spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Ketika Jarak Mengajarkan Ikhlas: Menemukan Jalan Pulang kepada Diri...

Part 1 : Ketika Jarak Mengajarkan Ikhlas: Menemukan Jalan Pulang kepada Diri Sendiri

Ada pula filosofi sangkan paraning dumadi, sebuah kesadaran tentang dari mana manusia berasal dan ke mana kelak akan kembali.

Oleh : Faicha AM 

LESINDO.COM – Ada jarak yang perlahan terbentang di antara manusia. Tidak selalu karena pertengkaran, perbedaan pendapat, atau peristiwa besar yang memisahkan. Terkadang, jarak itu tumbuh begitu saja. Percakapan yang dahulu panjang menjadi singkat. Perhatian yang dulu terasa dekat perlahan berkurang. Bahkan, orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup, pada suatu masa, terasa seperti sedang menempuh jalan masing-masing.

Mungkin begitulah kehidupan bekerja. Ada hal-hal yang tidak perlu diumumkan untuk diketahui telah berubah.

Pada suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, seseorang duduk di beranda rumah. Secangkir teh hangat terhidang di meja. Angin menyentuh dedaunan, sementara suara azan dari masjid kampung terdengar dari kejauhan. Tidak ada yang istimewa dari suasana itu. Namun, justru dalam kesederhanaan tersebut, pikiran sering kali menemukan ruang untuk berbicara dengan hati sendiri.

Ia mulai menyadari, semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang harus diterima tanpa perlu dipertanyakan terlalu jauh. Tidak semua hubungan akan bertahan dalam bentuk yang sama. Tidak semua orang yang pernah berjalan bersama akan terus berada di sisi kita. Ada yang datang membawa kebahagiaan, ada yang meninggalkan pelajaran, dan ada pula yang hanya singgah untuk suatu masa.

Dalam kearifan Jawa, ada ungkapan menep. Sebuah sikap mengendapkan rasa, menenangkan pikiran, dan tidak tergesa-gesa menyikapi keadaan. Orang yang mampu menep tidak mudah dikuasai oleh gejolak perasaan. Ia belajar memahami bahwa hidup tidak selalu harus ditanggapi dengan reaksi. Terkadang, diam justru menjadi jalan untuk melihat persoalan dengan lebih jernih.

Belajar menerima tanpa harus kehilangan rasa

Ada masa ketika kita terlalu banyak berharap kepada manusia. Berharap dipahami, dihargai, diperhatikan, dan diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang lain. Kita mengira ketulusan akan selalu dibalas dengan ketulusan yang sama.

Namun, kenyataan tidak selalu demikian.

Di sinilah manusia sering kali berhadapan dengan kekecewaan. Bukan semata-mata karena orang lain berubah, tetapi karena harapan yang kita bangun terlalu tinggi. Kita menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang sesungguhnya berada di luar kendali.

Orang Jawa mengenal ungkapan nrimo ing pandum. Sering kali ungkapan ini disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, ada kedalaman makna di dalamnya: menerima bagian kehidupan setelah ikhtiar dilakukan, tanpa terus-menerus memelihara penyesalan atas sesuatu yang tidak dapat diubah.

Nrimo bukan berarti tidak memiliki keinginan. Bukan pula membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Ia adalah kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan kehormatan, tetap berusaha tanpa dikuasai ambisi, serta menjaga hati agar tidak dipenuhi rasa iri dan kecewa.

Dalam ajaran Islam, sikap semacam ini menemukan kedekatannya dengan ikhlas dan tawakal. Manusia diperintahkan berikhtiar, tetapi hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada dalam genggaman. Ada wilayah takdir yang hanya Allah mengetahui maksud dan hikmahnya.

Barangkali, ada hubungan yang memang harus mengambil jarak agar kita belajar tidak berlebihan menggantungkan harapan kepada manusia. Ada kehilangan yang mengajarkan bahwa tidak semua yang kita sayangi harus menjadi milik kita selamanya.

Menep, eling, dan kembali mengenali diri

Semakin matang usia seseorang, seharusnya semakin sedikit pula keinginannya untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Tidak semua komentar perlu dijawab. Tidak setiap penilaian harus diluruskan. Tidak semua orang harus memahami perjalanan hidup yang sedang kita tempuh.

Orang Jawa memiliki ungkapan eling lan waspada. Selalu ingat kepada asal-usul kehidupan dan berhati-hati dalam menjalani setiap langkah. Eling mengingatkan manusia agar tidak lupa diri ketika mendapatkan kebahagiaan, tidak kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan, serta tidak merasa paling benar ketika memiliki pengetahuan.

Ada pula filosofi sangkan paraning dumadi, sebuah kesadaran tentang dari mana manusia berasal dan ke mana kelak akan kembali. Hidup bukan sekadar perjalanan mengejar pencapaian, mengumpulkan pengakuan, atau mempertahankan hubungan. Ada pertanggungjawaban yang lebih besar daripada penilaian manusia.

Kesadaran itu mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih bijaksana dalam bersikap, dan lebih lapang dalam menerima perbedaan.

Sebab, pada akhirnya, manusia akan kembali kepada Allah dengan membawa amal perbuatannya, bukan daftar orang yang pernah memuji atau mencelanya.

Maka, ketika hubungan mulai berubah, mungkin tidak selalu perlu ada kemarahan. Ketika seseorang memilih menjauh, tidak harus selalu dibalas dengan kebencian. Kita boleh bersedih, tetapi jangan sampai kesedihan menjelma menjadi dendam.

Mendoakan dari kejauhan terkadang jauh lebih menenangkan daripada terus memaksakan kedekatan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments