Perselisihan di jalan bukan semata soal siapa yang salah dan siapa yang benar. Ia kerap membuka wajah lain dari kehidupan sosial: tentang ego, kelas, kekuasaan, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika merasa dirinya lebih memiliki hak.
LESINDO.COM – Jalan raya semestinya menjadi ruang paling demokratis dalam kehidupan sehari-hari. Di atas aspal, semua orang seharusnya memiliki hak yang sama untuk melintas. Mobil mewah tidak mendapatkan hak istimewa untuk menggunakan jalan lebih dahulu. Sepeda motor tua tidak semestinya dianggap lebih rendah. Pengemudi ojek daring tidak kehilangan martabatnya hanya karena pekerjaannya berada di jalan.
Tetapi kenyataan sering berbeda.
Di jalan, kesenjangan sosial kadang muncul dalam bentuk yang sederhana: sebuah kendaraan besar yang memaksa masuk, pengendara yang enggan memberi jalan, klakson yang dibunyikan panjang, atau seseorang yang ketika ditegur justru turun dari kendaraan dengan emosi yang meninggi.
Jalan raya kemudian berubah menjadi arena kecil tempat manusia mempertontonkan siapa dirinya.
Perselisihan antara pengemudi Toyota Alphard dan pengemudi ojek online yang sempat viral di media sosial menjadi salah satu contoh. Insiden itu bermula dari dugaan senggolan antara kendaraan di kawasan RC Veteran Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Ketegangan terjadi setelah kejadian tersebut dan sepeda motor pengemudi ojol dilaporkan mengalami kerusakan.
Namun cerita itu akhirnya tidak berhenti pada pertengkaran.
Pemilik Alphard bertemu dengan pengemudi ojol. Ia menyampaikan permintaan maaf. Keduanya kemudian bersalaman dan memilih menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Momen tersebut menarik perhatian bukan semata karena sebuah perselisihan berakhir damai. Ada sesuatu yang lebih penting: kesediaan seseorang untuk menurunkan ego ketika sebelumnya ada potensi kesenjangan posisi sosial.
Sebab, dalam banyak peristiwa di jalan, persoalan sebenarnya bukan sekadar kendaraan yang bersenggolan.
Yang bertabrakan sering kali adalah ego.
Jalan Raya dan Psikologi “Saya Lebih Berhak”
Mengapa seseorang yang mengendarai mobil mahal terkadang merasa lebih berhak mendapatkan jalan dibandingkan pengendara sepeda motor?
Mengapa kendaraan yang lebih besar sering dianggap memiliki prioritas moral, seolah ukuran bodi kendaraan juga menentukan ukuran martabat pemiliknya?
Mengapa orang yang memiliki jabatan, seragam, kekuasaan, uang, atau koneksi tertentu bisa merasa lebih aman ketika melakukan kesalahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena jalan raya hanyalah cermin dari tatanan sosial yang lebih luas.
Di masyarakat yang sehat, aturan berlaku karena semua orang memahami batas. Bukan karena takut kepada siapa yang sedang berhadapan dengannya.
Tetapi ketika aturan hanya ditaati karena takut kepada kekuasaan, maka hukum kehilangan sebagian dari wibawanya.
Pengendara kecil belajar bahwa melawan kendaraan besar bisa berisiko. Pekerja lapangan memilih diam ketika berhadapan dengan orang yang dianggap memiliki posisi sosial lebih tinggi. Orang yang merasa tidak punya kekuasaan akhirnya hanya bisa mengelus dada ketika haknya dilanggar.
Di titik itulah persoalan lalu lintas berubah menjadi persoalan keadilan sosial.
Yang Lemah Sering Diminta Mengalah
Di jalan, tidak semua orang memiliki posisi yang sama.
Ada pengemudi mobil mewah. Ada pengendara sepeda motor tua. Ada sopir angkutan umum. Ada kurir. Ada pengemudi ojol yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan untuk mengantar makanan, paket, atau penumpang.
Ketika terjadi perselisihan, kekuatan ekonomi kadang ikut hadir secara diam-diam.
Bukan berarti setiap pemilik kendaraan mahal pasti arogan. Bukan pula setiap pengendara sepeda motor selalu menjadi korban. Persoalannya bukan pada jenis kendaraan, melainkan pada mentalitas bahwa status sosial dapat menjadi tiket untuk memperoleh perlakuan berbeda.
Ketika seseorang salah lalu meminta maaf, persoalan dapat selesai.
Tetapi ketika kesalahan dibalas dengan kemarahan karena merasa memiliki kedudukan lebih tinggi, konflik kecil dapat berubah menjadi pertarungan harga diri.
Kalimat sederhana seperti, “Saya salah, maaf,” sebenarnya memiliki kekuatan sosial yang besar.
Sayangnya, bagi sebagian orang, meminta maaf dianggap sebagai kekalahan.
Padahal meminta maaf bukan berarti kalah.
Justru di situlah kedewasaan seseorang diuji.
Ketika Otak dan Hati Sama-Sama Di-Off-kan
Manusia diberi akal untuk berpikir, hati untuk merasakan, dan aturan untuk membatasi perilaku.
Namun ketiganya bisa seolah dimatikan oleh ego.
Kita tahu suara knalpot brong mengganggu pengguna jalan lain, tetapi tetap menggunakannya. Kita tahu membunyikan klakson berlebihan membuat orang lain tidak nyaman, tetapi tetap dilakukan. Kita tahu memotong jalur secara tiba-tiba berbahaya, tetapi tetap merasa tidak bersalah.
Ketika ditegur, bukan introspeksi yang muncul, melainkan kemarahan.
Seolah-olah kritik terhadap perilaku dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri.
Di sinilah masalah sosial sebenarnya bermula.
Bukan dari satu knalpot brong.
Bukan dari satu senggolan.
Bukan dari satu kendaraan yang tidak memberi jalan.
Melainkan dari kebiasaan kecil membenarkan kesalahan diri sendiri.
Aturan yang Bisa Dinegosiasikan
Ada persoalan lain yang lebih serius: persepsi bahwa aturan dapat dinegosiasikan berdasarkan siapa yang melanggarnya.
Kalau seseorang tidak memiliki kekuasaan, ia mudah diminta tunduk pada aturan.
Tetapi ketika pelanggarnya memiliki uang, jabatan, koneksi, atau pengaruh, muncul anggapan bahwa persoalan bisa “diselesaikan”.
Inilah yang berbahaya bagi tatanan sosial.
Sebab masyarakat perlahan belajar satu hal yang sangat buruk: aturan bukan sesuatu yang harus ditaati, melainkan sesuatu yang bisa dicari celahnya.
Jika jalan buntu, damai.
Jika tidak bisa damai, cari orang yang dikenal.
Jika masih sulit, gunakan pengaruh.
Jika lawannya tidak berdaya, tekan.
Mentalitas semacam itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar pertengkaran di jalan.
Sebab hukum dan norma sosial pada akhirnya tidak hanya membutuhkan aparat. Ia membutuhkan kepercayaan masyarakat bahwa semua orang diperlakukan secara adil.
Damai Bukan Berarti Persoalan Tidak Pernah Terjadi
Pertemuan pengemudi Alphard dan ojol yang berakhir dengan permintaan maaf justru menunjukkan bahwa konflik tidak selalu harus berakhir dengan kemenangan salah satu pihak.
Ada pilihan ketiga: menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Permintaan maaf tidak menghapus kejadian. Tetapi ia menghentikan rantai ego.
Di jalan raya, barangkali inilah yang semakin dibutuhkan: kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum emosi mengambil alih kendali.
Tidak semua orang yang tidak memberi jalan sedang menghina kita.
Tidak semua teguran adalah serangan terhadap harga diri.
Tidak semua kesalahan harus dibalas dengan kemarahan.
Dan tidak semua persoalan harus dimenangkan.
Sebab kemenangan di jalan raya yang membuat orang lain terluka, terhina, atau kehilangan rasa aman sebenarnya bukan kemenangan.
Jalan Raya Adalah Cermin Masyarakat
Kita sering membicarakan kerusakan tatanan sosial seolah penyebabnya selalu berada di gedung-gedung pemerintahan, ruang pengadilan, kantor perusahaan, atau panggung politik.
Padahal tatanan sosial juga dibentuk setiap hari di jalan.
Ketika kita memberi jalan kepada orang lain, kita sedang membangun etika sosial.
Ketika kita berhenti untuk memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang, kita sedang mengakui hak orang lain.
Ketika kita meminta maaf karena melakukan kesalahan, kita sedang menjaga martabat bersama.
Sebaliknya, ketika kita menggunakan ukuran kendaraan, jumlah uang, jabatan, seragam, atau kekuasaan sebagai alasan untuk merasa lebih berhak, kita sedang merusak demokrasi dalam bentuknya yang paling sederhana.
Jalan raya tidak mengenal kasta.
Aspal tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Lampu merah tidak mengenal jabatan.
Rambu lalu lintas tidak membedakan Alphard dengan sepeda motor.
Yang membedakan hanyalah manusia yang berada di balik kemudi.
Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan siapa yang paling kuat di jalan.
Bukan siapa yang kendaraannya paling mahal.
Bukan pula siapa yang paling keras membunyikan klakson.
Persoalannya adalah apakah kita masih mampu menghormati manusia lain ketika tidak ada yang memaksa kita untuk menghormatinya.
Sebab kedewasaan dalam berlalu lintas bukan hanya kemampuan mengendalikan kendaraan.
Ia adalah kemampuan mengendalikan diri.
Dan mungkin, jalan raya adalah salah satu tempat paling jujur untuk melihat seberapa jauh sebuah masyarakat benar-benar belajar tentang keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan. (Dil)

