spot_img
BerandaJelajahjelajahPart 1 : Ketika Dakwah Terjebak dalam Gemerlap Dunia

Part 1 : Ketika Dakwah Terjebak dalam Gemerlap Dunia

Tidak dapat dimungkiri, pendakwah yang memiliki nama besar sering kali mempunyai jadwal yang sangat padat. Bahkan pendakwah lokal yang cukup dikenal bisa memiliki antrean undangan hingga satu atau dua tahun.

Oleh : Lembah Manah

LESINDO.COM – Malam itu, sebuah masjid di pinggiran kota mulai dipenuhi jamaah. Sebagian duduk bersila di atas karpet, sebagian lagi masih mencari tempat di serambi. Di barisan belakang, seorang lelaki tua mengenakan sarung lusuh merapatkan duduknya. Ia datang selepas bekerja, berharap bisa membawa pulang sedikit ketenangan dari ceramah yang akan didengarnya.

Panitia beberapa kali melihat jam. Pendakwah yang dijadwalkan mengisi pengajian belum juga tiba. Sementara itu, jamaah terus berdatangan. Ada yang membawa anak kecil, ada yang datang bersama orang tua, dan ada pula yang sengaja meluangkan waktu di tengah kesibukan mencari nafkah.

Ketika akhirnya pendakwah itu datang, suasana masjid berubah. Sambutan meriah terdengar. Kamera ponsel mulai terangkat. Jamaah bertepuk tangan, sebagian berusaha mendekat agar bisa melihat lebih jelas sosok yang selama ini hanya mereka saksikan melalui layar.

Ceramah berlangsung menarik. Kata-kata tentang kesabaran, keikhlasan, dan kesederhanaan mengalir dari mimbar. Jamaah menyimak, sesekali tertawa, lalu terdiam ketika nasihat menyentuh persoalan hidup mereka sendiri.

Namun, setelah acara selesai, sebuah pertanyaan kecil tertinggal di benak sebagian jamaah: mengapa untuk menghadirkan seorang pendakwah yang namanya semakin besar, sebuah masjid sederhana harus menyiapkan biaya yang tidak sedikit?

Pertanyaan itu bukan untuk menghakimi. Pendakwah juga manusia yang membutuhkan penghidupan. Tetapi ketika dakwah bertemu dengan popularitas dan materi, ada sesuatu yang patut direnungkan: sejauh mana ketenaran tetap menjadi sarana kebaikan, dan kapan ia mulai menjadi ujian bagi hati?

Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin menerpanya. Begitu pula manusia yang semakin dikenal. Popularitas membawa peluang, tetapi juga menghadirkan godaan yang tidak selalu mudah dikenali. Bagi seorang pendakwah, ujian itu bukan sekadar tentang besarnya honor, melainkan tentang menjaga agar ilmu, keikhlasan, dan amanah tidak tenggelam dalam gemerlap dunia.

Menjelang Lebaran, sebuah swalayan dipenuhi orang yang berbelanja. Troli-troli besar melintas di antara rak, penuh dengan berbagai barang kebutuhan. Sebagian pembeli bahkan menggunakan dua atau tiga troli sekaligus. Di depan kasir, antrean mengular. Barang-barang harus dikeluarkan, diperiksa, dan dihitung satu per satu. Semakin banyak yang dibeli, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembayaran.

Di sudut lain, seorang ibu dan anaknya hanya membawa keranjang kecil. Mereka membeli beberapa kebutuhan sederhana. Sambil menunggu giliran di kasir, si anak memandang troli-troli besar yang penuh barang.

“Ibu, kok kita tidak belanja sebanyak mereka?” tanyanya polos.

Sang ibu tersenyum. Ia tidak menjawab dengan membandingkan kemampuan ekonomi mereka. Ia justru mengajak anaknya memahami sesuatu yang lebih dalam.

“Tidak apa-apa, Nak. Kita membeli secukupnya saja. Nanti, ketika pulang, kita juga tidak perlu membawa terlalu banyak barang. Begitu pula kelak di akhirat. Semakin banyak harta yang kita miliki, semakin banyak pula yang harus kita pertanggungjawabkan.”

Jawaban sederhana itu menyimpan pelajaran panjang tentang kehidupan. Bahwa memiliki banyak bukan selalu berarti lebih ringan. Ada tanggung jawab yang mengikuti setiap kepemilikan, ada pertanyaan yang menyertai setiap kemudahan, dan ada konsekuensi yang tidak selalu tampak ketika seseorang sedang menikmati keberlimpahan.

Pelajaran itu terasa relevan ketika kita melihat perjalanan seseorang menuju ketenaran, termasuk mereka yang memilih jalan dakwah.

Popularitas dan ujian yang menyertainya

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Perumpamaan ini bukan sekadar menggambarkan kesulitan, melainkan juga mengingatkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Bagi seorang artis, popularitas biasanya diikuti bertambahnya penggemar, undangan tampil, dan peluang memperoleh penghasilan. Honor yang meningkat seiring dengan nama besar merupakan sesuatu yang wajar selama dilakukan secara profesional dan tidak melanggar hukum.

Namun, ketika popularitas berada di wilayah dakwah, persoalannya menjadi lebih sensitif. Sebab, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi pribadi, melainkan juga kepercayaan jamaah dan makna dari pesan-pesan keagamaan yang disampaikan.

Tidak dapat dimungkiri, pendakwah yang memiliki nama besar sering kali mempunyai jadwal yang sangat padat. Bahkan pendakwah lokal yang cukup dikenal bisa memiliki antrean undangan hingga satu atau dua tahun. Jika ada undangan mendadak, kemungkinan besar mereka tidak dapat memenuhinya. Pendakwah dengan jam terbang tinggi tentu menghadapi situasi yang lebih kompleks.

Dalam keadaan seperti itu, pengaturan jadwal, biaya perjalanan, dan honorarium merupakan hal yang dapat dipahami. Pendakwah juga manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan hidup, serta keterbatasan waktu dan tenaga.

Persoalannya bukan semata-mata pada besarnya honor, melainkan pada cara seseorang memandang amanah yang menyertai popularitasnya.

Ketika undangan mulai dipilah hanya berdasarkan besarnya bayaran, ketika jamaah yang mampu membayar lebih didahulukan sementara mereka yang sederhana terus menunggu, atau ketika kesempatan berdakwah semata-mata dipandang sebagai transaksi, di situlah kita patut berhenti sejenak dan bertanya: apakah tujuan awalnya masih terjaga?

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments