spot_img
BerandaBudayaDari Majapahit ke Bromo: Jejak Panjang Masyarakat Tengger

Dari Majapahit ke Bromo: Jejak Panjang Masyarakat Tengger

Di sinilah kekuatan masyarakat Tengger terlihat: mereka tidak harus menolak zaman untuk mempertahankan tradisi.

Bagi masyarakat Tengger, gunung bukan sekadar bentang alam. Gunung adalah ruang kehidupan, tempat manusia berhubungan dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta. Di sanalah kisah tentang asal-usul mereka terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama Tengger sendiri dipercaya berasal dari gabungan nama dua tokoh yang sangat penting dalam mitologi masyarakat setempat: Rara Anteng dan Jaka Seger. Dari nama Anteng dan Seger, lahirlah sebutan Tengger yang kemudian melekat pada masyarakat dan wilayah tempat mereka tinggal.

Dari Majapahit ke Pegunungan Bromo

Dalam cerita tutur yang diwariskan masyarakat Tengger, Rara Anteng disebut sebagai keturunan Prabu Brawijaya, penguasa terakhir Majapahit. Sementara Jaka Seger dikenal sebagai putra seorang brahmana.

Keduanya dipertemukan dalam sebuah perjalanan sejarah yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Tengger. Ketika Majapahit mengalami kemunduran, Rara Anteng dan Jaka Seger meninggalkan pusat kerajaan dan menuju kawasan pegunungan. Mereka membuka kehidupan baru di wilayah yang saat itu masih berupa hutan dan pegunungan.

Di tempat baru itulah keduanya membangun kehidupan dan dipercaya menjadi leluhur masyarakat Tengger.

Namun, kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang perpindahan tempat. Ia juga menyimpan ingatan kolektif tentang perubahan besar yang pernah terjadi di Jawa.

Kemunduran Majapahit pada akhir abad ke-15 diikuti berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di berbagai wilayah Jawa. Sebagian kelompok yang tetap mempertahankan tradisi Hindu-Buddha kemudian bergerak menuju wilayah pegunungan, termasuk kawasan Tengger.

Karena itu, masyarakat Tengger kerap dipandang sebagai salah satu komunitas yang berhasil mempertahankan jejak tradisi Jawa-Hindu dari masa Majapahit hingga sekarang.

Meski demikian, kisah hubungan langsung seluruh masyarakat Tengger dengan keluarga kerajaan Majapahit lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi lisan dan identitas budaya masyarakat, sementara sejarah mengenai asal-usul mereka sendiri jauh lebih kompleks. Identitas Tengger terbentuk melalui perjumpaan panjang antara sejarah, migrasi, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat pegunungan.

Gunung sebagai Rumah Kehidupan

Bagi masyarakat Tengger, Bromo bukan sekadar gunung yang menjadi tujuan wisata. Kawasan tersebut merupakan ruang sakral yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan spiritual mereka.

Gunung Bromo—yang berasal dari kata Brahma—menempati posisi penting dalam keyakinan masyarakat Tengger. Kehidupan sehari-hari mereka juga tidak dapat dipisahkan dari alam di sekitarnya.

Mereka hidup berdampingan dengan tanah vulkanik, ladang-ladang di lereng gunung, udara dingin, serta siklus alam yang menentukan keberlangsungan pertanian.

Hubungan tersebut melahirkan sebuah pandangan hidup yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari alam.

Nilai-nilai seperti penghormatan terhadap leluhur, keharmonisan, gotong royong, kejujuran, dan keseimbangan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Tengger.

Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai tersebut tetap dipelihara melalui berbagai ritual adat dan keagamaan.

Kisah Rara Anteng, Jaka Seger, dan Kusuma

Salah satu kisah paling terkenal dalam tradisi Tengger adalah cerita mengenai Rara Anteng dan Jaka Seger.

Setelah membangun kehidupan bersama, keduanya dikisahkan belum memiliki keturunan. Mereka kemudian melakukan tapa dan memohon kepada Sang Hyang Widhi agar diberi keturunan.

Doa itu akhirnya terkabul.

Rara Anteng dan Jaka Seger dipercaya dikaruniai 25 orang anak. Namun, kebahagiaan tersebut datang bersama sebuah janji: anak bungsu mereka, Kusuma, harus dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi dengan cara terjun ke kawah Gunung Bromo.

Ketika waktunya tiba, Kusuma menerima takdir tersebut. Ia kemudian dipercaya menyampaikan pesan kepada keluarganya agar masyarakat Tengger senantiasa hidup rukun, menjaga kesejahteraan, serta memberikan persembahan hasil bumi kepada Gunung Bromo.

Kisah inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan mitologis lahirnya Yadnya Kasada.

Kasada, Ketika Persembahan Naik ke Kawah

Setiap tahun, ketika bulan Kasada tiba dalam penanggalan Tengger, kawasan Bromo menjadi pusat kegiatan ritual masyarakat Tengger.

Dari berbagai penjuru, masyarakat datang membawa hasil bumi dan persembahan. Sayuran, buah-buahan, hasil peternakan, serta berbagai bentuk sesaji dikumpulkan dalam ongkek.

Ritual kemudian berpusat di Pura Luhur Poten, sebuah pura yang berdiri di tengah lautan pasir Bromo.

Di tempat itu, para dukun pandita memimpin rangkaian doa dan ritual keagamaan. Mereka bukan sekadar pemimpin upacara, tetapi juga memiliki kedudukan penting dalam menjaga tata kehidupan spiritual dan adat masyarakat Tengger.

Ketika rangkaian utama tiba, masyarakat bergerak menuju kawah Bromo.

Di hadapan gunung yang masih menyimpan aktivitas vulkanik tersebut, persembahan dihaturkan sebagai ungkapan syukur, penghormatan kepada leluhur, serta doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.

Sesaji kemudian dilarung ke kawah.

Di bawah sana, sebagian masyarakat bahkan menunggu dengan jaring atau alat sederhana untuk menangkap kembali sesaji yang jatuh. Bagi mereka, benda-benda tersebut bukan sekadar makanan atau hasil bumi, melainkan simbol berkah dan harapan.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Zaman

Yang membuat masyarakat Tengger menarik bukan semata-mata kisah asal-usulnya, melainkan kemampuan mereka mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman.

Modernitas telah masuk ke kawasan Bromo. Jalan raya, kendaraan, telepon pintar, pariwisata, dan arus wisatawan membuat dunia luar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Tengger.

Namun di balik perubahan itu, tradisi tetap memiliki ruang.

Anak-anak Tengger masih mendengar kisah Rara Anteng dan Jaka Seger. Ritual keagamaan masih dijalankan. Para dukun pandita tetap memiliki peran. Upacara Kasada terus berlangsung. Bahasa, tata sosial, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Di sinilah kekuatan masyarakat Tengger terlihat: mereka tidak harus menolak zaman untuk mempertahankan tradisi.

Mereka justru menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan berdampingan dengan perubahan.

Bromo dan Ingatan yang Tak Pernah Padam

Pada akhirnya, asal-usul masyarakat Tengger bukan hanya tentang siapa leluhur mereka atau dari mana mereka datang.

Ia adalah cerita tentang ingatan.

Ingatan tentang Majapahit.
Ingatan tentang perjalanan menuju pegunungan.
Ingatan tentang Rara Anteng dan Jaka Seger.
Ingatan tentang Kusuma yang menjadi bagian dari legenda Kasada.
Dan ingatan tentang bagaimana sebuah masyarakat memilih untuk menjaga warisan leluhurnya ketika zaman terus berubah.

Setiap tahun, ketika kabut menyelimuti lautan pasir dan matahari perlahan muncul dari balik pegunungan, masyarakat Tengger kembali menapaki jalan menuju Bromo.

Mereka membawa hasil bumi dari tanah yang mereka rawat.

Membawa doa dari keluarga.

Membawa pesan leluhur.

Dan di hadapan kawah Bromo, mereka seolah kembali mengingat sebuah pesan lama: bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang manusia terima dari alam, tetapi juga tentang apa yang sanggup manusia kembalikan kepada alam dan kepada generasi setelahnya.

Di lereng Bromo itu, tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Ia adalah cara sebuah masyarakat mengingat siapa dirinya. (Rai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments