spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Guru Serba Bisa, Kecuali Menaikkan Gaji Sendiri.

Part 1 : Guru Serba Bisa, Kecuali Menaikkan Gaji Sendiri.

Di sekolah, guru dituntut serba bisa. Namun, ada satu kemampuan yang tampaknya berada di luar kewenangannya: memperbesar nominal gaji sendiri.

Oleh : Aurora Ch

LESINDO.COM – Pagi-pagi berangkat ke sekolah, sore baru pulang. Di antara dua perjalanan itu, ada begitu banyak peran yang harus dimainkan. Kadang menjadi guru, tetapi tak jarang mendadak berubah menjadi dokter, polisi, detektif, psikolog, penyanyi, ustaz, bahkan pengeras suara berjalan ketika suasana kelas mulai sulit dikendalikan.

Jangan salah paham. Ini bukan keluhan. Bukan pula sambat, istilah dalam bahasa Jawa untuk mengeluh tentang keadaan hidup. Barangkali, kalau perkara sambat, jatahnya sudah habis sejak bertahun-tahun lalu. Atau jangan-jangan, saking terbiasanya menjalani keadaan, mengeluh pun terasa seperti kegiatan yang tidak lagi produktif.

Lagi pula, hidup terkadang lebih ringan jika sesekali ditertawakan. Ada persoalan yang tidak selesai hanya dengan mengernyitkan dahi. Ada kenyataan yang terasa lebih mudah diterima ketika dibungkus guyonan. Apalagi bagi mereka yang sudah telanjur mencintai dunia pendidikan, lengkap dengan segala keruwetan yang datang sepaket dengannya.

Coba bayangkan rutinitas seorang guru.

Pukul tujuh pagi tiba di sekolah dengan niat mengajar. Buku pelajaran sudah disiapkan, materi sudah dibaca, dan rencana pembelajaran sudah disusun. Namun, belum sempat membuka pelajaran, seorang murid datang sambil memegangi perutnya.

“Bu, perut saya sakit.”

Jadilah dokter dadakan. Memeriksa keadaan anak, menenangkan, mencari tahu keluhannya, lalu menghubungi orang tua jika diperlukan. Belum selesai urusan kesehatan, dari ujung kelas terdengar suara gaduh.

“Bu, mereka berantem!”

Dokter pun berganti seragam menjadi polisi. Dua anak yang berselisih harus dipisahkan, ditenangkan, lalu dimintai keterangan. Kalau perlu, guru juga merangkap hakim sekaligus mediator, memastikan siapa yang memulai dan bagaimana keduanya bisa berdamai.

Belum sempat menarik napas panjang, ada laporan kehilangan.

“Bu, uang saya hilang!”

Sekarang giliran menjadi detektif. Menelusuri cerita, bertanya kepada sejumlah murid, mencermati keterangan yang berbeda-beda, dan berusaha menemukan duduk perkara tanpa buru-buru menuduh siapa pun. Kadang barangnya ditemukan di dalam tas sendiri. Kadang terselip di laci. Dan kadang, kasusnya tetap menjadi misteri sampai bel pulang berbunyi.

Pekerjaan belum selesai. Di bangku belakang, seorang anak tampak murung. Ketika ditanya, ia justru menangis.

Guru kembali berganti profesi menjadi psikolog. Mendengarkan cerita, menghibur, memberi ruang untuk anak mengungkapkan perasaan, dan mencoba memahami persoalan yang mungkin tidak pernah muncul dalam buku pelajaran.

Sebab, tidak semua yang dibawa murid ke sekolah berupa buku dan alat tulis. Ada pula persoalan dari rumah, pertengkaran dengan teman, rasa takut, kecemasan, atau kesedihan yang belum mampu mereka ceritakan dengan kata-kata.

Di sinilah pekerjaan seorang guru sering kali melampaui apa yang tertulis dalam jadwal mengajar. Ia bukan hanya berhadapan dengan materi pelajaran, melainkan juga dengan manusia-manusia kecil yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.

Tetapi jangan terlalu lama larut dalam suasana haru. Sebentar lagi ada senam pagi.

Guru yang tadi menjadi psikolog kini berubah menjadi penyanyi. Menghafal irama, memberi aba-aba, menggerakkan tangan, dan berusaha memastikan anak-anak tidak hanya menggerakkan bibir ketika lagu diputar. Saat upacara bendera, ia kembali menjadi pemimpin lagu, pengatur barisan, sekaligus pengingat agar murid tidak mengobrol ketika pembina upacara menyampaikan amanat.

Ketika tiba waktunya berdoa, profesi berikutnya menunggu: ustaz atau ustazah dadakan. Mengajak anak-anak menundukkan kepala, menata sikap, dan mengingatkan bahwa sebelum belajar, ada baiknya manusia memohon kemudahan kepada Tuhan.

Lalu, ketika kelas mulai ramai seperti pasar menjelang Lebaran, guru kembali memainkan peran yang tak kalah penting: pengeras suara masjid.

“Anak-anak, tenang dulu!”

“Yang belakang, duduk!”

“Yang ngobrol, perhatikan!”

Suara dinaikkan beberapa tingkat. Bukan karena sedang marah besar, melainkan karena volume kebisingan kelas kadang terasa lebih tinggi daripada kemampuan suara manusia biasa.

Kalau semua itu dimasukkan ke dalam daftar riwayat hidup, mungkin seorang guru bisa menulis sederet pengalaman kerja yang membuat perekrut perusahaan tercengang. Pengalaman medis dasar, mediasi konflik, investigasi, pendampingan psikologis, seni suara, kepemimpinan, komunikasi publik, hingga pengendalian massa.

Sayangnya, semua keahlian tersebut tidak otomatis tercantum dalam slip gaji.

Di sekolah, guru dituntut serba bisa. Namun, ada satu kemampuan yang tampaknya berada di luar kewenangannya: memperbesar nominal gaji sendiri.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments