spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Hati yang Tercerahkan, Sesama yang Dimanusiakan

Part 2 : Hati yang Tercerahkan, Sesama yang Dimanusiakan

Kita dapat berbeda pendapat tanpa membenci. Kita dapat menegur tanpa merendahkan. Kita dapat menolong tanpa merasa lebih mulia daripada orang yang ditolong.

Oleh : Kinanti 

Mengolah ego, bukan sekadar menambah ilmu

LESINDO.COM – Tidak sedikit orang berpengetahuan luas, tetapi kesulitan menerima kritik. Ada yang pandai menjelaskan kebenaran, tetapi enggan mengakui kesalahan. Ada pula yang mampu berbicara tentang kebijaksanaan, tetapi mudah merendahkan orang lain hanya karena perbedaan pandangan.

Di sinilah kita belajar bahwa kecerdasan pikiran tidak selalu berjalan beriringan dengan kejernihan hati.

Pengetahuan dapat membantu seseorang memahami dunia, tetapi kerendahan hati membuatnya menyadari batas-batas pemahamannya sendiri. Semakin banyak seseorang belajar, semestinya semakin terbuka pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui.

Karena itu, salah satu jalan menuju pencerahan adalah berani memeriksa diri sendiri.

Sebelum menyalahkan orang lain, tanyakan kepada diri sendiri: adakah bagian dari persoalan ini yang turut saya ciptakan? Sebelum menuntut penghormatan, periksa apakah kita telah menghormati orang lain. Sebelum merasa paling benar, beri kesempatan kepada diri sendiri untuk melihat kemungkinan bahwa kita pun bisa keliru.

Latihan semacam ini tidak mudah. Ego selalu memiliki cara untuk membela diri. Ia membuat kita merasa paling tersakiti, paling berjasa, paling memahami keadaan, atau paling layak mendapatkan sesuatu.

Namun, hati yang terus sibuk membuktikan keunggulannya akan kesulitan menemukan ketenangan. Sebaliknya, hati yang bersedia belajar dari kesalahan memiliki ruang lebih luas untuk bertumbuh.

Pencerahan tidak menjadikan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru, semakin jernih hatinya, semakin kecil keinginannya untuk meninggikan diri.

Menerima kenyataan tanpa berhenti berikhtiar

Ada perkara yang dapat kita ubah melalui usaha, tetapi ada pula yang tidak tunduk pada keinginan kita. Kita dapat menjaga kesehatan, tetapi tidak mampu menjamin bahwa tubuh akan selalu terbebas dari penyakit. Kita dapat mencintai seseorang, tetapi tidak dapat memaksanya membalas dengan perasaan yang sama. Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi tidak pernah memegang seluruh kepastian tentang apa yang akan terjadi esok hari.

Kesulitan sering muncul ketika kita berusaha mengendalikan sesuatu yang sesungguhnya berada di luar jangkauan.

Kita menghabiskan tenaga untuk memikirkan penilaian orang lain, menyesali masa lalu yang tidak dapat diulang, atau mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Akibatnya, hari ini berlalu dengan pikiran yang lelah, sementara hal-hal yang benar-benar bisa dilakukan justru terabaikan.

Hati yang tercerahkan belajar membedakan antara ikhtiar dan keinginan untuk menguasai segalanya.

Ia tetap bekerja, tetapi tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran harga dirinya. Ia tetap berusaha memperbaiki keadaan, tetapi memahami bahwa tidak semua usaha menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Ia berani memperjuangkan yang benar, sekaligus memiliki kelapangan hati untuk menerima hal-hal yang memang tidak bisa diubahnya.

Dalam kehidupan beragama, sikap ini dikenal sebagai tawakal: menyerahkan hasil kepada Allah setelah berikhtiar dengan sungguh-sungguh.

Tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha. Ia justru membebaskan manusia dari beban merasa harus mengendalikan seluruh kehidupan.

Ada ketenangan ketika seseorang mampu berkata kepada dirinya sendiri: saya akan melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab saya sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada di tangan saya.

Dari kesadaran itu, manusia belajar menjalani kehidupan dengan lebih ringan. Bukan karena persoalannya menghilang, melainkan karena ia tidak lagi memikul beban yang sejak awal bukan seluruhnya menjadi tanggung jawabnya.

Menemukan diri dalam penderitaan orang lain

Pencerahan juga dapat diukur dari cara seseorang memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepadanya.

Mudah bersikap ramah kepada orang yang dapat membantu kita. Tidak sulit menunjukkan perhatian kepada seseorang yang memiliki kedudukan atau pengaruh. Namun, bagaimana sikap kita kepada mereka yang dianggap tidak penting? Apakah kita tetap menghormati petugas kebersihan, mendengarkan orang kecil yang sedang berbicara, atau bersedia membantu seseorang yang tidak mungkin membalas kebaikan kita?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sering kali lebih jujur daripada penilaian kita terhadap diri sendiri.

Hati yang tercerahkan memiliki kepekaan untuk melihat bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak seluruhnya diketahui orang lain. Seseorang yang tampak keras mungkin menyimpan pengalaman pahit. Orang yang terlihat biasa saja mungkin sedang berjuang menghadapi persoalan berat. Mereka yang tersenyum belum tentu terbebas dari kesedihan.

Kesadaran ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi.

Bukan berarti semua perilaku harus dibenarkan. Ketegasan tetap diperlukan ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Namun, menolak perbuatan yang salah tidak harus disertai penghinaan terhadap martabat manusia.

Kita dapat berbeda pendapat tanpa membenci. Kita dapat menegur tanpa merendahkan. Kita dapat menolong tanpa merasa lebih mulia daripada orang yang ditolong.

Sebab, kebaikan yang sejati tidak selalu membutuhkan panggung. Ada pertolongan yang cukup diketahui oleh mereka yang menerima dan oleh Allah. Ada kebaikan yang tidak tercatat dalam berita, tidak dipuji di hadapan banyak orang, tetapi meninggalkan bekas panjang dalam kehidupan seseorang.

Barangkali, di situlah salah satu bentuk pencerahan menemukan wujudnya: ketika kehadiran kita membuat kehidupan orang lain sedikit lebih ringan.

 

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments