Part 1 Membawa Gagasan Gonilan yang Lebih Terbuka, Produktif, dan Berdaya di Tengah Pesatnya Perkembangan Kawasan Kampus
LESINDO.COM – Ada kalanya sebuah keputusan tidak lahir dari ambisi untuk berkuasa, tetapi dari dorongan yang datang berulang kali dari masyarakat. Itulah yang akhirnya membawa Suhartoyo, atau yang akrab disapa Mas Yoyok, mengambil keputusan untuk maju dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Gonilan.
Selama dua periode pemilihan kepala desa sebelumnya, nama putra asli Gonilan kelahiran 16 Juni 1971 itu telah beberapa kali didorong masyarakat untuk maju. Namun saat itu ia memilih belum mengambil kesempatan tersebut. Kini, setelah dorongan kembali datang dan semakin kuat, Mas Yoyok akhirnya menyatakan kesiapannya menjadi bakal calon Kepala Desa Gonilan.
Sejumlah banner bergambar dirinya mulai terlihat di sejumlah titik memasuki wilayah Gonilan. Slogan yang dibawanya pun cukup sederhana, tetapi sarat makna:
“Bersama Warga Memajukan Gonilan.”
Di bawah slogan tersebut terdapat semangat lokal yang ingin ia hidupkan:
“Gonilan Sing Gerapyah, Semanak.”
Gonilan yang terus bergerak maju, tetapi tetap guyub, rukun, hangat, dan dekat dengan masyarakat.
Bukan Sekadar Mencari Jabatan
Bagi Mas Yoyok, maju dalam Pilkades bukan sekadar persoalan mendapatkan jabatan kepala desa. Ada persoalan yang ingin ia jawab dan ada potensi desa yang menurutnya harus mulai dikelola secara serius. Dorongan masyarakat selama dua periode sebelumnya menjadi salah satu alasan dirinya akhirnya bersedia tampil.
“Pokoke maju. Mas Yoyok sudah ditunggu-tunggu masyarakat. Dua periode pemilihan kepala desa sebelumnya sudah dijagokan, tetapi belum juga tergerak,” ungkap salah seorang relawan. Kini, ketika langkah itu telah diambil, Mas Yoyok membawa satu prinsip:
“Bersama Kita Bisa.”
Ia ingin pembangunan Gonilan tidak hanya bertumpu pada pemerintah desa, tetapi melibatkan masyarakat sebagai kekuatan utama. Sebab menurutnya, desa yang kuat bukan hanya karena pemerintahnya, tetapi karena masyarakatnya ikut merasa memiliki.
Gonilan Berubah, Pemerintah Desa Harus Berubah
Ada satu hal yang menjadi perhatian Mas Yoyok: perubahan wajah Gonilan.
Keberadaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan berkembangnya kawasan pendidikan di sekitar desa telah membawa dampak besar. Rumah kos tumbuh di berbagai sudut. Warung makan dan usaha kuliner semakin ramai. Pertokoan berkembang. Jasa bermunculan. Ribuan mahasiswa dan pendatang menjadi bagian dari aktivitas harian kawasan Gonilan.
Perubahan tersebut bagi Mas Yoyok bukan ancaman.
Justru sebaliknya, sebuah peluang besar.
Pertanyaannya adalah apakah masyarakat Gonilan akan menjadi pelaku atau hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi tersebut. “Kalau kampus berkembang, desa juga harus ikut berkembang. Jangan sampai masyarakat Gonilan hanya menjadi penonton.”
Karena itu, ia mendorong adanya komunikasi dan kerja sama yang lebih luas antara pemerintah desa, masyarakat, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta berbagai pihak lainnya. Pendidikan, ekonomi, kesehatan, budaya, lingkungan, dan UMKM menurutnya dapat menjadi ruang kerja sama yang saling menguntungkan.
Tanah Desa Jangan Hanya Menjadi Angka dalam Buku Aset
Salah satu gagasan yang cukup menonjol adalah bagaimana mengubah aset desa menjadi sumber manfaat ekonomi. Mas Yoyok menilai tanah kas desa dan lahan desa lainnya harus dikelola secara produktif. Lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi taman, ruang terbuka hijau, ruang publik, maupun kawasan usaha masyarakat.
Salah satunya melalui gagasan shelter UMKM.
Di tempat itu, pelaku usaha Gonilan dapat memasarkan makanan, kerajinan, maupun berbagai produk lokal.
Pasarnya sebenarnya sudah tersedia.
Mahasiswa, penghuni kos, masyarakat lokal, dan warga sekitar merupakan potensi konsumen yang besar. “UMKM di Gonilan sudah banyak. Tinggal memberikan wadah yang tepat,” ujarnya.
Bagi Mas Yoyok, aset desa jangan sampai hanya menjadi angka dalam buku administrasi. Aset harus hidup. Aset harus produktif. Dan manfaatnya harus kembali kepada masyarakat. Ketika Sampah Menjadi Persoalan, Mengapa Tidak Menjadi Peluang?
Pertumbuhan ekonomi selalu membawa konsekuensi.
Salah satunya adalah meningkatnya produksi sampah.
Semakin banyak rumah kos dan aktivitas masyarakat, semakin besar pula volume sampah yang dihasilkan. Persoalan tersebut, menurut Mas Yoyok, membutuhkan penanganan yang lebih profesional.
Tidak cukup hanya mengangkut sampah.
Masyarakat harus mulai dibiasakan memilah sampah dari sumbernya. Sampah organik dan anorganik dipisahkan. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali. Sampah yang dapat didaur ulang dikelola agar menghasilkan nilai tambah.
Pengelolaan tersebut dapat melibatkan masyarakat, kelompok warga, dan BUMDes. Bahkan, jika dikelola secara serius, persoalan sampah dapat menciptakan peluang ekonomi dan lapangan pekerjaan. Sampah tidak harus selalu menjadi masalah. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah bisa menjadi sumber nilai.
Menghidupkan Lahan yang Selama Ini Tidur Gonilan juga memiliki lahan-lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Bagi Mas Yoyok, lahan tersebut merupakan potensi yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Sebagian dapat dimanfaatkan untuk ketahanan pangan, penghijauan, ruang publik, maupun kegiatan produktif masyarakat. Konsep pembangunan yang ia tawarkan tidak hanya berorientasi pada beton dan bangunan.
Ada ruang hijau yang harus dipertahankan.
Ada lingkungan yang harus dijaga.
Ada pangan yang harus disiapkan.
Dan ada ekonomi masyarakat yang harus diperkuat.
Desa maju bukan sekadar desa yang semakin banyak bangunannya, tetapi desa yang masyarakatnya semakin berdaya.
Pemerintahan Harus Bisa Dilihat dan Diawasi
Gagasan Mas Yoyok juga menyentuh persoalan tata kelola pemerintahan desa. Ia ingin pelayanan masyarakat berjalan cepat, mudah, ramah, dan terjangkau. Informasi mengenai kegiatan dan pengelolaan keuangan desa harus dapat diketahui masyarakat secara terbuka. Media sosial, papan informasi, hingga jaringan komunikasi RT dan RW dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi publik.
Baginya, transparansi bukan sekadar slogan.
Masyarakat harus mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah desa, berapa anggarannya, dan bagaimana hasilnya. Ia juga ingin setiap laporan masyarakat mendapatkan respons dengan cepat.
Tidak ada pembiaran.
Tidak ada persoalan warga yang berhenti hanya karena laporan tidak ditindaklanjuti. Musyawarah menjadi jalan utama dalam menyelesaikan persoalan. Pemuda Harus Menjadi Mesin Perubahan Mas Yoyok juga memberi ruang besar bagi generasi muda. Karang Taruna menurutnya harus diperkuat menjadi organisasi yang mampu melahirkan kegiatan produktif.
Pemuda tidak cukup hanya menjadi pelaksana kegiatan seremonial.
Mereka harus diberi ruang untuk mengembangkan ekonomi kreatif, UMKM, olahraga, seni budaya, lingkungan, teknologi, hingga kegiatan sosial. Masa depan Gonilan berada di tangan generasi mudanya. Karena itu, pembangunan desa harus memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh dan mengambil peran.(Mac)

