spot_img
BerandaJelajahPart 2: Jika Suatu Hari Aku Tak Lagi Bisa Menjagamu

Part 2: Jika Suatu Hari Aku Tak Lagi Bisa Menjagamu

Oleh : M. Muhamad

Nak,

LESINDO.COM – Jika suatu hari engkau pergi jauh dari rumah, jangan merasa bersalah.

Pergilah.

Temukan duniamu.

Bangun kehidupanmu.

Kejar cita-citamu.

Jangan hidup hanya untuk memenuhi semua harapan orang lain, termasuk harapan Ayah.

Ayah tidak ingin menjadi alasan engkau takut melangkah.

Ayah ingin menjadi alasan engkau percaya bahwa selalu ada tempat untuk pulang.

Mungkin nanti rumah ini tidak lagi seramai sekarang.

Mungkin kursimu akan kosong.

Mungkin suara langkahmu tidak lagi terdengar setiap hari.

Dan mungkin, tanpa sadar, Ayah akan sering melihat pintu sambil berharap engkau tiba-tiba muncul seperti dulu.

Tetapi Ayah akan belajar tersenyum.

Sebab kehilangan sedikit kebersamaan adalah harga yang harus dibayar untuk melihatmu tumbuh menjadi manusia dewasa.

Ada satu ketakutan yang tidak pernah ingin Ayah katakan kepadamu.

Bukan takut kehilanganmu karena engkau pergi.

Ayah lebih takut jika suatu hari engkau pergi tanpa membawa bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan.

Karena dunia tidak selalu punya belas kasihan.

Maka sebelum engkau benar-benar berjalan sendiri, Ayah ingin memastikan bahwa setidaknya engkau membawa tiga hal:

iman yang membuatmu tahu kepada siapa harus kembali,
akal yang membuatmu mampu membedakan yang baik dan buruk,
serta hati yang tetap lembut meski berkali-kali dikecewakan.

Jangan biarkan keburukan orang lain mengajarimu menjadi buruk.

Jangan biarkan pengkhianatan membuatmu kehilangan kemampuan untuk percaya kepada kebaikan.

Dan jangan biarkan luka mengubahmu menjadi manusia yang dahulu pernah membuatmu terluka.

Tetaplah menjadi dirimu.

Sebab dunia mungkin akan mengajarimu banyak cara untuk menjadi keras.

Tetapi Ayah berharap engkau tetap memiliki alasan untuk menjadi baik.

Nak,

Jika nanti Ayah tidak lagi bisa berjalan bersamamu sejauh dulu, jangan takut.

Jika tangan Ayah suatu hari tidak lagi cukup kuat menggenggam tanganmu, peganglah tangan Tuhan lebih erat.

Jika suara Ayah suatu hari tidak lagi bisa memberimu nasihat, dengarkan suara hatimu yang telah Ayah ajarkan untuk mengenal kebaikan.

Dan jika suatu hari Ayah benar-benar tidak ada di dunia ini, jangan habiskan hidupmu dengan menangisi kepergian Ayah.

Lanjutkan hidupmu.

Tersenyumlah.

Jadilah perempuan baik.

Jaga dirimu.

Jaga keluargamu.

Dan sesekali, jika engkau mengingat Ayah, tidak perlu dengan kesedihan.

Cukup kirimkan doa.

Karena mungkin itulah satu-satunya cara seorang anak masih bisa memeluk ayahnya ketika jarak sudah tidak mengenal ukuran.

Ayah tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidupmu.

Ayah tidak tahu siapa yang akan berdiri di sampingmu nanti.

Ayah tidak tahu berapa banyak bahagia dan luka yang akan kau temui.

Tetapi Ayah tahu satu hal:

Selama Tuhan masih mengizinkan Ayah menyebut namamu dalam doa, Ayah tidak pernah benar-benar berhenti menjagamu.

Mungkin tangan Ayah suatu hari tidak mampu menjangkaumu.

Mungkin mata Ayah tidak lagi mampu melihat langkahmu.

Tetapi doa tidak mengenal jarak.

Doa tidak membutuhkan alamat.

Doa bahkan tidak membutuhkan suara.

Ia hanya membutuhkan hati yang tulus.

Maka pergilah jika waktunya tiba, Nak.

Jangan menoleh terlalu sering hanya untuk memastikan apakah Ayah baik-baik saja.

Ayah akan baik-baik saja.

Meski mungkin ada ruang kosong yang diam-diam akan selalu menyimpanmu.

Pergilah dengan langkahmu sendiri.

Jika dunia menyambutmu dengan kebaikan, syukurilah.

Jika dunia menyakitimu, jangan menyerah.

Jika suatu hari engkau kehilangan arah, pulanglah.

Dan jika rumah sudah terlalu jauh untuk kau datangi, ingatlah:

Ada seorang ayah yang mungkin tidak lagi mampu memelukmu, tetapi namamu selalu memiliki tempat di dalam doanya.

Sebab bagi seorang ayah, menjaga seorang putri ternyata bukan tentang membuatnya selalu berada di dekatnya.

Melainkan tentang membesarkannya dengan cinta, membekalinya dengan nilai, lalu dengan hati yang bergetar menyerahkan masa depannya kepada Tuhan.

Ayah mencintaimu bukan untuk memilikimu.
Ayah menjagamu agar suatu hari engkau mampu berjalan tanpa Ayah.
Dan ketika hari itu tiba, satu-satunya yang Ayah minta kepada Tuhan hanyalah:

“Ya Allah, jika tangan ini tak lagi mampu menjaganya, jagalah ia dengan tangan-Mu. Jika mata ini tak lagi mampu melihat langkahnya, tuntunlah langkahnya. Dan jika suatu hari aku tak lagi bisa menyebut namanya dalam doa, jangan pernah berhenti menjaga dirinya.”

Itulah cinta Ayah kepadamu, Nak.

Tidak selalu terdengar.

Tidak selalu terlihat.

Tetapi semoga tidak pernah selesai.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments