Pagi belum benar-benar selesai ketika manusia sudah mulai kalah.
LESINDO.COM – Bukan kalah dalam perlombaan, bukan pula kalah dalam pekerjaan. Kekalahan itu kadang hanya bermula dari sebuah layar kecil di tangan: melihat teman sebaya membeli rumah, seseorang mendapatkan jabatan, anak muda mendirikan perusahaan, orang lain bepergian ke berbagai negeri, atau seseorang yang dahulu kita kenal biasa-biasa saja kini tampak begitu berhasil.
Kita melihatnya beberapa detik.
Lalu diam-diam menghitung hidup sendiri.
Mengapa saya belum sampai di sana?
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi pintu masuk menuju kegelisahan yang panjang.
Begitulah zaman bekerja terhadap manusia hari ini. Kehidupan orang lain tidak lagi berada jauh di luar jangkauan pandangan. Ia masuk ke kamar, meja makan, ruang kerja, bahkan ke tempat tidur melalui layar telepon.
Dahulu manusia hanya membandingkan dirinya dengan tetangga.
Sekarang ia bisa membandingkan hidupnya dengan ribuan manusia dalam satu hari.
Masalahnya bukan pada keberhasilan orang lain.
Masalahnya adalah ketika keberhasilan itu kita jadikan cermin untuk mengukur harga diri sendiri.
Ada ironi dalam kehidupan modern.
Semakin mudah manusia mengetahui kehidupan orang lain, semakin sulit ia berdamai dengan kehidupannya sendiri.
Kita hidup dalam zaman yang gemar mempertontonkan hasil, tetapi jarang memperlihatkan proses.
Orang memperlihatkan rumah, bukan cicilannya. Memperlihatkan jabatan, bukan tekanan yang menyertainya. Memperlihatkan perjalanan, bukan kesepian yang mungkin dibawanya pulang. Memperlihatkan senyum, tetapi tidak menunjukkan malam-malam ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah semua yang dikejarnya benar-benar layak dikejar.
Media sosial telah mengubah kehidupan menjadi etalase.
Yang dipajang biasanya yang indah.
Yang retak disimpan di belakang pintu.
Namun kita sering melakukan kesalahan paling manusiawi: membandingkan bagian belakang kehidupan kita dengan bagian depan kehidupan orang lain.
Kita tahu seluruh kekurangan diri sendiri, tetapi hanya mengetahui sebagian kecil kehidupan orang lain.
Perbandingan semacam itu sejak awal sudah tidak adil.
Barangkali manusia tidak pernah benar-benar lelah mengejar.
Yang membuatnya lelah adalah tidak tahu kapan harus berhenti.
Setelah mendapatkan sesuatu, muncul sesuatu yang lain.
Setelah memiliki rumah, ingin rumah yang lebih besar.
Setelah mendapatkan pekerjaan, ingin jabatan.
Setelah mendapat jabatan, ingin pengakuan.
Setelah memperoleh pengakuan, ingin lebih banyak pengikut.
Dan setelah semua itu tercapai, muncul ketakutan kehilangan.
Manusia akhirnya bukan hanya mengejar sesuatu.
Ia mengejar perasaan bahwa dirinya cukup.
Padahal, “cukup” tidak pernah lahir dari banyaknya yang dimiliki jika ukuran hidupnya selalu berada di tangan orang lain.
Selalu akan ada seseorang yang lebih kaya.
Lebih muda.
Lebih terkenal.
Lebih pintar.
Lebih beruntung.
Lebih cepat.
Jika hidup dibangun di atas perbandingan, manusia telah memilih perlombaan yang garis akhirnya terus bergerak menjauh.
Ada waktunya seseorang menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi lebih tinggi daripada orang lain.
Hidup lebih menyerupai perjalanan panjang menuju pengenalan terhadap diri sendiri.
Karena itu, ukuran kemajuan mungkin bukan pertanyaan, “Seberapa jauh saya dibandingkan mereka?”
Melainkan:
“Seberapa jauh saya telah berubah dari diri saya yang dahulu?”
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi membutuhkan keberanian.
Sebab membandingkan diri dengan orang lain sering kali lebih mudah daripada bercermin kepada diri sendiri.
Kita bisa iri kepada keberhasilan orang lain tanpa perlu mengakui kelemahan sendiri.
Kita bisa menyalahkan keadaan tanpa bertanya apakah selama ini kita benar-benar telah berusaha.
Kita bisa mengatakan dunia tidak adil tanpa pernah memeriksa apakah cara kita menjalani hidup sudah cukup jujur.
Padahal pertumbuhan sejati dimulai ketika seseorang berhenti mencari kesalahan di luar dirinya dan mulai berani menatap bagian dirinya yang selama ini ia hindari.
Pertumbuhan tidak selalu berbentuk pencapaian.
Kadang ia hadir sebagai kemampuan untuk tidak lagi membalas.
Dulu mudah marah, sekarang belajar menahan kata.
Dulu ingin selalu menang dalam perdebatan, sekarang memahami bahwa tidak semua pertengkaran harus dimenangkan.
Dulu membutuhkan pengakuan, sekarang cukup mengetahui bahwa yang dilakukan memang benar.
Dulu takut kehilangan apa pun, sekarang belajar menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini memang memiliki waktunya sendiri.
Perubahan semacam itu tidak masuk dalam daftar prestasi.
Tidak ada piala untuk kesabaran.
Tidak ada sertifikat untuk keikhlasan.
Tidak ada penghargaan untuk seseorang yang berhasil mengalahkan egonya sendiri.
Namun mungkin justru itulah kemenangan yang paling mahal.
Sebab mengalahkan orang lain hanya membutuhkan tenaga.
Mengalahkan diri sendiri membutuhkan kesadaran.
Kita sering lupa bahwa setiap manusia memiliki waktu yang berbeda.
Ada yang menemukan pasangan lebih dahulu.
Ada yang lebih cepat memiliki anak.
Ada yang lebih cepat memperoleh pekerjaan.
Ada yang baru menemukan jalan hidup setelah berkali-kali tersesat.
Ada yang sukses ketika masih muda.
Ada pula yang baru menemukan dirinya setelah rambut mulai memutih.
Mengapa kita memaksa seluruh manusia tumbuh menurut satu kalender?
Bukankah alam sendiri tidak pernah bekerja dengan jadwal yang seragam?
Bunga tidak iri kepada pohon.
Pohon tidak merasa gagal karena tidak menjadi bunga.
Bambu tidak tergesa-gesa menjadi mangga.
Dan matahari tidak pernah merasa kalah hanya karena bulan datang setelahnya.
Masing-masing menjalankan hukum waktunya sendiri.
Hanya manusia yang sering menganggap keterlambatan sebagai kegagalan.
Padahal bisa jadi sesuatu memang belum datang karena hidup sedang menyiapkan kita untuk menerimanya. (Don)

