Oleh : Megy R
LESINDO.COM – Kemiskinan biasanya mudah dikenali dari hal-hal yang tampak: pendapatan yang tidak mencukupi, rumah yang sederhana, sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas, atau pekerjaan yang tidak memberikan kepastian.
Itulah kemiskinan material. Ia nyata, dan tidak adil jika seluruh persoalannya dikembalikan kepada sikap atau pilihan pribadi.
Ada orang yang sudah bekerja keras, tetapi penghasilannya tetap tidak cukup. Ada keluarga yang ingin menyekolahkan anak setinggi mungkin, tetapi terbentur biaya. Ada pekerja yang setiap hari berangkat sebelum matahari terbit, namun pulang dengan penghasilan yang hanya cukup untuk bertahan sampai esok hari.
Dalam keadaan seperti itu, kemiskinan bukan sekadar soal kurang bersyukur. Ada struktur ekonomi, kesempatan yang tidak merata, pendidikan, lapangan pekerjaan, kesehatan, dan banyak faktor lain yang ikut menentukan.
Namun, di sisi lain, ada jenis kemiskinan yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Seseorang bisa memiliki rumah besar, kendaraan, pekerjaan mapan, dan tabungan yang cukup, tetapi tetap merasa hidupnya selalu kurang. Ia miskin rasa syukur, miskin ketenangan, miskin empati, bahkan miskin kebahagiaan.
Inilah kemiskinan batin.
Kemiskinan batin tidak mengenal ukuran penghasilan. Ia bisa tinggal di rumah sederhana, tetapi juga bisa berdiam di rumah mewah.
Kemiskinan yang bermula dari mulut
Ada kalanya kemiskinan batin tumbuh dari kebiasaan mengeluh.
Bukan berarti keluhan tentang kesulitan hidup harus dilarang. Orang yang kesulitan secara ekonomi tentu berhak mengeluhkan keadaan dan menyuarakan ketidakadilan yang dialaminya.
Namun, keluhan yang tidak pernah berhenti dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan melihat apa yang masih dimilikinya.
Hari-hari kemudian hanya diisi dengan menghitung kekurangan, tanpa pernah menghitung nikmat.
Di tengah kesulitan material, rasa syukur bukan pengganti bantuan sosial, pekerjaan layak, pendidikan, atau kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Tetapi rasa syukur dapat menjadi kekuatan batin agar seseorang tidak kehilangan harapan ketika keadaan belum berubah.
Kemiskinan yang bermula dari pandangan
Ada pula kemiskinan yang tumbuh dari cara kita memandang orang lain.
Kita mudah melihat diri sendiri sebagai orang yang lebih baik. Sebaliknya, kekurangan orang lain begitu cepat terlihat.
Kita membandingkan pekerjaan, rumah, kendaraan, pendidikan, bahkan kehidupan keluarga.
Ketika melihat orang lain lebih berhasil, kita merasa tertinggal. Ketika melihat orang lain gagal, kita justru merasa sedikit lebih tinggi.
Padahal, kehidupan bukan perlombaan yang garis akhirnya sama bagi semua orang.
Kemiskinan material sering membuat seseorang merasa rendah karena ukuran-ukuran sosial yang diciptakan masyarakat. Sementara kemiskinan batin dapat membuat orang yang sebenarnya berkecukupan terus merasa harus lebih tinggi dari orang lain.
Keduanya sama-sama membutuhkan perhatian, meski bentuk pertolongannya berbeda.
Ketika hati tidak mampu ikut bahagia
Kemiskinan batin juga dapat muncul dalam bentuk iri dan dengki.
Kita melihat tetangga membeli rumah, teman mendapatkan pekerjaan, saudara memperoleh rezeki, lalu hati bertanya: mengapa bukan saya?
Perasaan itu manusiawi. Yang menjadi persoalan adalah ketika iri berubah menjadi keinginan agar nikmat orang lain berkurang.
Di sinilah hati mulai kehilangan ruang untuk bersyukur.
Padahal, keberhasilan orang lain tidak otomatis menjadi kegagalan kita. Rezeki seseorang tidak dengan sendirinya mengurangi rezeki orang lain.
Belajar ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain mungkin sederhana, tetapi tidak selalu mudah. Ia membutuhkan kelapangan hati.
Ketika tangan lebih terbiasa menerima
Kemiskinan material membuat seseorang membutuhkan bantuan. Itu bukan sesuatu yang memalukan.
Ada masa ketika seseorang berada di bawah dan membutuhkan uluran tangan. Ada pula masa ketika keadaan berubah dan ia memiliki kesempatan membantu orang lain.
Yang perlu dijaga adalah agar kehidupan tidak berhenti pada siklus menerima.
Ketika memiliki kemampuan, tangan yang pernah menerima semestinya belajar mengulurkan bantuan.
Memberi pun tidak selalu berupa uang. Waktu, tenaga, ilmu, perhatian, dan kepedulian juga merupakan bentuk kekayaan yang dapat dibagikan.
Sebab ada orang yang mungkin tidak mampu memberikan banyak secara material, tetapi mampu memberikan kehangatan kepada orang lain.
Jangan menyalahkan orang miskin
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Berbicara tentang kemiskinan batin jangan sampai berubah menjadi cara untuk menyalahkan mereka yang mengalami kemiskinan material.
Orang miskin bukan miskin karena malas bersyukur. Orang kaya juga tidak otomatis kaya karena lebih rajin bersyukur.
Kemiskinan material adalah persoalan yang kompleks. Ia membutuhkan kesempatan, kebijakan yang adil, pendidikan, pekerjaan, perlindungan sosial, dan keberpihakan kepada mereka yang rentan.
Sementara kemiskinan batin adalah persoalan manusia yang jauh lebih luas. Ia dapat menjangkiti siapa saja, tanpa melihat isi rekening.
Karena itu, dua jenis kemiskinan tersebut perlu dilihat dengan kacamata yang berbeda.
Yang satu membutuhkan keadilan dan kesempatan.
Yang lain membutuhkan kesadaran dan pembenahan diri.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Barangkali kita perlu memeriksa diri
Pada akhirnya, kemiskinan bukan hanya pertanyaan tentang berapa rupiah yang ada di dompet.
Tetapi juga bukan berarti kemiskinan material dapat diselesaikan hanya dengan mengubah pola pikir.
Keduanya memiliki wilayah masing-masing.
Kita membutuhkan masyarakat yang memungkinkan setiap orang memperoleh kehidupan yang layak. Pada saat yang sama, kita juga membutuhkan manusia yang tidak kehilangan rasa syukur ketika memiliki, tidak kehilangan harapan ketika kekurangan, tidak iri ketika orang lain mendapatkan nikmat, dan tidak lupa memberi ketika dirinya memiliki kelebihan.
Maka, mungkin ada baiknya sesekali kita bertanya kepada diri sendiri.
Apakah yang sedang kurang dalam hidup kita benar-benar materi?
Ataukah hati kita yang tidak pernah merasa cukup?
Apakah kita sedang membutuhkan pertolongan?
Ataukah justru ada orang lain yang sedang membutuhkan tangan kita?
Sebab bisa saja seseorang memiliki sedikit harta, tetapi kaya dalam kepedulian.
Dan bisa saja seseorang memiliki banyak harta, tetapi hidup dalam kemiskinan batin.
Yang paling penting bukan sekadar bagaimana kita keluar dari kemiskinan material, tetapi juga bagaimana kita tidak membiarkan hati menjadi miskin ketika suatu hari kehidupan memberi kita lebih banyak.

