LESINDO.COM — Perekaman biometrik calon jemaah haji di Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Sukoharjo berlangsung dengan pendampingan petugas. Meski dapat dilakukan secara mandiri melalui telepon seluler, sejumlah calon jemaah masih menghadapi kendala teknis saat menggunakan aplikasi Saudi Visa Bio.
Ety M. (54), salah seorang calon jemaah haji asal Kartasura, mengaku beberapa kali gagal saat mencoba melakukan perekaman biometrik secara mandiri. Ia akhirnya meminta bantuan petugas Kemenhaj Sukoharjo agar proses tersebut dapat diselesaikan.
“Sudah mencoba melakukan pemindaian data secara mandiri, tetapi sering kali gagal. Entah karena HP atau jaringan internetnya. Akhirnya dibantu petugas Kemenhaj dan itu pun harus beberapa kali mencoba sampai berhasil,” kata Ety, sembari mengungkapkan rasa syukurnya setelah perekaman selesai.
Kendala teknis tidak hanya dialami calon jemaah saat melakukan perekaman secara mandiri. Berdasarkan informasi dari pihak Kemenhaj Sukoharjo, aplikasi tersebut juga sempat mengalami gangguan pada Jumat (16/10/2026). Akibatnya, calon jemaah yang datang untuk melakukan perekaman saat itu harus kembali karena layanan belum dapat digunakan.
Perekaman biometrik merupakan salah satu tahapan penting dalam proses administrasi keberangkatan haji. Data yang direkam meliputi identitas pada paspor, foto wajah, dan sidik jari. Data tersebut digunakan untuk mendukung proses verifikasi identitas dalam pengajuan visa haji.
Proses perekaman dilakukan melalui aplikasi Saudi Visa Bio. Calon jemaah terlebih dahulu memindai paspor, kemudian memeriksa kesesuaian data yang terbaca, antara lain nama, tanggal lahir, dan masa berlaku paspor. Setelah itu, jemaah melanjutkan pengambilan foto wajah sebelum memasuki tahap pemindaian sidik jari.

Pada tahap sidik jari, jemaah diminta memindai ibu jari kiri, dilanjutkan empat jari lainnya secara bersamaan. Proses serupa kemudian dilakukan pada tangan kanan. Ketepatan posisi jari menjadi salah satu faktor penting agar pemindaian dapat berhasil. Jika posisi tidak sesuai atau aplikasi gagal membaca sidik jari, proses harus diulang.
Perbedaan perangkat telepon seluler, kualitas jaringan, serta keberhasilan pemindaian dapat memengaruhi kelancaran proses yang dialami pengguna. Karena itu, pendampingan petugas menjadi penting, terutama bagi calon jemaah lanjut usia yang membutuhkan bantuan dalam mengoperasikan aplikasi.
Melalui layanan pendampingan di kantor Kemenhaj Sukoharjo, calon jemaah yang mengalami kesulitan dapat memperoleh bantuan hingga proses perekaman selesai. Fasilitasi tersebut diharapkan membantu jemaah memenuhi persyaratan administrasi tanpa harus terus-menerus mencoba sendiri.
Perekaman biometrik menjadi bagian dari digitalisasi layanan keimigrasian yang diterapkan pemerintah Arab Saudi. Pengumpulan data sebelum keberangkatan diharapkan mendukung verifikasi identitas dan mempercepat pemeriksaan ketika jemaah tiba di Arab Saudi, sehingga potensi antrean panjang di bandara dapat dikurangi.
Selain mendukung proses administrasi dan keimigrasian, data biometrik merupakan bagian dari sistem identifikasi jemaah. Dalam penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan jutaan orang, keakuratan identitas menjadi unsur penting dalam mendukung pelayanan dan keamanan jemaah.
Dengan demikian, kelancaran perekaman biometrik tidak hanya bergantung pada kesiapan calon jemaah, tetapi juga pada keandalan aplikasi dan dukungan petugas di lapangan. Bagi calon jemaah, tahapan ini menjadi salah satu persiapan penting agar proses administrasi keberangkatan haji dapat berjalan tertib dan lancar. (Mac)

