spot_img
BerandaBudayaFOMO: Ketika Takut Tertinggal Justru Membuat Kita Kehilangan Diri

FOMO: Ketika Takut Tertinggal Justru Membuat Kita Kehilangan Diri

Fenomena itu dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO, sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas karena takut tertinggal informasi, tren, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dijalani orang lain. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis pada 2004 dan kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat digital.

LESINDO.COM – Di sebuah kafe, sekelompok anak muda duduk mengelilingi meja. Anehnya, percakapan mereka nyaris tak terdengar. Masing-masing lebih sibuk menatap layar telepon genggam. Sesekali terdengar bunyi notifikasi, lalu jemari bergerak cepat menggulir layar. Di hadapan mereka tersedia secangkir kopi yang mulai mendingin, sementara perhatian mereka justru mengembara ke tempat lain—ke kehidupan orang-orang yang bahkan tidak sedang bersama mereka.

Inilah potret zaman ketika manusia sering kali lebih hadir di dunia digital daripada di dunia nyata.

Fenomena itu dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO, sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa cemas karena takut tertinggal informasi, tren, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dijalani orang lain. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis pada 2004 dan kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat digital.

Media sosial menjadi ruang yang paling subur bagi tumbuhnya FOMO. Setiap hari orang disuguhi foto liburan yang tampak sempurna, promosi jabatan, kendaraan baru, rumah impian, hingga kisah-kisah sukses yang dikemas begitu menarik. Padahal yang terlihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita.

Sayangnya, otak manusia sering kali lupa membedakan kenyataan dengan etalase kehidupan.

Tanpa disadari, seseorang mulai bertanya dalam hati, “Mengapa hidupku tidak semenarik mereka?” Pertanyaan sederhana itu perlahan berkembang menjadi rasa iri, cemas, bahkan merasa diri gagal.

FOMO kemudian mengubah cara seseorang menjalani hidup. Waktu istirahat terganggu karena terus memeriksa notifikasi. Momen kebersamaan bersama keluarga kehilangan makna karena perhatian terpecah oleh layar. Aktivitas bukan lagi dilakukan karena kebutuhan, melainkan demi memperoleh pengakuan dari dunia maya.

Tidak sedikit orang membeli barang yang sebenarnya belum diperlukan hanya agar dianggap mengikuti tren. Ada yang memaksakan diri berlibur menggunakan utang demi mendapatkan foto yang layak diunggah. Bahkan ada yang rela mengambil risiko keselamatan hanya demi menghasilkan konten yang menarik perhatian.

Di sinilah FOMO berubah dari sekadar kecemasan menjadi ancaman nyata.

Keinginan untuk selalu terlihat mengikuti arus dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang irasional. Berbagai kasus menunjukkan bagaimana orang nekat berdiri di tepi jurang demi swafoto, melakukan tantangan berbahaya demi viral, mengemudi sambil membuat konten, hingga terjebak investasi bodong karena takut kehilangan peluang yang sedang ramai dibicarakan.

Tidak sedikit pula masyarakat menjadi korban penipuan digital karena tergesa-gesa mengikuti tren investasi, aset kripto, atau bisnis tertentu hanya karena khawatir dianggap terlambat. Keputusan yang seharusnya didasarkan pada pertimbangan rasional akhirnya dikendalikan oleh rasa takut.

Dalam dunia psikologi, kondisi seperti ini dapat meningkatkan stres, kecemasan, kelelahan mental, hingga depresi. Tidur menjadi tidak berkualitas karena otak terus terpapar rangsangan digital. Konsentrasi menurun. Produktivitas terganggu. Yang lebih berbahaya, seseorang mulai mengukur harga dirinya berdasarkan jumlah “like”, komentar, atau pengikut di media sosial.

Padahal, nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh algoritma.

Ironisnya, semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan orang lain, semakin sulit ia menikmati apa yang sudah dimiliki. Padahal kebahagiaan justru lahir dari kemampuan menerima kehidupan dengan utuh, bukan dari perlombaan tanpa garis akhir.

Maka, yang perlu dibangun bukanlah kemampuan mengikuti semua tren, melainkan kemampuan memilih mana yang benar-benar penting.

Membatasi penggunaan media sosial menjadi langkah awal yang sederhana namun efektif. Menentukan waktu khusus untuk membuka aplikasi, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, serta menyediakan ruang tanpa gawai ketika bersama keluarga dapat membantu mengembalikan kualitas hidup.

Lebih dari itu, membiasakan diri bersyukur atas apa yang dimiliki akan mengurangi kecenderungan membandingkan diri. Berinteraksi secara langsung dengan keluarga, sahabat, atau lingkungan sekitar juga jauh lebih menenangkan dibanding sekadar mengejar validasi digital.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah yang menjadi antitesis FOMO, yaitu Joy of Missing Out (JOMO). Gagasan ini mengajak seseorang menikmati ketenangan karena tidak harus selalu mengikuti semua tren. Tidak semua undangan harus dihadiri. Tidak semua berita harus diketahui lebih dulu. Tidak semua pengalaman orang lain harus kita miliki.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk selalu berada di depan, melainkan perjalanan untuk menemukan makna.

Teknologi pada hakikatnya adalah alat yang memudahkan kehidupan, bukan pengendali kehidupan. Media sosial dapat menjadi sumber inspirasi jika digunakan secara bijak, tetapi juga dapat menjadi sumber kecemasan apabila dijadikan tolok ukur kebahagiaan.

Jangan sampai rasa takut tertinggal justru membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesehatan mental, hubungan dengan orang-orang tercinta, kestabilan finansial, bahkan keselamatan diri.

Karena pada akhirnya, bukan mereka yang selalu mengikuti semua tren yang akan hidup paling bahagia, melainkan mereka yang mampu mengendalikan diri di tengah derasnya arus informasi.

Di era ketika semua orang berlomba untuk terlihat, mungkin keberanian terbesar justru adalah tetap menjadi diri sendiri. (Dam)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments