Oleh: Hibban M
Menjadi Pasien bagi Diri Sendiri
Ada satu hal yang sering kita lupakan: manusia dapat begitu tekun memperbaiki kehidupan di luar dirinya, tetapi lalai memeriksa keadaan di dalam dadanya.
Kita merawat kendaraan agar tetap berjalan, menjaga rumah supaya nyaman ditinggali, dan bekerja keras agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Namun, kapan terakhir kali kita benar-benar bertanya kepada diri sendiri apakah hati ini masih terawat?
Apakah kita masih mudah bersyukur ketika menerima nikmat kecil? Apakah kita masih mampu meminta maaf ketika berbuat salah? Apakah kita masih bisa tidur dengan tenang tanpa harus menyimpan kebencian kepada seseorang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Ada kalanya kita harus berani mengakui bahwa diri ini belum sebaik yang selama ini ingin kita tampilkan.
Kita mungkin masih mudah marah, masih menyimpan iri, masih menginginkan pengakuan, atau diam-diam kecewa ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.
Pengakuan semacam itu bukan tanda kelemahan. Justru dari sana proses perbaikan bisa dimulai.
Dalam perjalanan ruhani, barangkali kita memang lebih tepat memandang diri sebagai pasien yang masih membutuhkan perawatan. Kita datang kepada Tuhan bukan dengan membawa daftar kebaikan untuk dibanggakan, melainkan dengan kesadaran bahwa masih banyak yang perlu dibenahi.
Ada kesombongan yang harus dilunakkan. Ada kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan. Ada luka yang perlu disembuhkan, dan ada kesalahan yang harus diperbaiki melalui tindakan nyata.
Kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana menjalani hari ini.
Pulih Bukan Berarti Tak Pernah Terluka
Dalam proses pengobatan, kesembuhan tidak selalu berarti tubuh tidak akan pernah sakit lagi. Demikian pula dalam perjalanan batin, ketenangan bukan berarti seseorang tidak akan pernah sedih, kecewa, atau takut.
Manusia tetap manusia. Ia memiliki batas, kebutuhan, dan perasaan yang kadang sulit dikendalikan.
Yang berubah adalah cara ia menghadapi semua itu.
Dahulu, mungkin ia mudah membalas ketika disakiti. Kini, ia belajar memberi jarak agar tidak terus terjebak dalam pertengkaran. Dahulu, ia merasa harus memiliki segala sesuatu agar bahagia. Kini, ia mulai mengenali nikmat yang selama ini terlewatkan. Dahulu, ia mengukur dirinya dari penilaian orang lain. Kini, ia perlahan belajar bahwa harga dirinya tidak sepenuhnya ditentukan oleh penerimaan manusia.
Perubahan seperti ini tidak selalu terlihat megah. Tidak ada tepuk tangan untuk seseorang yang berhasil menahan amarahnya. Tidak ada penghargaan untuk mereka yang memilih meminta maaf meski gengsinya terluka. Bahkan, tidak seorang pun mungkin mengetahui perjuangan seseorang ketika ia berusaha bangun malam setelah berhari-hari kalah oleh rasa malas.
Namun, justru dalam perubahan-perubahan kecil itulah perjalanan ruhani menemukan maknanya.
Bukan sekadar seberapa banyak amalan yang dilakukan, melainkan bagaimana amalan itu membantu seseorang menjadi lebih jujur kepada dirinya sendiri, lebih sabar menjalani kehidupan, dan lebih berhati-hati agar tidak melukai sesama.
Pada akhirnya, kita tidak pernah tahu berapa lama perjalanan itu akan berlangsung. Ada orang yang menemukan ketenangan setelah melewati masa sulit. Ada pula yang harus terus belajar berdamai dengan kegelisahannya.
Setiap orang memiliki jalan dan pergulatannya sendiri.
Maka, jika suatu hari kita melihat seseorang tekun menjalankan salat sunah, berpuasa, atau menghabiskan waktu dalam doa, biarkan ia menjalani perjalanannya tanpa tergesa-gesa memberikan gelar apa pun kepadanya.
Barangkali ia sedang bersyukur. Barangkali ia sedang memohon ampun. Barangkali ia sedang mencari kekuatan agar tidak menyerah pada keadaan. Atau barangkali, ia hanya ingin menjaga hatinya agar tidak kembali tersesat dalam kelalaian yang pernah menjauhkannya dari Tuhan.
Kita tidak perlu mengetahui seluruh alasannya.
Sebab, boleh jadi, kita pun sedang menjalani pengobatan yang sama, dengan luka yang berbeda dan cara pemulihan yang tidak serupa.
Kita semua sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Dan mungkin, di hadapan Tuhan, yang paling penting bukanlah seberapa sempurna kita terlihat di mata manusia, melainkan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri, sekalipun harus dimulai dari hati yang pernah lalai, rapuh, dan kehilangan arah.
Sebab, selama seseorang masih bersedia mengakui kekurangannya dan berusaha kembali kepada-Nya, perjalanan itu belum berakhir.
Ia masih berjalan. Masih belajar. Masih merawat jiwanya.
Seperti seorang pasien yang datang berkali-kali ke ruang pengobatan, bukan karena ia telah sembuh sepenuhnya, melainkan karena ia tidak ingin menyerah pada penyakit yang pernah menguasai dirinya.
Dan di antara sujud, doa, serta ikhtiar memperbaiki perilaku, ia belajar satu hal sederhana: mendekat kepada Tuhan bukan selalu karena kita sudah menjadi baik, tetapi karena kita sadar masih membutuhkan pertolongan untuk menjadi lebih baik.

