LESINDO.COM – Di tengah riuh peringatan Hari Buruh Internasional yang menggema di berbagai kota industri di Jawa Timur, satu nama kembali memenuhi spanduk, poster, hingga orasi para pekerja: Marsinah.
Tiga puluh tiga tahun setelah kematiannya mengguncang Indonesia, nama perempuan muda asal Nganjuk itu tetap hidup—bukan sekadar sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai simbol keberanian kaum pekerja melawan ketidakadilan.
Di Kabupaten Nganjuk, ratusan buruh dari berbagai organisasi melakukan long march dan ziarah ke makam Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Jumat pagi. Mereka membawa bendera serikat, menabur bunga, dan menggelar doa bersama untuk mengenang perjuangan aktivis buruh yang tewas pada Mei 1993.
Momentum May Day tahun ini terasa semakin simbolik. Marsinah kini resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional sejak November 2025, dan pemerintah mengumumkan pembangunan Museum Marsinah di Nganjuk sebagai ruang memorial perjuangan buruh Indonesia. Presiden juga menyampaikan rencana peresmian museum tersebut pada bulan Mei 2026.
Namun, di balik penghormatan negara itu, luka sejarah belum benar-benar sembuh.
Pada 1993, Marsinah—seorang buruh pabrik di kawasan industri Sidoarjo—berdiri di garis depan memperjuangkan hak rekan-rekannya atas penyesuaian upah minimum. Tuntutannya sederhana: upah yang layak dan martabat yang dihormati. Namun keberanian itu berujung tragis.
Beberapa hari setelah terlibat dalam aksi buruh, Marsinah dilaporkan hilang. Pada 8 Mei 1993, tubuhnya ditemukan di sebuah kawasan hutan di Kabupaten Nganjuk dalam kondisi penuh luka. Kasus itu kemudian menjadi salah satu simbol gelap pelanggaran hak asasi manusia terhadap gerakan buruh di Indonesia. Meski penyelidikan pernah dibuka kembali, pelaku utama pembunuhan tersebut tak pernah benar-benar terungkap hingga hari ini.
Di Sidoarjo—tempat perjuangannya pernah dimulai—nama Marsinah tetap menggema dalam setiap tuntutan buruh tentang upah layak, jaminan kerja, dan perlindungan perempuan pekerja. Sementara di Nganjuk—tempat tubuhnya ditemukan—namanya menjelma menjadi monumen ingatan kolektif.
Hari Buruh 2026 pun bukan sekadar tentang libur nasional, panggung pidato, atau angka kenaikan upah. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap mesin yang terus berputar, pernah ada seorang perempuan muda yang mempertaruhkan hidupnya agar pekerja bisa berdiri dengan martabat.
Marsinah telah tiada. Tetapi suaranya, hingga hari ini, masih menggema—dari Sidoarjo, sampai Nganjuk.(Tio)

