spot_img
BerandaBudayaTangis Anak Suku Kamoro di Panggung Inagurasi

Tangis Anak Suku Kamoro di Panggung Inagurasi

Sekolah pelayaran yang kemudian dipilih menjadi tempat Fidelis melanjutkan pendidikan adalah pilihan Kak Dewi, kakak angkatnya di Jawa.

Dari Pesisir Mimika, Fidelis Kiripi Menyeberangi Jarak untuk Mengejar Cita-Cita Menjadi Pelaut

LESINDO.COM – Tepuk tangan terdengar ketika satu per satu taruna dipanggil menuju panggung. Mereka berdiri dengan gagah di hadapan guru, tamu undangan dan keluarga yang datang menyaksikan inagurasi.

Namun suasana tiba-tiba terasa berbeda ketika nama Fidelis Kiripi disebut.

Pemuda kelahiran Mimika, Papua Tengah, itu tidak segera bangkit dari kursinya.

Ia terdiam.

Kepalanya tertunduk. Matanya berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian air mata mengalir di pipinya.

Fidelis masih duduk.

Di hadapannya, para taruna lain berdiri ditemani orangtua. Ada ibu yang tersenyum bangga. Ada ayah yang mengabadikan momen dengan kamera telepon genggam. Ada pula keluarga yang memberikan tepuk tangan ketika anak mereka melangkah menuju panggung.

Fidelis tidak menemukan pemandangan yang sama.

Ayah dan ibunya berada jauh di tanah kelahiran, ribuan kilometer dari tempat ia berdiri.

Ia datang seorang diri menempuh perjalanan panjang dari Mimika untuk mengejar pendidikan di Jawa.

Di antara tamu undangan, seorang perempuan kemudian bangkit dari tempat duduknya.

Dewi.

Kakak angkat Fidelis.

Ia berjalan menghampiri Fidelis, merangkulnya dan memberikan kekuatan. Pelukan itu seperti mengembalikan keberanian yang sempat hilang.

“Ayo, maju.”

Fidelis akhirnya berdiri.

Langkahnya pelan menuju panggung.

Di depan semua orang, ia memperkenalkan diri.

“Saya Fidelis Kiripi, dari Mimika, Papua Tengah.”

Suaranya bergetar.

Tidak banyak kata yang keluar. Tetapi dari beberapa kalimat yang disampaikannya, tersirat sebuah tekad: ia ingin tetap sekolah dan kelak menjadi pelaut profesional.

Ketika ditanya mengapa menangis, Fidelis tidak menyembunyikan perasaannya.

Ia terharu melihat teman-temannya didampingi orangtua.

Sedangkan dirinya harus menjalani momen tersebut tanpa kehadiran ayah dan ibu.

Barangkali bagi sebagian orang, tangis itu terlihat sederhana.

Namun bagi Fidelis, tangis tersebut membawa seluruh kerinduan terhadap rumah.

Dari Rumah Panggung dan Pesisir Mimika

Fidelis lahir pada 20 Juli 2008.

Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara.

Kakak pertama telah bekerja, menikah dan memiliki dua anak. Kakak keduanya, perempuan, sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Kakak ketiganya membantu orangtua. Sementara adik laki-lakinya masih duduk di kelas II sekolah dasar di Mimika.

Keluarga Fidelis tinggal di kawasan Pomako, Cendrawasih, Mimika, Papua Tengah.

Ia berasal dari masyarakat Kamoro, masyarakat adat yang kehidupannya sangat dekat dengan pesisir, sungai, rawa, hutan mangrove dan laut.

Bagi masyarakat Kamoro, alam adalah bagian dari kehidupan.

Sagu menjadi salah satu sumber pangan penting. Hasil hutan dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Laut dan sungai menjadi tempat mencari ikan, kepiting dan udang.

Sejak kecil Fidelis telah akrab dengan kehidupan tersebut.

Ayahnya adalah seorang pengukir kayu.

Tangannya terbiasa mengolah kayu menjadi karya seni, termasuk patung bitoro, salah satu bentuk karya ukir yang lekat dengan tradisi masyarakat Kamoro.

Namun kehidupan keluarga tidak hanya bergantung pada hasil ukiran.

Ayah Fidelis juga mencari ikan di laut.

Sesekali Fidelis ikut merasakan pekerjaan tersebut. Ia mengenal laut bukan dari buku pelajaran, tetapi dari kehidupan sehari-hari.

Laut menjadi bagian dari masa kecilnya.

Dan mungkin tanpa disadarinya, laut pula yang kelak menjadi bagian dari cita-citanya.

Kakak angkatnya, Dewi, kemudian memeluk Fidelis dengan hangat. Pelukan itu menjadi bentuk dukungan sekaligus penguat hati bagi Fidelis yang telah menempuh perjalanan jauh dari Mimika, Papua Tengah, hingga ke Jawa.(mc)

Ketika Sekolah Menjadi Sebuah Kemewahan

Fidelis menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri Mapuru Jaya, Mimika.

Setelah lulus, ia melihat kenyataan yang tidak mudah.

Tidak semua teman sekolahnya dapat melanjutkan pendidikan.

Sebagian berhenti sekolah karena keterbatasan biaya dan sarana. Mereka kemudian memilih bekerja membantu keluarga.

Ada yang bekerja dalam aktivitas bongkar muat kendaraan pengangkut kayu.

Bagi mereka, menyambung hidup menjadi prioritas.

Fidelis pun memahami bahwa kesempatan bersekolah bukan sesuatu yang selalu mudah diperoleh.

Namun ibunya memiliki harapan lain.

Ia ingin Fidelis terus belajar.

Kelak, anaknya diharapkan dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan mampu mengangkat derajat keluarga.

Harapan itu akhirnya bertemu dengan sebuah kesempatan.

Dari Mama Lulu ke Kak Dewi

Sejak SMP, Fidelis memiliki seorang ibu angkat yang ia panggil Mama Lulu.

Hubungan itu bermula dari perkenalan keluarga Fidelis dengan Mama Lulu melalui ayahnya yang bekerja sebagai pengukir patung.

Dari hubungan itulah kemudian muncul kesempatan yang mengubah arah hidup Fidelis.

Setelah lulus SMP, Fidelis ditawari melanjutkan pendidikan ke Jawa. Biaya pendidikannya akan ditanggung.

Jawa menjadi dunia baru.

Jauh dari keluarga.

Jauh dari lingkungan pesisir yang selama ini membesarkannya.

Jauh dari kebiasaan hidup di Mimika.

Sekolah pelayaran yang kemudian dipilih menjadi tempat Fidelis melanjutkan pendidikan adalah pilihan Kak Dewi, kakak angkatnya di Jawa.

Fidelis menerima kesempatan itu.

Ia berangkat.

Menyeberangi Laut, Mengejar Masa Depan

Perjalanan dari Papua menuju Jawa adalah perjalanan panjang.

Dengan kapal, perjalanan dapat berlangsung berhari-hari. Sementara perjalanan menggunakan pesawat membutuhkan waktu berjam-jam dengan berbagai rute penerbangan.

Tetapi Fidelis tidak menjadikan jarak sebagai penghalang.

Ia tahu, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah cita-cita.

Meninggalkan keluarga.

Meninggalkan kampung.

Meninggalkan teman-teman.

Dan belajar hidup di lingkungan baru.

Semua itu dijalani demi satu tujuan: pendidikan.

Di sekolah pelayaran, Fidelis tidak hanya belajar teori.

Ia belajar disiplin.

Belajar bertanggung jawab.

Belajar menjadi seorang taruna.

Dunia yang dijalaninya sekarang juga menjadi persiapan menuju cita-cita yang telah ia simpan sejak lama.

Menjadi pelaut profesional.

Anak yang Memilih Jalan Berbeda

Fidelis sadar bahwa dirinya beruntung.

Tidak semua anak di kampungnya mendapatkan kesempatan yang sama.

Ia melihat sendiri sejumlah teman seangkatannya tidak dapat melanjutkan sekolah setelah SMP.

Bukan karena mereka tidak memiliki mimpi.

Kesempatanlah yang tidak selalu datang.

Karena itu, Fidelis ingin menjaga kesempatan tersebut.

Ia ingin terus belajar.

Ia ingin berhasil.

Bukan semata-mata untuk dirinya sendiri.

Ada orangtua yang menunggu keberhasilannya di Mimika.

Ada keluarga yang berharap suatu hari anak mereka dapat kembali membawa cerita tentang keberhasilan.

Ada kampung halaman yang ingin ia bawa dalam perjalanan hidupnya.

Dan ada sebuah cita-cita yang semakin jelas: menjadi pelaut.

Ketika Pelukan Menggantikan Kehadiran Orangtua

Di tengah lingkungan baru yang jauh dari keluarga, para guru menjadi bagian penting dalam menguatkan semangatnya untuk belajar, membentuk kedisiplinan, dan mengejar cita-cita menjadi pelaut profesional. (mc)

Kembali ke panggung inagurasi.

Setelah Fidelis menyampaikan beberapa patah kata, Dewi maju.

Di hadapan para guru dan tamu undangan, Dewi menitipkan Fidelis kepada sekolah.

Ia berharap Fidelis mendapat bimbingan, arahan dan perhatian selama menempuh pendidikan.

Kemudian Dewi memeluk Fidelis.

Erat.

Pelukan seorang kakak kepada adiknya yang sedang menempuh perjalanan jauh.

Pelukan itu mungkin tidak dapat menggantikan kehadiran ayah dan ibu.

Tetapi setidaknya menjadi bukti bahwa Fidelis tidak berjalan sendirian.

Di belakangnya ada orang-orang yang percaya.

Ada ibu yang menginginkan dirinya terus sekolah.

Ada ayah yang setiap hari bekerja sebagai pengukir kayu dan mencari ikan.

Ada Mama Lulu yang membuka jalan.

Ada Kak Dewi yang membawanya mengenal dunia pendidikan di Jawa.

Dan ada guru-guru yang kini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai

Fidelis mungkin baru memulai perjalanan.

Ia belum menjadi pelaut.

Ia belum mengarungi lautan sebagai seorang profesional.

Tetapi langkah pertama telah ia lakukan.

Ia berani meninggalkan tanah kelahirannya.

Berani menempuh jarak ribuan kilometer.

Berani belajar dalam lingkungan yang berbeda.

Dan berani membawa mimpi seorang anak Kamoro ke tempat yang jauh dari kampung halamannya.

Tangis Fidelis di panggung inagurasi mungkin akan menjadi salah satu kenangan yang tidak mudah dilupakan.

Bukan karena ia menangis.

Melainkan karena di balik tangis itu ada kerinduan seorang anak kepada orangtuanya dan keberanian untuk tetap melangkah meski harus jauh dari mereka.

Di Mimika, keluarganya mungkin sedang menunggu kabar.

Sementara di Jawa, Fidelis sedang menata masa depan.

Suatu hari nanti, ketika ia berdiri di atas geladak kapal, memandang laut yang terbentang tanpa batas, mungkin ia akan teringat pada pesisir tempat ia dibesarkan.

Pada ayahnya yang mengukir kayu.

Pada laut tempat ayahnya mencari ikan.

Pada ibunya yang selalu mendorongnya bersekolah.

Pada Mama Lulu.

Pada Kak Dewi.

Dan pada satu panggung inagurasi tempat air matanya pernah jatuh.

Dari pesisir Mimika, seorang anak Kamoro sedang belajar menaklukkan jarak.

Ia tidak sedang meninggalkan kampung halamannya. Ia sedang membawa harapan kampung halamannya menuju masa depan. (Fai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments