spot_img
BerandaJelajahPart 1 "Berjabat Tangan dengan Orang yang Pernah Melukai: Ilmu Kesadaran...

Part 1 “Berjabat Tangan dengan Orang yang Pernah Melukai: Ilmu Kesadaran dan Kebesaran Jiwa”

Orang yang telah sampai pada kematangan batin tertentu biasanya memahami bahwa tidak semua penghinaan membutuhkan jawaban. Tidak semua tuduhan harus dibalas dengan penjelasan panjang. Tidak semua orang harus diyakinkan tentang siapa dirinya.

Oleh : Goes Mic

LESINDO.COM – Tidak semua orang mampu menghormati seseorang yang pernah melukai perasaannya. Sebab, berjabat tangan dengan orang yang pernah mencaci, merendahkan, bahkan menyeret keluarga ke dalam pusaran kebencian, bukan sekadar persoalan kesopanan. Ada pergulatan batin yang panjang di balik uluran tangan itu. Di sanalah kedewasaan jiwa menemukan maknanya.

Ruang sidang pengadilan sering kali menjadi tempat bertemunya dua manusia yang tidak lagi memiliki hubungan baik. Di antara mereka mungkin tersimpan kekecewaan, tuduhan, kata-kata kasar, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Bahkan, perselisihan yang semula melibatkan dua orang bisa merembet kepada keluarga. Nama orang tua, pasangan, anak, hingga saudara terkadang ikut dibawa ke dalam percakapan yang dipenuhi kebencian.

Namun, ada pemandangan yang sesekali terasa ganjil sekaligus mengundang perenungan.

Ketika persidangan selesai, seseorang justru mengulurkan tangan kepada orang yang selama ini berseberangan dengannya. Tangan itu disambut dengan jabat tangan. Tidak ada pelukan, tidak pula percakapan panjang. Hanya sebuah gerakan sederhana yang dalam keadaan tertentu membutuhkan keberanian batin luar biasa.

Barangkali hatinya masih pedih. Barangkali ada bagian dari dirinya yang sebenarnya menolak. Kenangan tentang penghinaan belum tentu hilang. Namun, ia memilih tetap memberikan penghormatan kepada orang yang secara pribadi mungkin tidak lagi ingin ditemuinya.

Di sinilah kita melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar etika pergaulan. Ada ilmu kesadaran yang sedang bekerja.

Tidak semua orang mampu memisahkan rasa sakit dari sikap hormat.

Menghormati tanpa harus membenarkan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan bagaimana perselisihan membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya. Ketika dicaci, ia membalas dengan cacian. Ketika direndahkan, ia berusaha menjatuhkan kembali. Ketika keluarganya disinggung, ia merasa harus membalas dengan cara yang sama.

Persoalan kemudian berkembang menjadi lingkaran permusuhan yang tidak mudah dihentikan.

Padahal, membalas setiap perkataan buruk dengan keburukan serupa hanya akan menempatkan kedua belah pihak dalam ruang yang sama. Seseorang mungkin merasa menang karena berhasil melontarkan kata-kata lebih tajam, tetapi belum tentu ia menang dalam mengendalikan dirinya.

Ada ungkapan yang patut direnungkan: jangan sampai perilaku buruk orang lain membuat kita kehilangan kualitas diri.

Mengulurkan tangan kepada seseorang yang pernah menyakiti bukan berarti melupakan seluruh peristiwa. Bukan pula tanda bahwa kita membenarkan kesalahannya atau menghapus tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Justru di situlah letak kedewasaan.

Seseorang bisa tetap menempuh jalur hukum, mempertahankan kebenaran, menuntut pertanggungjawaban, sekaligus menjaga adab terhadap orang yang berseberangan dengannya.

Memaafkan tidak selalu berarti berdamai. Menghormati tidak berarti menyetujui. Dan berjabat tangan tidak berarti seluruh persoalan telah selesai.

Ada batas yang harus tetap dijaga, tetapi kebencian tidak harus dipelihara.

Ketika ego tidak lagi menjadi penguasa

Ilmu kesadaran bukanlah ilmu yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, kesadaran justru mengajarkan manusia untuk mengenali batas dirinya sendiri.

Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Kapan harus mempertahankan hak dan kapan harus melepaskan keinginan untuk membalas. Ia tidak selalu harus memenangkan perdebatan hanya untuk membuktikan bahwa dirinya benar.

Orang yang telah sampai pada kematangan batin tertentu biasanya memahami bahwa tidak semua penghinaan membutuhkan jawaban. Tidak semua tuduhan harus dibalas dengan penjelasan panjang. Tidak semua orang harus diyakinkan tentang siapa dirinya.

Ada hal-hal yang cukup diselesaikan melalui sikap dan perjalanan waktu.

Namun, jangan salah memahami ketenangan semacam ini sebagai kelemahan. Orang yang memilih tidak membalas belum tentu tidak mampu melawan. Bisa jadi ia memiliki kesempatan untuk membalas, tetapi dengan sadar memilih tidak menjadikan kebencian sebagai pedoman tindakannya.

Ia tidak sedang kalah. Ia hanya tidak ingin menjadikan dirinya serupa dengan orang yang telah menyakitinya.

Dalam khazanah spiritual Islam, sikap semacam ini dekat dengan makna hilm, yakni kemampuan menahan amarah, menjaga kejernihan pikiran, dan tidak gegabah ketika berhadapan dengan perlakuan buruk.

Sebab, kekuatan manusia tidak semata-mata diukur dari kemampuannya mengalahkan orang lain, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan dirinya sendiri.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments