendak Allah tidak pernah dibatasi oleh apa yang sanggup kita bayangkan.

Setelah bagian kita selesai dikerjakan, ada baiknya kita belajar menyerahkan sisanya kepada-Nya.

Sebab terlalu lama memaksakan sesuatu sering kali bukan hanya melelahkan pikiran, tetapi juga tubuh.

Tubuh memiliki cara sendiri untuk berbicara. Ketika terlalu lama dipaksa, ia mulai memberikan tanda: tidur yang tidak lagi nyenyak, kepala yang terasa berat, tubuh yang mudah letih, konsentrasi yang menurun, atau berbagai keluhan yang muncul perlahan.

Kadang-kadang kita baru menyadarinya setelah tubuh benar-benar berhenti bekerja sebagaimana biasanya.

Padahal jauh sebelumnya tubuh telah memberi peringatan.

Karena itu, ada kebijaksanaan sederhana yang sering kita lupakan: tahu kapan harus bertahan dan tahu kapan harus melepaskan.

Tidak semua hal harus dilawan. Tidak semua perkataan harus dijawab. Tidak semua persoalan harus diberi respons. Dan tidak setiap orang harus diyakinkan bahwa kita berada di pihak yang benar.

Ada perkara yang selesai bukan karena kita memenangkan perdebatan, melainkan karena kita memilih tidak memperpanjangnya.

Ada hubungan yang menjadi lebih sehat ketika kita memberi jarak. Ada persoalan yang justru menemukan jalannya sendiri ketika kita berhenti mencampurinya.

Dalam hidup, kemampuan untuk diam terkadang sama pentingnya dengan kemampuan untuk berbicara.

Begitu pula kemampuan untuk melepaskan.

Melepaskan bukan berarti kalah. Kadang-kadang ia adalah bentuk lain dari keberanian—keberanian untuk mengakui bahwa sesuatu memang sudah berada di luar kapasitas kita.

Bukankah manusia tidak pernah diminta menguasai seluruh kehidupan?

Kita hanya diminta menjalani bagian kita.

Berbuat baik ketika mampu. Berusaha ketika masih ada jalan. Meminta maaf ketika bersalah. Menjaga tubuh ketika mulai lelah. Menjaga hati ketika mulai dipenuhi kegelisahan. Kemudian, setelah semuanya dilakukan semampu kita, menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Barangkali di situlah ketenangan bermula.

Kita tidak lagi sibuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan. Tidak lagi menghabiskan energi untuk perkara yang tidak memberi ruang bagi perubahan. Tidak lagi memaksa pintu yang memang belum dibukakan.

Hidup ternyata bukan tentang menyelesaikan semuanya.

Ada pekerjaan yang memang harus kita tuntaskan. Ada persoalan yang cukup kita hadapi. Ada pula perkara yang lebih baik kita tinggalkan.

Maka ketika kemampuan sudah sampai pada batasnya, jangan selalu menganggap berhenti sebagai kegagalan.

Bisa jadi, berhenti sejenak adalah cara tubuh menyelamatkan kita dari kelelahan yang lebih panjang.

Dan bisa jadi pula, melepaskan sesuatu adalah cara Allah mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita.

Jalani bagianmu dengan tenang.

Tidak perlu mengambil seluruh beban dunia ke dalam pikiran. Tidak perlu memaksa tubuh terus berjalan ketika ia membutuhkan jeda. Tidak perlu menjawab semua hal yang datang kepada kita.

Ketahuilah kapan harus merespons dan kapan cukup diam.

Ketahuilah kapan harus bertahan dan kapan waktunya melepaskan.

Sebab setelah ikhtiar manusia mencapai batasnya, ada wilayah yang sepenuhnya menjadi urusan Allah.

Di sanalah kita belajar percaya: bahwa hidup tidak selalu harus kita selesaikan sendiri.

Kerjakan bagianmu dengan sungguh-sungguh. Istirahatlah ketika tubuh meminta. Lepaskan ketika memang sudah waktunya. Selebihnya, biarkan Allah menyelesaikan apa yang tidak lagi mampu kita jangkau.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments