spot_img
BerandaJelajahPasrah Bukan Berarti Membenarkan Semua Keadaan

Pasrah Bukan Berarti Membenarkan Semua Keadaan

Sebab, hidup bukan semata-mata tentang memenangkan keadaan. Ada kalanya, kemenangan yang paling berarti adalah ketika kita berhasil melewati masa sulit tanpa kehilangan kejernihan pikiran, martabat, dan kebaikan hati.

Oleh : Kinanti 

LESINDO.COM – Dalam perjalanan hidup, ada persoalan yang selesai setelah kedua pihak bersedia saling mendengar. Ada pula yang tidak kunjung menemukan titik temu meskipun berbagai cara telah ditempuh.

Pada keadaan terakhir ini, seseorang perlu menerima kenyataan bahwa usahanya memiliki batas.

Dalam tradisi spiritual, pasrah bukanlah sikap berhenti berikhtiar. Pasrah adalah kesediaan menyerahkan hasil setelah melakukan apa yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Seseorang tetap boleh memperjuangkan haknya, meluruskan kesalahpahaman, dan meninggalkan keadaan yang tidak sehat. Yang perlu dilepaskan adalah keyakinan bahwa semua orang harus memahami dirinya, semua persoalan harus berakhir sesuai harapan, dan setiap kebaikan harus memperoleh balasan yang setimpal.

Kita dapat menjaga kejujuran, tetapi tidak bisa mengendalikan seluruh penilaian orang lain. Kita dapat meminta maaf atas kesalahan sendiri, tetapi tidak mampu memaksa orang lain melakukan hal yang sama.

Di sinilah pasrah menemukan maknanya: bukan menyerah kepada ketidakadilan, melainkan berhenti memaksakan kendali atas sesuatu yang memang bukan milik kita.

Bagi orang yang beriman, ikhtiar, doa, dan tawakal berjalan beriringan. Manusia tetap berusaha memperbaiki keadaan, sembari menyadari bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya berada di tangannya.

 Tidak Semua Persoalan Harus Dimenangkan

Dalam sebuah hubungan, keinginan untuk dipahami terkadang membuat seseorang terus menjelaskan dirinya. Ia berharap, jika penjelasannya cukup lengkap, orang lain akhirnya akan mengerti. Namun, ketika penjelasan yang sama justru memunculkan pertengkaran baru, ia dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: melanjutkan perdebatan atau menerima bahwa untuk sementara waktu, tidak ada kesepakatan yang dapat dicapai.

Kita sering terjebak dalam anggapan bahwa persoalan baru dianggap selesai jika semua pihak mengakui siapa yang benar dan siapa yang salah. Padahal, tidak setiap konflik berakhir dengan kesimpulan yang memuaskan.

Ada kalanya, yang bisa dilakukan hanyalah memperbaiki bagian yang menjadi tanggung jawab kita, menyampaikan batas dengan jelas, lalu memberi ruang bagi waktu dan keadaan untuk bergerak.

Menerima kenyataan itu memang tidak mudah. Ego ingin membuktikan diri. Hati ingin memperoleh pengakuan. Namun, hidup terlalu luas jika seluruh energi dihabiskan untuk memenangkan setiap perdebatan.

Tidak semua pertarungan harus dimasuki. Tidak semua tuduhan harus dijawab dengan kemarahan. Dan tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan mengorbankan kesehatan batin.

Ada saatnya, seseorang perlu memilih mundur dari perdebatan tanpa mundur dari prinsip hidupnya.

Menemukan Jalan di Dalam Diri

Keesokan harinya, pesan yang semalam dihapus itu mungkin masih belum terkirim. Persoalannya pun belum tentu selesai. Namun, setelah beristirahat dan memberi ruang bagi pikirannya, seseorang bisa mulai melihat bahwa ada hal-hal yang tetap dapat dilakukannya: berbicara pada waktu yang lebih tepat, memperbaiki kesalahan jika memang ada, atau mencari bantuan ketika masalah tidak lagi mampu ditangani sendiri.

Tidak ada jaminan bahwa semua langkah itu akan menghasilkan akhir yang diharapkan. Namun, setidaknya, keputusan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kemarahan, ketakutan, atau keinginan untuk segera mengakhiri ketidaknyamanan.

Mungkin, inilah salah satu bentuk kedewasaan yang jarang dibicarakan: kemampuan untuk tetap bertindak tanpa harus menguasai seluruh hasilnya.

Kehidupan tidak selalu menyediakan pintu keluar yang mudah ditemukan. Ada persoalan yang membutuhkan waktu, ada hubungan yang memerlukan jarak, dan ada kenyataan yang harus diterima meskipun tidak sesuai dengan keinginan.

Namun, ketika semua jalan terasa buntu, kita masih memiliki kesempatan untuk menata cara melangkah.

Bukan dengan berpura-pura kuat, melainkan dengan mengakui batas diri. Bukan dengan menyangkal rasa sakit, melainkan dengan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk pulih. Bukan pula dengan berhenti berusaha, melainkan dengan memilih perjuangan yang memang layak diteruskan.

Pada akhirnya, keluar dari labirin tidak selalu berarti menemukan pintu yang selama ini dicari. Terkadang, jalan mulai terlihat ketika kita berhenti berlari, menenangkan pikiran, dan menyadari bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan sekaligus.

Sebab, hidup bukan semata-mata tentang memenangkan keadaan. Ada kalanya, kemenangan yang paling berarti adalah ketika kita berhasil melewati masa sulit tanpa kehilangan kejernihan pikiran, martabat, dan kebaikan hati.

Dan jika hari ini jalan keluar itu belum tampak, berjalanlah perlahan. Tidak semua jawaban harus ditemukan malam ini. Ada ikhtiar yang masih bisa dilakukan, ada pertolongan yang bisa dicari, dan ada waktu yang perlu diberikan kepada diri sendiri untuk kembali utuh.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments